Jakarta, EKOIN.CO – Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) menggelar peringatan Hari Penyiaran Nasional (Harsiarnas) ke-92 secara khusus hari ini, bertepatan dengan Hari Lahir Pancasila. Momen ini dipilih sebagai simbol sinergi antara nilai-nilai kebangsaan dan pentingnya menjaga kualitas penyiaran nasional di tengah tantangan era digital dan disrupsi media.
Ketua KPI Pusat, Ubaidillah, menjelaskan bahwa peringatan Harsiarnas yang biasanya digelar setiap 1 April, tahun ini diselenggarakan pada 1 Juni karena dinilai lebih relevan secara momentum. “Hari ini adalah Hari Lahir Pancasila, sehingga kami melihat adanya kolaborasi nilai antara semangat kebangsaan dan urgensi menjaga penyiaran nasional yang sehat dan berkualitas,” ujarnya dalam pembukaan Rapat Koordinasi Nasional KPI.
Rakornas KPI tahun ini dihadiri oleh seluruh perwakilan KPI dari berbagai daerah di Indonesia, serta melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk KPID DKI Jakarta, Asosiasi APPSI, dan sejumlah instansi kementerian seperti Kementerian Komunikasi dan Informatika serta Kementerian Agama.
Koordinator Bidang Kelembagaan KPI, Made Sumarta, yang juga menjadi penanggung jawab Rakornas, menyebutkan bahwa forum ini menjadi ruang untuk merumuskan solusi atas berbagai tantangan penyiaran, mulai dari disrupsi teknologi, ketimpangan regulasi antara media konvensional dan digital, hingga pengurangan tenaga kerja di sejumlah lembaga penyiaran.
“Kita ingin cari jalan keluar bersama. Kami sebagai regulator tidak bisa berjalan sendiri. Harus ada sinergi antara KPI, KPID, lembaga penyiaran, pemerintah pusat dan daerah, serta masyarakat,” kata Made.
Salah satu isu utama yang dibahas adalah perlunya revisi terhadap Undang-Undang Penyiaran yang saat ini sudah berusia 23 tahun. Ubaidillah menegaskan bahwa regulasi saat ini belum mampu menjangkau media baru, sehingga menimbulkan ketimpangan pengawasan dan potensi ketidakadilan.
“Media baru belum diatur dan diawasi sebagaimana lembaga penyiaran. Ini tidak adil. Kami berharap DPR sebagai pihak yang sedang merumuskan RUU Penyiaran bisa membuka ruang diskusi luas dengan masyarakat, akademisi, dan seluruh pemangku kepentingan,” tegasnya.
Selain agenda Rakornas dan forum diskusi, peringatan Harsiarnas ke-92 juga diisi dengan kegiatan olahraga bersama dan kampanye siaran sehat. Kegiatan ini diharapkan menjadi bentuk nyata dari semangat kolaborasi dan edukasi publik.
Acara juga turut dihadiri oleh sejumlah tokoh nasional, seperti Ketua Umum PSSI Imam Sudjarwo dan Ketua Umum PBSI, yang sempat disebut oleh Ubaidillah sebagai sahabat dekat yang mendukung misi penyiaran sehat dan nasionalis.





