JAKARTA, EKOIN.CO— Dalam rangka memperkuat sistem pendidikan dan kesehatan nasional, dua kementerian besar, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek), secara resmi membentuk Komite Bersama (KOMBERS) pada Selasa (1/7/2025).
Pembentukan KOMBERS dilakukan di Jakarta dan disaksikan langsung oleh para pejabat tinggi dari kedua kementerian serta sejumlah perwakilan perguruan tinggi dan fasilitas kesehatan.
KOMBERS dibentuk sebagai langkah strategis untuk meningkatkan mutu pendidikan, penelitian, dan pelayanan kesehatan yang terintegrasi dan berkeadilan di seluruh Indonesia.
Langkah ini merupakan respons terhadap ketimpangan yang masih terjadi dalam penyediaan layanan kesehatan, terutama di wilayah luar ibu kota dan kawasan terpencil.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyampaikan bahwa tantangan utama yang dihadapi sistem kesehatan saat ini adalah soal akses, kualitas, dan biaya.
Ketimpangan Layanan Kesehatan Jadi Sorotan
Budi menegaskan bahwa baru sekitar 80 dari 514 kabupaten/kota yang memiliki layanan penyakit katastropik setara ibu kota.
“Masyarakat Sukabumi atau Semarang masih harus ke Jakarta untuk layanan jantung. Itu artinya sistem kita belum adil dan merata,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa jika masyarakat terus bergantung pada kota besar untuk layanan prioritas, maka keadilan layanan tidak akan pernah tercapai.
Untuk itu, pemerintah sedang mengembangkan 66 RSUD dan melengkapi fasilitas kesehatan di kabupaten/kota dengan alat seperti CT scan dan cath lab.
Langkah ini diharapkan dapat memastikan penanganan penyakit stroke dan jantung dilakukan secara merata di seluruh wilayah.
Infrastruktur dan Pembiayaan Didorong Bersamaan
Selain penguatan infrastruktur, Budi menyampaikan bahwa revisi terhadap regulasi JKN dan skema tarif BPJS Kesehatan sedang dalam proses.
Ia menekankan bahwa pembiayaan harus berbasis pada prioritas penyakit penyelamat nyawa, bukan sekadar jumlah tindakan medis.
“Kalau sistem pembiayaannya tidak mendukung, akses kesehatan tetap tidak terjangkau meski alatnya ada,” tambah Menkes Budi.
Namun demikian, menurutnya, tantangan besar lain adalah keterbatasan sumber daya manusia kesehatan, terutama dokter spesialis.
“Alatnya siap, pembiayaannya siap, tapi jumlah dan distribusi SDM kita masih sangat kurang,” ujarnya.
Tenaga Medis Jadi Fokus Prioritas
Budi menekankan bahwa distribusi tenaga medis yang timpang membuat masyarakat terpaksa bepergian jauh untuk mendapatkan layanan.
Ia pun mendorong perguruan tinggi untuk lebih aktif mencetak dokter dan tenaga medis berkualitas.
Kemenkes mengajak seluruh sektor pendidikan untuk bekerja sama dalam penguatan kualitas dan kuantitas tenaga kesehatan.
Peluncuran KOMBERS menurutnya adalah wadah sinergi untuk mengatasi hambatan di sistem kesehatan berbasis data dan inovasi
Budi berharap KOMBERS bisa menghubungkan ekosistem pendidikan, riset, dan layanan kesehatan dalam satu koordinasi.
Gotong Royong Lintas Sektor Diutamakan
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Prof. Brian Yuliarto turut menekankan pentingnya kolaborasi antarsektor.
Menurutnya, tantangan kesehatan terlalu kompleks untuk diselesaikan secara sektoral atau sepihak.
“Kita perlu duduk bersama, mengesampingkan ego sektoral, dan fokus pada solusi yang konkret dan segera bisa dijalankan,” tegas Prof. Brian.
Ia menilai peluncuran KOMBERS menjadi titik awal integrasi pendidikan, penelitian, dan layanan kesehatan secara menyeluruh.
Prof. Brian menekankan bahwa gotong royong adalah prinsip utama dalam membangun sistem kesehatan nasional yang tangguh.
Inklusivitas dan Inovasi Diutamakan
Menurut Prof. Brian, semua pemangku kepentingan perlu dilibatkan, termasuk pemerintah daerah, swasta, dan komunitas ilmiah.
Ia mendorong agar perguruan tinggi aktif membangun sistem yang responsif terhadap realitas di lapangan.
“Permasalahan kesehatan itu kompleks. Butuh pendekatan lintas ilmu. Peneliti bidang lain harus ikut terlibat,” ujarnya.
Brian menyebut bahwa reformasi sistem kesehatan tidak bisa hanya bergantung pada fakultas kedokteran.
Kolaborasi lintas bidang, seperti teknologi dan kebijakan publik, harus menjadi bagian integral dari solusi.
Pendidikan Dokter Spesialis Ditingkatkan
Sebagai bagian dari reformasi tersebut, Kemendiktisaintek sedang merumuskan kebijakan peningkatan kapasitas pendidikan spesialis.
Kebijakan ini ditujukan untuk mengurangi ketimpangan tenaga spesialis antara kota besar dan daerah terpencil.
Peluncuran KOMBERS dinilai menjadi momentum strategis dalam mewujudkan pendidikan dan layanan kesehatan inklusif.
Prof. Brian menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa komite ini bukan sekadar forum diskusi, melainkan motor perubahan.
“Peluncuran Komite Bersama ini adalah langkah awal menuju sistem pendidikan dan kesehatan yang lebih inklusif, efektif, dan bermartabat,” katanya.(*)
Berlangganan gratis WANEWS EKOIN lewat saluran WhatsUp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v





