EKOIN.CO
  • BERANDA
  • EKOBIS
    • EKONOMI
    • KEUANGAN
    • INDUSTRI
    • INFRASTRUKTUR
    • PERTANIAN
    • PROPERTI
    • UMKM
    • PROFIL
    • ENERGI
  • PERISTIWA
    • INTERNASIONAL
    • NASIONAL
    • MEGAPOLITAN
    • KRIMINAL
    • OPINI
    • SOSIAL
    • BREAKING NEWS
    • LINGKUNGAN
  • POLKUM
    • POLITIK
    • HUKUM
    • LIPUTAN KHUSUS
    • CEK FAKTA
    • BERITA FOTO
    • BERITA VIDEO
  • HIBURAN
    • KEGIATAN
    • DESTINASI
    • KESEHATAN
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SELEBRITI
    • MUSIK
  • RAGAM
    • EBOOK
    • EDUKASI
    • HIKMAH
    • SENI & BUDAYA
    • TIPS
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
EKOIN.CO
  • BERANDA
  • EKOBIS
    • EKONOMI
    • KEUANGAN
    • INDUSTRI
    • INFRASTRUKTUR
    • PERTANIAN
    • PROPERTI
    • UMKM
    • PROFIL
    • ENERGI
  • PERISTIWA
    • INTERNASIONAL
    • NASIONAL
    • MEGAPOLITAN
    • KRIMINAL
    • OPINI
    • SOSIAL
    • BREAKING NEWS
    • LINGKUNGAN
  • POLKUM
    • POLITIK
    • HUKUM
    • LIPUTAN KHUSUS
    • CEK FAKTA
    • BERITA FOTO
    • BERITA VIDEO
  • HIBURAN
    • KEGIATAN
    • DESTINASI
    • KESEHATAN
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SELEBRITI
    • MUSIK
  • RAGAM
    • EBOOK
    • EDUKASI
    • HIKMAH
    • SENI & BUDAYA
    • TIPS
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
EKOIN.CO
Beranda EKOBIS
Ketegangan Global Dorong Investasi Masuk Indonesia

Ketegangan Global Dorong Investasi Masuk Indonesia

Ketegangan geopolitik global mendorong relokasi investasi asing. Indonesia dinilai potensial karena SDA dan SDM unggul.

Akmal Solihannoer oleh Akmal Solihannoer
4 Juli 2025
Kategori EKOBIS, EKONOMI
0
A A
0
Share on FacebookShare on Twitter

Jakarta
EKOIN.CO – Ketegangan geopolitik global terus memberikan dampak signifikan terhadap pola aliran investasi asing, termasuk ke Indonesia. Dalam rapat kerja bersama Komisi VII DPR RI pada Rabu, 2 Juli 2025, Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza menyatakan bahwa dinamika global mendorong investor asing untuk bersikap lebih hati-hati, sehingga memunculkan tekanan terhadap stabilitas ekonomi nasional.

Arus masuk investasi asing masih berlangsung, tetapi investor kini mempertimbangkan aspek keamanan dan keberlanjutan dalam mengambil keputusan. Faisol menjelaskan bahwa potensi Indonesia tetap besar karena kekayaan sumber daya alam (SDA) dan sumber daya manusia (SDM) yang kuat.

Tekanan Geopolitik Pengaruhi Pola Investasi Global

Dalam pernyataannya, Faisol menyebut ketegangan geopolitik sebagai pendorong utama relokasi investasi dari negara produsen besar ke kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Menurutnya, ini adalah bagian dari strategi diversifikasi dan pengurangan ketergantungan terhadap satu negara produksi.

“Ketegangan geopolitik mendorong relokasi investasi dari negara produsen besar ke Asia Tenggara sebagai bagian dari strategi mereka,” kata Faisol saat rapat di Jakarta, Rabu (2/7/2025).

Berita Menarik Pilihan

Fokus Investor Terhadap Saham Energi dan Telekomunikasi, Dominasi Perdagangan di BEI

Demi Pertamax Green, Pertamina Lobi Kemenkeu Hapus Cukai Etanol di 120 Terminal BBM

Selain itu, tekanan dari investasi hijau juga menjadi pertimbangan utama. Ia menekankan bahwa krisis energi global membuat sejumlah negara memprioritaskan keamanan energi jangka pendek, yang pada akhirnya memengaruhi arah investasi asing secara keseluruhan.

Dari data yang dikutipnya berdasarkan laporan UNCTAD, tercatat bahwa investasi asing langsung (Foreign Direct Investment/FDI) di negara berkembang menurun sebesar 4%. Pada 2025 nilainya tercatat sebesar US$ 622 miliar, turun dari US$ 605 miliar pada tahun sebelumnya.

