Rio de Janeiro EKOIN.CO – Hasil otopsi kedua atas jenazah Juliana Marins yang dilakukan di Brasil menuai penolakan dari pihak keluarga. Mereka merasa tidak mendapatkan informasi resmi terlebih dahulu, melainkan mengetahuinya lebih dulu melalui pemberitaan media lokal. Hal ini kembali memicu pertanyaan dari keluarga terkait penyebab pasti kematian wanita berusia 26 tahun tersebut.
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v
Juliana Marins merupakan pendaki asal Brasil yang tewas setelah jatuh ke jurang saat mendaki Gunung Rinjani, Lombok, Indonesia, pada 21 Juni 2025. Meskipun sudah dilakukan autopsi di Rumah Sakit Bali Mandara, Denpasar, hasil tersebut belum memuaskan keluarga.
Menurut laporan TV Globo, jasad Juliana langsung dibawa ke Institut Medis Legal (IML) Afranio Peixoto, Rio de Janeiro, pada Selasa (1/7/2025) untuk autopsi ulang. Pemeriksaan dilakukan oleh tim forensik dengan pengawasan dari perwakilan keluarga serta ahli dari Kepolisian Federal Brasil.
Penolakan keluarga atas hasil otopsi
Kakak kandung Juliana, Mariana Marins, menyatakan bahwa keluarganya sama sekali belum menerima hasil resmi saat pemberitaan mengenai hasil autopsi sudah menyebar. “Keluarga tidak menerima apa pun,” ujarnya kepada Globo.
Pihak keluarga mengungkap bahwa hasil otopsi versi Brasil seharusnya menjadi penentu terakhir penyebab kematian Juliana. Namun, laporan dari media justru menyebutkan bahwa waktu kematian tidak bisa ditentukan secara presisi, hanya diperkirakan terjadi 10 hingga 15 menit setelah korban jatuh.
Berdasarkan laporan itu, disebutkan juga bahwa dalam kondisi luka parah, Juliana tidak mungkin mampu meminta pertolongan secara efektif. Hal ini dinilai serupa dengan hasil pemeriksaan di Indonesia yang sempat dirilis sebelumnya.
Namun, Mariana Marins mengaku baru akan menerima dokumen resmi hasil otopsi pada Jumat (11/7/2025). “Sudah dijadwalkan untuk Jumat,” ujarnya, menyiratkan ketidakpuasan karena informasi lebih dulu beredar di publik sebelum diterima oleh keluarga.
Kepolisian Brasil bantah bocoran dokumen
Kepolisian Sipil Brasil membantah keras tudingan bahwa mereka telah membocorkan hasil otopsi ke media. Menurut pernyataan resmi, dokumen hasil autopsi tidak pernah dipublikasikan ke pihak luar dan hanya dibahas secara internal dengan perwakilan keluarga yang hadir saat otopsi.
“Seorang perwakilan dari pihak keluarga turut hadir dalam otopsi dan mengikuti pertemuan pada Selasa untuk membahas hasil akhir, serta telah mengetahui semua kesimpulan,” demikian pernyataan resmi kepolisian.
Sementara itu, Kepolisian Rio de Janeiro menyatakan bahwa dokumen hasil autopsi sudah masuk ke dalam proses penyidikan yang kini bersifat rahasia. “Dokumen tersebut telah dimasukkan ke dalam proses yang sedang berlangsung dan bersifat rahasia,” tambah mereka.
Kronologi jatuhnya Juliana di Rinjani
Peristiwa tragis bermula saat Juliana Marins mendaki Gunung Rinjani, Lombok, dan dilaporkan jatuh ke dalam jurang pada 21 Juni 2025. Saksi mata menyebutkan bahwa ia masih dalam keadaan hidup sesaat setelah jatuh.
Namun, evakuasi medis yang sangat lambat membuat kondisi Juliana memburuk. Tim SAR baru berhasil mengevakuasi jenazahnya pada Rabu (25/6/2025), atau hampir 90 jam setelah insiden terjadi. Kondisi medan dan cuaca ekstrem disebut menjadi kendala utama dalam proses penyelamatan.
Pihak keluarga menilai adanya dugaan kelalaian dalam penanganan awal serta lambannya proses evakuasi. Karena itu, mereka menuntut otopsi kedua demi mengusut kemungkinan kesalahan prosedur atau tindakan yang memperburuk keadaan.
Tubuh Juliana sempat dibalsem sebelum dipulangkan ke Brasil. Ia diterbangkan dengan pesawat Emirates dari Indonesia ke São Paulo, lalu menggunakan pesawat Angkatan Udara Brasil (FAB) menuju Rio de Janeiro.
