Jakarta, EKOIN.CO – Gubernur Jakarta Pramono Anung mengumumkan rencana menyulap sejumlah lokasi mangkrak di ibu kota menjadi taman hijau yang terinspirasi dari High Line, ruang publik populer di New York City, Amerika Serikat. Hal tersebut disampaikan Pramono dalam unggahan video di akun Instagram resminya, @pramonoanungw, yang dikutip pada Senin, 21 Juli 2025.
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v
Dalam video berdurasi sekitar dua menit itu, Pramono terlihat tengah berada langsung di kawasan High Line. Ia menjelaskan bagaimana bekas rel kereta tua yang terbengkalai diubah menjadi taman terbuka yang kini menjadi ruang publik favorit warga dan turis di New York.
“Sekarang saya sedang ada di High Line New York. Dulunya (lokasi ini) adalah rel kereta, kemudian mangkrak, dan dibuatlah taman di sepanjang jalan di tempat yang mangkrak ini. Dan ini menginspirasi bagi saya pribadi,” ucap Pramono dalam video tersebut.
Ia menambahkan bahwa potensi ruang serupa di Jakarta sangat besar. Menurutnya, ruang-ruang kosong yang tak terpakai di ibu kota memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi area hijau yang bermanfaat untuk publik.
Pramono menyebut beberapa tempat di Jakarta yang selama ini terbengkalai, seperti area kolong jalan tol, bisa disulap menjadi taman layaknya High Line. Ia menilai proses penataan tersebut tidak terlalu sulit dilakukan jika mendapat dukungan lintas sektor.
“Langsung kepikiran diapain. Yang kayak gini-gini (tempat mangkrak) di Jakarta banyak banget ini. Sama kolong-kolong tol kita buat kayak gini gampang banget,” tambahnya.
Rencana ini juga menandakan keinginan Pemprov Jakarta dalam memperluas ruang terbuka hijau (RTH) sekaligus menciptakan ruang sosial baru bagi masyarakat. Upaya tersebut sejalan dengan visi pembangunan berkelanjutan yang diusung oleh pemerintah daerah.
Inspirasi dari Proyek Ikonik High Line
Proyek High Line sendiri dibangun di atas rel kereta tua sepanjang hampir 2,3 kilometer yang terbengkalai sejak 1980-an. Proyek ini diubah menjadi taman layang dan resmi dibuka secara bertahap sejak tahun 2009. Hingga kini, High Line menjadi salah satu ikon urban renewal di New York.
Melihat kesuksesan proyek tersebut, Pramono berharap dapat menerapkan konsep serupa di Jakarta. Tidak hanya mempercantik kota, taman-taman ini juga diharapkan menjadi ruang interaksi warga serta pusat aktivitas sosial dan budaya.
Dalam kunjungannya ke High Line, Pramono tidak sendirian. Ia didampingi oleh Atika Nur Rahmania, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Jakarta, yang juga memberikan penjelasan mengenai langkah-langkah teknis yang akan ditempuh.
Identifikasi Lokasi oleh Wali Kota
Menurut Atika, langkah pertama dalam pelaksanaan program ini adalah mengidentifikasi aset pemerintah kota yang bisa dioptimalkan. Identifikasi akan dilakukan oleh para wali kota di tiap wilayah administratif Jakarta.
“Semua identifikasinya harus dilakukan oleh wali kota. Di mana saja aset kita yang bisa dimanfaatkan. Paparan ke Bapak (Gubernur), kemudian kita tetapkan KPI-nya,” ujar Atika dalam video yang sama.
Langkah ini akan memastikan bahwa proyek revitalisasi taman benar-benar sesuai kebutuhan lingkungan setempat dan mampu menjawab tantangan urbanisasi yang terus berkembang.
Meski belum disampaikan secara rinci lokasi mana saja yang akan menjadi pilot project, namun sinyal dari pernyataan ini cukup kuat bahwa Pemprov Jakarta tengah menyusun rencana aksi konkret. Terlebih, kawasan seperti kolong tol dan area non-produktif menjadi sorotan utama.
