Jakarta, EKOIN.CO — PT Sarimelati Kencana Tbk (PZZA), pemegang lisensi waralaba Pizza Hut di Indonesia, berhasil mencatatkan kinerja positif pada kuartal I tahun 2025. Perusahaan membalikkan kondisi kerugian besar tahun lalu menjadi laba bersih sebesar Rp418,57 juta, atau mengalami penurunan kerugian hingga 99,28% dibandingkan rugi Rp58,67 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Pencapaian ini mencerminkan keberhasilan transformasi bisnis yang dijalankan perusahaan sejak tahun lalu. Selain perbaikan operasional, rugi per saham dasar juga menyusut tajam dari Rp19,52 menjadi hanya Rp0,14 per saham, mengindikasikan peningkatan efisiensi dan optimalisasi strategi internal.
CEO Pizza Hut Indonesia, Boy Lukito, menyatakan bahwa pertumbuhan kinerja ini merupakan hasil dari peluncuran produk inovatif yang disambut baik oleh konsumen.
“Kami tidak hanya pulih, kami bangkit lebih kuat. Inovasi berani, penguatan fundamental bisnis, dan dedikasi terhadap kualitas menjadi pilar utama transformasi kami. Kami siap untuk selalu memimpin pasar dan menginspirasi industri,” ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (7/5/2025).
Menu-menu baru yang dirilis dalam beberapa bulan terakhir mendapat respon antusias dari pelanggan. Boy menyebut dua menu andalan yang mendongkrak penjualan adalah Seriously Musangking, pizza dengan durian Musang King dan keju mozzarella, serta Pizza L1MO dan QU4RTZA dengan topping inovatif Dip n Crunch. Kombinasi cita rasa lokal dan pendekatan kreatif pada menu dinilai berhasil menarik perhatian pasar.
Seiring pertumbuhan pendapatan, penjualan bersih PZZA naik 10,80% menjadi Rp707,10 miliar dibandingkan kuartal yang sama tahun lalu sebesar Rp638,17 miliar. Segmen makanan masih menjadi penyumbang utama dengan kontribusi Rp665,72 miliar, sementara penjualan minuman tercatat Rp41,37 miliar.
Laba operasi juga menunjukkan pemulihan drastis, berbalik dari kerugian Rp60,14 miliar menjadi laba sebesar Rp11,58 miliar. Hal ini didorong oleh efisiensi beban penjualan yang menurun menjadi Rp451,01 miliar dari sebelumnya Rp453,23 miliar, serta beban umum dan administrasi yang juga turun ke Rp45 miliar dari Rp49,86 miliar.
Pendapatan operasi lainnya turut meningkat dari Rp11,27 miliar menjadi Rp14,22 miliar, sementara beban operasi lainnya sedikit menurun menjadi Rp1,20 miliar dari Rp1,30 miliar. Secara keseluruhan, ini mendukung peningkatan laba bruto yang mencapai Rp494,5 miliar atau naik 14,2% dari Rp432,9 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
Beban pokok penjualan meningkat tipis sebesar 3,5% secara tahunan menjadi Rp212,5 miliar, dari sebelumnya Rp205,1 miliar. Kenaikan ini dianggap wajar, mengingat adanya peningkatan aktivitas operasional, termasuk peluncuran menu baru dan ekspansi outlet.
Dalam strategi ekspansinya, Pizza Hut membuka dua gerai baru pada kuartal I/2025. Gerai pertama adalah Pizza Hut Restaurant di Gianyar, Bali, dan yang kedua adalah Pizza Hut Ristorante di Pakuwon Mall, Bekasi. Lokasi tersebut dipilih karena dinilai memiliki potensi pertumbuhan konsumsi yang tinggi, serta sebagai upaya memperkuat jangkauan merek di berbagai segmen pasar.
Boy Lukito menambahkan bahwa Pizza Hut Indonesia juga terus meningkatkan pengalaman pelanggan melalui renovasi outlet lama dan penyempurnaan layanan. “Fokus utama kami adalah menghadirkan pengalaman bersantap yang lebih nyaman dan berkesan bagi pelanggan,” tegasnya.
Selain pertumbuhan finansial, perusahaan juga mengusung nilai sosial melalui program tanggung jawab sosial perusahaan. Dalam kuartal pertama tahun ini, program Pizza Hut Peduli 8P kembali dijalankan, dengan memberdayakan lebih dari 50 ibu rumah tangga melalui pelatihan mengolah minyak jelantah dari outlet Pizza Hut Delivery menjadi aromaterapi ramah lingkungan.
“Kami percaya bahwa keberhasilan sejati datang saat bisnis dan masyarakat tumbuh bersama. Semangat berbagi, memberdayakan, dan memberi dampak nyata selalu menjadi DNA kami,” ujar Boy, menegaskan komitmen sosial perusahaan dalam membangun hubungan jangka panjang dengan komunitas.
Dari sisi neraca, total aset perusahaan per 31 Maret 2025 tercatat sebesar Rp2,11 triliun, sedikit menurun dari Rp2,13 triliun pada akhir Desember 2024. Penurunan ini terjadi seiring dengan optimalisasi aset dan pelunasan beberapa kewajiban jangka pendek.
Jumlah liabilitas perusahaan juga tercatat menurun menjadi Rp1,09 triliun dari sebelumnya Rp1,11 triliun. Penurunan ini menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menyeimbangkan beban utang dengan kinerja kas yang membaik.
Sementara itu, total ekuitas perusahaan tetap terjaga stabil di level Rp1,019 triliun, mengalami sedikit peningkatan dari Rp1,018 triliun pada akhir 2024. Konsistensi ini mencerminkan kekuatan struktur permodalan yang tetap sehat di tengah proses pemulihan operasional.