Setelah tiba di Brasil, keluarga menolak melakukan kremasi dan memilih menyimpan jenazah untuk kemungkinan dilakukan otopsi lanjutan, jika diperlukan. Tindakan ini diambil sebagai bentuk antisipasi bila muncul bukti atau keterangan baru.
Meski dua hasil autopsi dari Indonesia dan Brasil menunjukkan kesimpulan yang serupa, pihak keluarga tetap menuntut klarifikasi yang lebih terperinci dan keterbukaan informasi dari seluruh otoritas terkait.
Sejauh ini, belum ada pernyataan lanjutan dari otoritas Indonesia mengenai respons atas tuntutan keluarga Juliana. Namun proses hukum di Brasil dipastikan akan terus berjalan hingga kasus ini tuntas.
Pemerintah Brasil sendiri belum mengeluarkan komentar resmi mengenai perbedaan penilaian antara keluarga korban dan aparat terkait hasil penyelidikan yang telah dilakukan di dua negara.
Kondisi ini semakin mempersulit penyelesaian kasus karena melibatkan lintas yurisdiksi antara Indonesia dan Brasil. Sementara itu, perhatian publik dan media tetap tinggi terhadap perkembangan peristiwa ini.
Pihak keluarga berharap agar seluruh proses dapat berlangsung transparan dan semua pertanyaan mereka dijawab secara tuntas oleh pihak berwenang. Mereka menekankan pentingnya keadilan dan hak atas informasi yang layak sebagai keluarga korban.
Keluarga Juliana juga menyatakan bahwa mereka akan terus berupaya mendapatkan kejelasan meskipun hal tersebut memerlukan waktu dan prosedur hukum yang panjang. Mereka menilai hak keluarga korban untuk mendapatkan kebenaran harus dihormati sepenuhnya.
Kejadian ini memunculkan kembali wacana tentang pentingnya peningkatan sistem penyelamatan dan evakuasi di jalur pendakian berisiko tinggi seperti Gunung Rinjani. Banyak pihak kini menyoroti kesiapan Indonesia dalam menghadapi situasi darurat di destinasi wisata alam.
Penanganan informasi dan komunikasi resmi dari pihak berwenang juga turut menjadi sorotan, karena dapat mempengaruhi persepsi keluarga korban dan publik internasional dalam menyikapi suatu insiden.
Dalam kondisi seperti ini, sangat diperlukan sinergi antarnegara dalam menyelesaikan persoalan hukum dan kemanusiaan agar tidak terjadi salah paham atau ketegangan diplomatik yang tidak perlu.
Kejadian ini mengingatkan bahwa keselamatan wisatawan harus selalu menjadi prioritas, termasuk sistem informasi darurat yang efektif dan transparan dari awal kejadian hingga proses akhir.
kasus Juliana Marins menunjukkan pentingnya sinergi komunikasi antara pihak rumah sakit, kepolisian, dan keluarga korban. Transparansi informasi dan kecepatan penanganan medis menjadi hal vital dalam menjaga kepercayaan publik. Ketidaksesuaian waktu pengumuman hasil autopsi dapat menciptakan ketegangan emosional yang tidak perlu.
Prosedur evakuasi yang panjang dan sulit di kawasan ekstrem seperti Gunung Rinjani menuntut evaluasi menyeluruh dari otoritas terkait. Persiapan logistik dan sumber daya penyelamatan harus ditingkatkan untuk menghindari kejadian serupa. Penerapan SOP internasional dalam penanganan wisatawan asing juga perlu diperkuat.
Ketidakterbukaan dalam penyampaian hasil pemeriksaan medis justru menimbulkan spekulasi baru, memperpanjang kesedihan keluarga. Ketepatan waktu dan media penyampaian informasi menjadi hal yang krusial untuk dipertimbangkan oleh otoritas ke depan.
Pihak keluarga korban berhak memperoleh seluruh informasi secara langsung, bukan melalui pemberitaan. Hal ini bukan hanya soal prosedur, tetapi juga menyangkut empati dan rasa hormat terhadap mereka yang berduka.
bagi semua pihak, termasuk pemerintah, adalah memastikan bahwa penanganan wisatawan di wilayah berisiko tinggi perlu diprioritaskan dengan pendekatan yang terintegrasi. Sistem koordinasi antara SAR, medis, dan diplomatik harus bekerja selaras untuk menjamin keselamatan dan keadilan bagi semua pihak yang terdampak.(*)





