Jakarta, EKOIN.CO – Guru Besar Universitas Indonesia (UI), Prof. Yon Machmudi menjelaskan Indonesia menjadi salah satu negara yang cukup terdampak perang antara Iran dan Israel.
Dampak tersebut dirasakan terhadap terganggunya penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
“Pasti APBN juga akan terguncang, terkoreksi. Nah, ini kan menjadi persoalan sendiri walaupun konflik di sana, tapi kita masih menggantungkan dengan minyak, akhirnya secara ekonomi semua sektor akan terkoreksi,” kata Prof Yon kepada Eddy Wijaya dalam podcast EdShareOn yang tayang pada Rabu, 2 Juli 2025.
Akademisi kelahiran Jombang, Jawa Timur, 17 September 1973 itu menjelaskan, dampak ekonomi akibat perang tersebut terjadi akibat kemungkinan langkanya minyak bumi. Hal tersebut memicu terjadinya krisis global tanpa kecuali di Indonesia.
“Kalau enggak (harga) minyak melonjak, emas juga melonjak, kemudian rupiah pasti mengalami penurunan,” kata Prof Yon.
Oleh karena itu, Prof Yon berharap Indonesia yang merupakan negara importir minyak harus memperkuat komunikasi serta diplomasi dengan negara-negara di Kawasan Timur Tengah sebagai pengekspor minyak dunia.
“Kita juga berkepentingan suplai minyak aman sampai ke kita dan tidak terjadi lonjakan yang besar karena pasti dampaknya secara ekonomi,” ucapnya.
Sebelumnya diketahui, menanggapi adanya kekhawatiran terhadap meningkatnya ketegangan dalam konflik Iran-Israel yang dinilai akan membawa risiko ekonomi global, Ekonom Senior FEB UGM, Dr. Revrisond Baswir menilai bahwa dampak langsungnya terhadap perekonomian Indonesia tidak terlalu signifikan, kecuali jika negara-negara besar seperti Amerika Serikat, Cina, Perancis, atau Rusia ikut terlibat secara terbuka dalam konflik tersebut.
“Dampak konflik Iran-Israel terhadap perekonomian global sangat tergantung pada sejauh mana negara-negara besar terpancing masuk. Kalau keterlibatan mereka meningkat, barulah risiko global naik tajam. Namun untuk Indonesia, dampak langsungnya tidak terlalu besar,” ujar Revrisond dalam keterangan seperti dikutip dari website UGM ugm.ac.id pada Rabu (2/7).
Dalam menghadapi ketidakstabilan ekonomi global seperti ini, menurutnya, tantangan utama Indonesia justru terletak pada persoalan internal. Menurutnya, Indonesia harus fokus pada transparansi, pemberantasan korupsi, pengurangan kesenjangan sosial, dan penciptaan lapangan kerja.
“Itu lebih krusial daripada efek eksternal,” tegasnya.
Sementara terkait adanya lonjakan harga komoditas akibat konflik, Revrisond menilai dampaknya terhadap ekspor Indonesia dan neraca perdagangan nasional masih relatif ringan dibandingkan dengan perang tarif yang pernah dilancarkan oleh Presiden AS Donald Trump.
“Harga minyak naik, tapi efeknya tidak separah saat perang tarif dulu. Kita masih cukup bisa bertahan,” ujarnya. ()





