Jakarta, EKOIN.CO – Di tengah kesulitan ekonomi yang melanda Republik Kongo dan Republik Demokratik Kongo, sekelompok orang tetap mempertahankan gaya hidup unik: tampil stylish dengan pakaian mewah meski hidup serba pas-pasan. Mereka adalah anggota La Sape (Société des Ambianceurs et des Personnes Élégantes), komunitas yang menjadikan fashion sebagai bentuk ekspresi diri dan kebanggaan.
Berasal dari era kolonial Belgia-Prancis, La Sape bermula ketika pekerja Kongo menerima pakaian bekas dari majikan Eropa mereka. Seiring waktu, gaya berpakaian ala “pria Prancis” ini berkembang menjadi gerakan budaya. Para sapeur (anggota pria) dan sapeuses (anggota wanita) kerap terlihat mengenakan jas desainer ternama, sepatu kulit mahal, serta aksesoris seperti topi bowler dan tongkat, meski profesi mereka sehari-hari hanyalah supir taksi, petani, atau tukang kayu.
“Saya merasa nyaman dengan setelan Ozwald Boateng saya. Bagi saya, La Sape adalah soal kebersihan dan martabat,” kata Aime Champaigne, seorang sapeur, seperti dilansir dari Al Jazeera.
Meski dihormati sebagai bagian dari identitas budaya Kongo, La Sape tak lepas dari kritik. Banyak yang menganggap gaya hidup ini tidak rasional, terutama ketika anggotanya rela menabung bertahun-tahun demi membeli satu setelan jas senilai ribuan dolar. “Mereka lebih memilih membeli kemeja seharga US$100-200 ketimbang menabung untuk rumah, motor, atau mobil,” ungkap Tariq Zaidi, fotografer dan penulis buku Sapeurs: Ladies and Gentlemen of the Congo, dalam wawancara dengan Vogue Scandinavia.
Bagi para sapeur, keaslian dan gaya adalah segalanya. Mereka menolak memakai barang tiruan dan percaya bahwa penampilan elegan mampu membawa kebahagiaan serta kepercayaan diri. Gerakan ini juga dianggap sebagai bentuk perlawanan terhadap kemiskinan dan penindasan, sekaligus cara menegaskan identitas di tengah keterbatasan.