Namun, di tengah penurunan tersebut, kawasan Asia Tenggara justru menunjukkan tren sebaliknya. Tercatat adanya peningkatan investasi sebesar 10% dari US$ 205 miliar menjadi US$ 225 miliar.

Indonesia Tarik Minat Investor Berkat Posisi Strategis

Faisol juga mengutip data dari Council Foreign Relations, yang menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan besar dari Amerika Serikat dan Uni Eropa mulai mengalihkan basis produksi mereka ke Asia Tenggara. Hal ini merupakan sinyal positif bagi Indonesia sebagai salah satu tujuan relokasi.

Ia menyoroti bahwa pangsa pasar Tiongkok sebagai basis produksi global mengalami penurunan signifikan, dari 61% pada tahun 2019 menjadi 42% di kuartal pertama 2025. Sebaliknya, Asia Tenggara mengalami lonjakan pangsa pasar dari 14% menjadi 26% pada periode yang sama.

“Ini sinyal positif bahwa strategi relokasi dan diversifikasi basis produksi ini menjadi pilihan utama dalam mengurangi ketergantungan suatu negara,” ujar Faisol.

Lebih lanjut, menurutnya kondisi tersebut memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global. Strategi perluasan investasi yang dilakukan perusahaan multinasional dinilai sesuai dengan profil Indonesia sebagai negara dengan cadangan sumber daya dan tenaga kerja yang kompetitif.

Contoh konkret dari pergeseran ini sudah mulai terlihat pada industri panel surya. Faisol menjelaskan bahwa beberapa perusahaan telah merelokasi fasilitas produksi mereka dari Tiongkok ke negara-negara ASEAN, termasuk Indonesia.

Salah satu relokasi tersebut melibatkan perusahaan-perusahaan seperti PT Lesso New Energi, Pertamina NRE, PT Tinra Mas Agro, dan PT Thornova Solar Indonesia, yang kini menjalin kemitraan strategis dalam proyek-proyek energi baru terbarukan.

Walau nilai ekspor panel surya Indonesia ke Amerika Serikat masih relatif kecil, yaitu sekitar US$ 0,47 miliar pada 2024, potensi Indonesia sebagai lokasi produksi alternatif dinilai sangat besar. Posisi ini diperkuat dengan meningkatnya kerja sama antara investor asing dan mitra lokal Indonesia.

Faisol menekankan bahwa tren relokasi ini harus dimanfaatkan secara maksimal oleh pemerintah dan pelaku industri nasional. Ia berharap langkah strategis ini dapat mempercepat pertumbuhan industri manufaktur dan sektor hilirisasi sumber daya.

Dalam konteks ini, ia mendorong penyediaan regulasi dan kebijakan yang adaptif terhadap perubahan global, termasuk dukungan terhadap investasi yang bersifat hijau dan berkelanjutan.

Ia menambahkan, “Indonesia tidak boleh pasif melihat perubahan ini. Kita harus menjadi bagian dari solusi global dan pusat produksi alternatif yang kredibel.”

Saran dari Faisol mencakup pembenahan ekosistem investasi nasional, penyederhanaan perizinan, peningkatan kapasitas tenaga kerja, serta penguatan insentif fiskal dan non-fiskal bagi investor asing.

Pemerintah diminta untuk terus memantau perkembangan geopolitik dan ekonomi global agar bisa merespons secara cepat terhadap perubahan pola investasi. Di sisi lain, penting juga bagi pemerintah daerah untuk mempersiapkan infrastruktur dan kawasan industri yang mendukung investasi jangka panjang.

Faisol menutup pernyataannya dengan keyakinan bahwa Indonesia akan tetap menjadi pemain penting dalam arsitektur ekonomi regional dan global, apabila mampu menyesuaikan diri dengan cepat terhadap tantangan dan peluang yang muncul.

Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v

Sebagai bentuk langkah strategis, Indonesia perlu mengidentifikasi sektor-sektor prioritas yang bisa menerima relokasi investasi dalam waktu dekat. Bidang seperti energi terbarukan, manufaktur hijau, dan teknologi digital berpeluang besar menarik investor baru.

Pemerintah juga dapat memperkuat kemitraan dengan sektor swasta lokal, agar investor asing memiliki mitra yang mampu mengelola proyek-proyek strategis jangka panjang. Kejelasan hukum dan stabilitas regulasi akan menjadi faktor penentu dalam hal ini.

Penguatan diplomasi ekonomi menjadi unsur kunci dalam memperluas pengaruh Indonesia di kancah internasional. Hubungan bilateral dan multilateral harus dimanfaatkan untuk mengamankan posisi Indonesia dalam rantai pasok global.

