Jakarta, EKOIN.CO – Kerja sama antara Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dengan Guangzhou Institute of Geochemistry (GIG) Chinese Academy of Sciences (CAS) dalam bidang geologi diharapkan mampu menjadi fondasi penting dalam mendorong pembangunan berkelanjutan. Pertemuan kedua lembaga berlangsung di Kawasan Sains dan Teknologi B.J. Habibie, Tangerang Selatan, Kamis (17/7).
Dalam pertemuan tersebut, Kepala Organisasi Riset Kebumian dan Maritim (ORKM) BRIN, Ocky Karna Radjasa, menyampaikan pentingnya memperluas serta memperkuat upaya kolaborasi antarnegara, khususnya di bidang ilmu kebumian. Ia menjelaskan bahwa struktur BRIN merupakan hasil integrasi dari berbagai lembaga riset nasional.
“BRIN memiliki tiga peran utama, yaitu mengintegrasikan sumber daya inovasi, sumber daya manusia, infrastruktur, dan pendanaan. Di samping itu juga menciptakan ekosistem penelitian yang terbuka, inklusif, dan kolaboratif,” jelas Ocky dalam sambutannya.
Ia menambahkan, ORKM membawahi sembilan pusat riset dengan cakupan fokus pada geologi, geofisika, dan kelautan. Salah satunya adalah Stasiun Penelitian Merlin yang berada di Pulau Pari, Kepulauan Seribu. Wilayah tersebut dinilai penting dalam pengembangan riset geologi kelautan.
“Sudah saatnya upaya kolaboratif di bidang ilmu kebumian, khususnya geologi, diperluas dan diperkuat,” ujar Ocky. Ia juga berharap pertemuan ini menjadi langkah awal untuk membentuk kerja sama strategis yang berkesinambungan.
Fokus Penelitian Wilayah Asia Tenggara
Dalam kesempatan yang sama, Yang Yu dari GIG CAS memaparkan fokus penelitiannya mengenai Mantle Plume in the Curved Subduction System in Southeast Asia. Program ini menyasar dinamika lempeng bumi yang kompleks di wilayah Asia Tenggara.
“Dua program utamanya berfokus pada sistem subduksi yang melengkung di sekitar Laut Cina Selatan serta interaksi antara pluma mantel dan slab subduksi,” kata Yang Yu saat menyampaikan materi presentasi. Program tersebut mulai dijalankan tahun ini dan direncanakan berlanjut di tahun berikutnya.
Program riset ketiga GIG CAS menargetkan zona transisi antara Shandak dan Bandak. Wilayah ini memiliki dua jenis subduksi yang berbeda sehingga penting untuk diteliti lebih lanjut. Lokasi riset diperluas ke wilayah selatan Jawa hingga Pulau Timor.
“Target utama kami berada di wilayah timur, khususnya dari selatan Jawa hingga Pulau Timor. Di wilayah inilah kami berupaya mengamati dinamika geokimia,” papar Yang Yu.
Ia juga menyampaikan rencana penelitian tambahan di wilayah Jawa Tengah dengan mengambil sampel artefak yang memiliki keterkaitan dengan mineralisasi tembaga. Hal ini diharapkan dapat mendukung temuan geokimia di wilayah timur.
Harapan Kolaborasi Berkelanjutan
Program ini disebut-sebut memiliki potensi besar dalam mengungkap dinamika bumi Indonesia yang berada di wilayah tektonik aktif. Yang Yu mengaku bertanggung jawab langsung terhadap proses daur ulang geokimia yang menjadi bagian utama riset.
Dalam kesempatan akhir presentasi, ia menyampaikan harapan untuk membangun hubungan kerja sama yang lebih erat antara institusinya dengan BRIN. Ia menilai Indonesia memiliki potensi sumber daya geologi yang sangat besar.
“Kami sangat menantikan terjalinnya kerja sama yang lebih erat antara Guangzhou Institute of Geochemistry dan BRIN pada masa mendatang,” ucap Yang Yu menutup presentasi.
Pertemuan yang berlangsung selama satu hari itu diakhiri dengan sesi diskusi terbuka antara tim riset BRIN dan delegasi GIG CAS. Diskusi tersebut membahas potensi wilayah riset dan strategi pengambilan sampel yang akan dilakukan pada tahap lanjutan.
Ocky Karna menyampaikan bahwa pihaknya siap mendukung langkah-langkah lanjutan dalam bentuk kerja sama riset bersama. Ia menegaskan bahwa BRIN membuka diri terhadap kerja sama internasional, khususnya di bidang geosains.
Kerja sama antara BRIN dan GIG CAS merupakan salah satu langkah penting dalam membangun kolaborasi riset lintas negara. Fokus penelitian yang diarahkan ke wilayah subduksi Indonesia selaras dengan kepentingan nasional dalam mengelola potensi kebumian.
Dengan latar belakang BRIN sebagai lembaga riset integratif dan GIG CAS sebagai lembaga riset internasional yang mapan, sinergi ini dapat mempercepat temuan-temuan baru di bidang geokimia dan geotektonik. Wilayah seperti selatan Jawa hingga Pulau Timor dinilai sangat strategis.
Langkah konkret seperti pengambilan sampel, pengembangan pusat riset bersama, dan pembentukan tim studi gabungan menjadi indikator awal keberhasilan. Jika dilakukan secara berkelanjutan, kerja sama ini mampu membawa manfaat ilmiah sekaligus ekonomi bagi kedua negara.(*)





