New Delhi EKOIN.CO – India tengah mengembangkan pesawat pengebom berkemampuan jangkauan ultra jauh yang mampu menempuh lebih dari 12.000 kilometer tanpa pengisian bahan bakar. Pesawat tersebut akan dilengkapi dengan rudal BrahMos dan menjadi bagian dari proyek strategis yang disebut Ultra Long-Range Strike Aircraft (ULRA), sebagaimana dilaporkan berbagai media India pada Senin, 15 Juli 2025.
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v
Pesawat ini dirancang untuk menjangkau target di seluruh dunia, termasuk Amerika Serikat, Eropa, Afrika, dan Australia. Tujuan dari proyek ini adalah memperkuat kemampuan serangan India dari udara dalam konteks peperangan modern yang semakin kompleks.
Seorang pejabat senior Angkatan Udara India menyatakan bahwa saat ini India sudah memiliki sistem serangan nuklir dari darat dan laut, namun masih kekurangan kemampuan penyerangan dari udara dalam skala global. “Tiga serangkai nuklir kami mencakup wilayah darat dan laut dengan baik, tetapi kami juga membutuhkan platform yang dapat menyerang dari mana saja di udara,” ujarnya.
Desain Canggih dan Teknologi Siluman
Pesawat ULRA ini diproyeksikan memiliki desain sayap ayun, yang dapat berubah bentuk saat terbang untuk menyesuaikan dengan kecepatan dan efisiensi bahan bakar. Fitur ini memungkinkan pesawat melakukan penerbangan jarak jauh tanpa harus mengorbankan kemampuan manuver.
Dalam laporan pertahanan terbaru, Kementerian Pertahanan India menyebutkan bahwa perang masa kini tidak lagi terbatas pada wilayah darat dan laut saja, melainkan juga mencakup dimensi baru seperti udara jarak jauh, ruang angkasa, dan serangan siber. Karena itu, pengembangan ULRA menjadi kebutuhan strategis nasional.
Pesawat tersebut akan dilengkapi teknologi siluman dan sistem penghindaran radar, serta sistem penerbangan otomatis. Teknologi ini bertujuan agar pesawat dapat menembus pertahanan musuh tanpa terdeteksi dan menyerang dengan presisi tinggi.
Northrop Grumman B-21 Raider milik Amerika Serikat memiliki jangkauan sekitar 9.300 kilometer, sementara India menargetkan pesawatnya melampaui batas tersebut. Hal ini akan menjadikan India satu-satunya negara Asia yang mampu meluncurkan serangan udara jarak jauh antarbenua.
Belajar dari Rusia dan China
India mengambil pelajaran dari desain pesawat pengebom TU-160 ‘Blackjack’ milik Rusia. Pesawat tersebut dikenal sebagai pengebom supersonik terberat dan tercepat di dunia dengan jangkauan sekitar 12.300 kilometer dan kapasitas angkut hingga 40 ton.
“TU-160 adalah model yang kami pelajari secara regional. Kami sedang mempertimbangkan bagaimana mengadaptasi teknologi itu sesuai kebutuhan operasional kami,” kata seorang insinyur dari Organisasi Riset dan Pengembangan Pertahanan India (DRDO).
Sementara itu, pesawat H-20 milik China juga menjadi perhatian India karena pengembangannya yang cepat dan ambisius. Hal ini mendorong India untuk mempercepat program ULRA guna mengimbangi kekuatan udara regional yang terus berkembang.
Para analis pertahanan menilai proyek ini sebagai perubahan signifikan dari pendekatan pertahanan regional menjadi strategi antarbenua. ULRA akan menjadi game changer dalam postur militer India jika berhasil direalisasikan dalam waktu dekat.
Program ini juga sejalan dengan kebijakan pertahanan India yang mulai berfokus pada modernisasi dan diversifikasi alat utama sistem senjata (alutsista), baik dari segi teknologi maupun kemampuan tempur.
Selain rudal BrahMos, pesawat ini juga akan dirancang untuk dapat mengangkut berbagai jenis senjata konvensional dan nuklir, meningkatkan fleksibilitas dalam operasi strategis.
Dengan adanya kemampuan ULRA, India berharap dapat meningkatkan daya gentar terhadap potensi ancaman dari negara-negara besar maupun konflik regional yang memerlukan respons cepat dan jangkauan jauh.
Pemerintah India belum mengumumkan jadwal pasti peluncuran atau purwarupa dari ULRA, namun berbagai sumber menyebutkan bahwa tahap perencanaan teknis telah dimulai dan dilakukan secara rahasia.
Sejumlah kontraktor pertahanan dalam negeri dilaporkan telah dilibatkan dalam proyek ini, dengan dukungan dari lembaga penelitian militer dan teknologi tinggi pemerintah India.
Dalam waktu dekat, India juga berencana menggelar pameran teknologi militer untuk menunjukkan kemajuan berbagai proyek strategis, termasuk pesawat ULRA, kepada publik dan mitra pertahanan luar negeri.
Langkah ini diperkirakan akan meningkatkan posisi India di tingkat global sebagai salah satu negara dengan kekuatan udara strategis paling berkembang di dunia.
Dengan kemampuan menembus wilayah jauh tanpa perlu pengisian bahan bakar, India ingin menegaskan bahwa kekuatannya tidak hanya terbatas pada kawasan Asia Selatan, tetapi juga mencakup wilayah strategis lainnya.
Keberhasilan pengembangan ULRA akan memperluas pilihan strategis India dalam merespons dinamika geopolitik, termasuk potensi konflik di Samudra Hindia, Laut Cina Selatan, dan kawasan Indo-Pasifik.
Selain itu, pesawat ini juga berpotensi menjadi alat diplomasi militer bagi India dalam menjalin kerja sama pertahanan dengan negara-negara sahabat yang memiliki kepentingan keamanan bersama.
ULRA menjadi simbol ambisi militer India yang sedang bergerak menuju kekuatan udara global. Jika berhasil dilaksanakan, proyek ini akan menempatkan India dalam daftar negara dengan teknologi militer paling maju di dunia.
India perlu memastikan bahwa pengembangan ULRA tetap selaras dengan prinsip keamanan regional dan tidak memicu perlombaan senjata yang dapat memperburuk ketegangan di Asia. Transparansi dan komunikasi terbuka dengan negara tetangga penting untuk menjaga stabilitas kawasan.
bagi India adalah memperkuat ekosistem riset dalam negeri agar teknologi strategis seperti ULRA tidak bergantung pada impor. Kemandirian teknologi akan menjadi fondasi utama kekuatan militer masa depan.
Kerja sama dengan negara mitra seperti Rusia dan Prancis dapat terus dijajaki untuk meningkatkan transfer teknologi, namun prioritas tetap harus diberikan kepada inovasi dalam negeri yang sesuai dengan kebutuhan medan tempur India.
Terakhir, India disarankan untuk mengintegrasikan pengembangan ULRA ke dalam strategi pertahanan jangka panjang secara bertahap, dengan memperhitungkan anggaran, sumber daya manusia, serta dinamika global yang terus berubah. ( * )