Diperlukan pendekatan yang lebih kolaboratif antar lembaga pemerintah dalam menyambut investasi asing. Harmonisasi kebijakan lintas sektor menjadi kebutuhan mutlak untuk menjamin efisiensi dan kepastian bagi investor.

Kesimpulannya, ketegangan geopolitik membuka peluang baru bagi Indonesia untuk menjadi pusat produksi regional. Dengan kesiapan infrastruktur, SDM yang kompetitif, dan dukungan kebijakan yang kuat, Indonesia berada dalam posisi strategis untuk memimpin pertumbuhan investasi asing di Asia Tenggara.(*)

 

Tags: Asia Tenggaraindustri hijauinvestasi asingketegangan geopolitikpanel suryarelokasi produksi
Post Sebelumnya

5 Golongan Ini Tak Dapat BSU Rp600.000

Post Selanjutnya

Virus Hanta Ditemukan di 4 Provinsi Indonesia

Akmal Solihannoer

Akmal Solihannoer

Berita Terkait

BEI Hentikan Sementara Perdagangan Saham BLUE dan ENZO di Seluruh Pasar

Fokus Investor Terhadap Saham Energi dan Telekomunikasi, Dominasi Perdagangan di BEI

oleh Akmal Solihannoer
7 Februari 2026
0

Jakarta, Ekoin.co - Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) diproyeksikan bergerak positif dengan fokus investor tertuju pada saham sektor...

Pertamina mendesak percepatan izin pembebasan cukai di 120 terminal BBM guna mendukung ekspansi produk Pertamax Green yang lebih kompetitif. (Foto: Istimewa/Ekoin.co)

Demi Pertamax Green, Pertamina Lobi Kemenkeu Hapus Cukai Etanol di 120 Terminal BBM

oleh Hasrul Ekoin
6 Februari 2026
0

Pertamina saat ini memiliki ratusan titik distribusi yang berpotensi mengadopsi skema serupa apabila regulasi cukai disederhanakan.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini, Jumat, 6 Februari 2026, ditutup anjlok signifikan di zona merah.

IHSG Kembali Tersungkur di Zona Merah pada Sesi Penutupan Pekan ini, Apa Penyebabnya

oleh Ainurrahman
7 Februari 2026
0

Namun tenaga itu tak bertahan lama. Tekanan jual kembali datang hingga indeks terperosok ke level terendah 7.888,17. Memasuki sesi berjalan,...

Pertumbuhan Ekonomi Jakarta Capai 5,21 Persen, Lebih Tinggi dari Pemerintah Pusat

Pertumbuhan Ekonomi Jakarta Capai 5,21 Persen, Lebih Tinggi dari Pemerintah Pusat

oleh Ridwansyah
6 Februari 2026
0

Jakarta, Ekoin.co - Pertumbuhan ekonomi di Jakarta dipastikan melebih pemerintah pusat. Pasalnya berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik perekonomian Jakarta pada...

Post Selanjutnya
Virus Hanta Ditemukan di 4 Provinsi Indonesia

Virus Hanta Ditemukan di 4 Provinsi Indonesia

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

EKOIN.CO

EKOIN.CO - Media Ekonomi Nomor 1 di Indonesia

  • REDAKSI
  • IKLAN
  • MEDIA CYBER
  • PETA SITUS
  • KEBIJAKAN PRIVASI
  • PERSYARATAN LAYANAN
  • KODE ETIK JURNALISTIK

© 2025 EKOIN.CO
Media Ekonomi No. 1 di Indonesia
Developed by logeeka.id.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • BERANDA
  • EKOBIS
    • EKONOMI
    • KEUANGAN
    • INDUSTRI
    • INFRASTRUKTUR
    • PERTANIAN
    • PROPERTI
    • UMKM
    • PROFIL
    • ENERGI
  • PERISTIWA
    • INTERNASIONAL
    • NASIONAL
    • MEGAPOLITAN
    • KRIMINAL
    • OPINI
    • SOSIAL
    • BREAKING NEWS
    • LINGKUNGAN
  • POLKUM
    • POLITIK
    • HUKUM
    • LIPUTAN KHUSUS
    • CEK FAKTA
    • BERITA FOTO
    • BERITA VIDEO
  • HIBURAN
    • KEGIATAN
    • DESTINASI
    • KESEHATAN
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SELEBRITI
    • MUSIK
  • RAGAM
    • EBOOK
    • EDUKASI
    • HIKMAH
    • SENI & BUDAYA
    • TIPS
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI

© 2025 EKOIN.CO
Media Ekonomi No. 1 di Indonesia
Developed by logeeka.id.