Jakarta, EKOIN.CO – Permintaan energi global diprediksi melonjak seiring pertumbuhan penggunaan kendaraan listrik. Hal ini disampaikan Kepala Organisasi Riset Tenaga Nuklir (ORTN) BRIN, Syaiful Bakhri, dalam “Periklindo EV Conference 2025” di Jimbaran, Kamis (10/7).
Syaiful menjelaskan bahwa kendaraan listrik dan energi nuklir saling melengkapi. Energi nuklir dapat menyuplai listrik secara konstan selama 24 jam tanpa gangguan dan mendukung kestabilan sistem energi nasional yang rendah emisi karbon.
Ia menyebutkan bahwa pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) adalah sumber energi bersih yang bisa mendorong transisi menuju energi terbarukan. PLTN dinilai mampu menyediakan daya yang handal untuk menopang pertumbuhan kendaraan listrik.
Sebagai gambaran, satu pelet uranium dengan berat kurang dari 10 gram menghasilkan energi setara dengan satu ton batu bara. Menurut Syaiful, PLTN menghasilkan emisi karbon 161 kali lebih kecil dibandingkan batu bara untuk kapasitas 1 GWh.
Syaiful menggarisbawahi bahwa efisiensi penggunaan lahan juga menjadi keunggulan PLTN, khususnya tipe Small Modular Reactor (SMR). SMR dinilai cocok untuk menyuplai kebutuhan industri dan kawasan terpencil.
PLTN Siap Bangun di Kalimantan dan Sumatra
BRIN menargetkan pembangunan PLTN dimulai antara tahun 2032 hingga 2034, dengan kapasitas 500 megawatt. Proyek ini dirancang untuk mendukung komitmen Indonesia mencapai energi bersih pada tahun 2060.
“PLTN akan dibangun di Sumatra dan Kalimantan. Ini merupakan langkah strategis dalam memenuhi kebutuhan listrik nasional dengan emisi karbon minimal,” jelas Syaiful di hadapan peserta konferensi.
Ia menambahkan, Indonesia telah mempersiapkan komersialisasi PLTN sejak 1965. Kini, kesiapan teknologi dan infrastruktur mendukung realisasi proyek tersebut dengan lebih mantap dan transparan.
“Indonesia sudah siap dengan 19 infrastruktur pendukung. Salah satunya mencakup teknologi PLTN, bahan bakar, dan pengelolaan limbah. Setiap fase harus kita kawal bersama, mulai dari persiapan hingga fase operasi,” ujarnya.
Syaiful menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam memastikan setiap tahapan berjalan dengan baik. Ia menilai keberhasilan PLTN bergantung pada partisipasi aktif masyarakat dan pemerintah.
Fondasi Energi untuk Ekosistem Mobil Listrik
PLTN, menurutnya, menjadi pilar utama dalam membangun ekosistem kendaraan listrik skala besar yang berkelanjutan. Ketersediaan energi yang stabil dinilai krusial dalam menghadapi peningkatan konsumsi listrik akibat pertumbuhan mobil listrik.
Syaiful mengingatkan bahwa teknologi energi terbarukan saat ini masih memerlukan dukungan dari sistem penyimpanan dan jaringan listrik pintar. PLTN dapat melengkapi sistem ini dengan kemampuan pasokan stabil.
“PLTN bisa menyuplai kebutuhan listrik untuk mobil listrik dalam skala besar tanpa membebani jaringan. Bila terintegrasi efektif, tenaga nuklir akan memperkuat masa depan kendaraan listrik yang ramah lingkungan,” ujar Syaiful.
Ia juga menyadari bahwa PLTN memiliki tantangan, termasuk biaya tinggi dan pengelolaan limbah nuklir. Namun, dengan pendekatan portofolio energi bersih yang terdiversifikasi, PLTN tetap layak dipertimbangkan.
“PLTN bukan solusi tunggal. Tapi dengan komitmen jangka panjang dan integrasi yang tepat, PLTN akan berperan penting dalam transformasi energi Indonesia,” pungkasnya dalam penutupan konferensi.
Pertumbuhan kendaraan listrik mendorong peningkatan permintaan listrik nasional, dan energi nuklir hadir sebagai solusi jangka panjang yang stabil, bersih, dan efisien. BRIN menilai PLTN, khususnya tipe SMR, memiliki potensi besar untuk mendukung masa depan energi Indonesia.
Pembangunan PLTN dengan target operasional 2032–2034 merupakan bagian dari strategi transisi menuju energi bersih tahun 2060. Dukungan infrastruktur dan kesiapan teknologi menjadi faktor utama yang menegaskan kesiapan Indonesia dalam memulai era energi nuklir.
Meskipun memiliki tantangan, PLTN tetap menjadi opsi penting dalam portofolio energi nasional. Keberhasilannya sangat ditentukan oleh konsistensi kebijakan, keterlibatan masyarakat, dan komitmen lintas sektor dalam mengawal seluruh tahap pembangunan hingga pengoperasian.(*)