Saat ini, Jakarta tercatat masih kekurangan ruang terbuka hijau. Menurut data yang tersedia, proporsi RTH di Jakarta baru mencapai sekitar 10 persen dari total luas wilayah, masih jauh dari target ideal sebesar 30 persen sesuai amanat UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang.
Dengan menjadikan ruang terbengkalai sebagai taman hijau, Jakarta berpotensi menambah luasan RTH tanpa harus mengorbankan ruang permukiman atau pembangunan lainnya.
Selain aspek lingkungan, taman-taman publik ini juga berpeluang menjadi ruang promosi budaya, UMKM, dan kegiatan sosial warga. Dengan penataan yang baik, ruang tersebut bisa menjadi magnet baru yang menghidupkan kembali kawasan yang sebelumnya terlupakan.
Gagasan ini juga membuka peluang kolaborasi dengan sektor swasta dan komunitas masyarakat. Banyak perusahaan maupun kelompok warga yang dapat dilibatkan dalam pengelolaan dan pemeliharaan taman.
Di sisi lain, tantangan dalam pelaksanaan tentu tetap ada. Di antaranya adalah legalitas penggunaan lahan, pembiayaan pembangunan, dan pemeliharaan jangka panjang.
Namun, jika berhasil dieksekusi, program ini akan menjadi tonggak baru dalam wajah pembangunan Jakarta yang berorientasi pada manusia, bukan semata-mata infrastruktur.
Langkah Gubernur Pramono ini memperlihatkan pendekatan berbeda dari proyek-proyek besar sebelumnya. Fokusnya bukan pada pembangunan baru, melainkan optimalisasi dan transformasi ruang yang selama ini tak dimanfaatkan.
Rencana ini juga mencerminkan pergeseran paradigma pembangunan kota dari berbasis kendaraan ke berbasis pejalan kaki dan interaksi sosial. Konsep ini diyakini dapat memperkuat kohesi sosial di tengah kepadatan ibu kota.
Dengan pendekatan berbasis komunitas dan inspirasi internasional, Jakarta punya peluang besar membangun ruang hidup yang lebih sehat, inklusif, dan lestari. Pemprov kini tinggal memastikan eksekusi program tepat sasaran dan tepat waktu.
Meningkatkan keterlibatan warga dalam proses desain dan pemanfaatan taman juga akan menjadi kunci keberhasilan. Ketika warga merasa memiliki, keberlanjutan proyek bisa lebih terjamin.
Terakhir, dengan menyulap tempat terbengkalai menjadi ruang hijau yang berfungsi, Jakarta bisa menjadi contoh kota besar yang mampu memanfaatkan keterbatasan sebagai peluang inovatif untuk masa depan.
Rencana pengembangan taman hijau di lokasi mangkrak Jakarta oleh Gubernur Pramono Anung menunjukkan komitmen terhadap pembangunan berkelanjutan dan revitalisasi urban. Inspirasi dari proyek High Line di New York menjadi dorongan utama dalam merancang transformasi ruang publik ibu kota. Identifikasi lokasi oleh wali kota akan menjadi tahap awal untuk mengukur potensi optimalisasi aset daerah. Kolaborasi lintas sektor menjadi elemen penting yang harus dibangun dalam pelaksanaan proyek ini. Upaya ini diharapkan mampu menjawab kebutuhan akan ruang terbuka hijau sekaligus menambah nilai sosial dan budaya kota.
Pemerintah Provinsi Jakarta perlu segera menyusun peta jalan yang jelas dan realistis untuk menghindari hambatan implementasi di lapangan. Partisipasi warga sangat penting untuk memastikan proyek ini sesuai kebutuhan komunitas dan mampu bertahan dalam jangka panjang. Evaluasi berkala dan transparansi proses perencanaan juga menjadi syarat penting agar proyek berjalan sesuai harapan. Pemerintah juga bisa melibatkan akademisi dan profesional tata kota guna memperkuat aspek teknis serta estetika desain taman. Menjaga keberlanjutan taman yang dibangun harus menjadi komitmen jangka panjang agar tak kembali terbengkalai di masa mendatang. (*)





