WASHINGTON EKOIN.CO – Pencipta ChatGPT, Sam Altman, mengungkap potensi bahaya teknologi kecerdasan buatan (AI) yang kini bisa meniru suara manusia dan mengancam sistem keamanan keuangan global. Dalam forum yang digelar bersama Federal Reserve dan perwakilan lembaga keuangan besar Amerika Serikat, Altman memperingatkan masih banyak institusi yang menggunakan rekaman suara sebagai metode autentikasi transaksi finansial.
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v
Altman menegaskan bahwa sistem autentikasi suara ini rentan dibobol oleh teknologi AI yang kini mampu menirukan suara manusia dengan tingkat kemiripan sangat tinggi. “Hal yang membuat saya sangat khawatir adalah masih ada lembaga keuangan yang menerima rekaman suara sebagai metode autentikasi untuk memindahkan sejumlah besar uang atau melakukan transaksi lainnya,” ujar Altman, Rabu (30/7/2025), dikutip dari CNN.
Ia menyatakan kekhawatiran terhadap kemungkinan terjadinya krisis penipuan dalam waktu dekat akibat penyalahgunaan AI. “Anda hanya mengucapkan frasa tertentu, dan mereka langsung mengeksekusinya,” imbuh Altman. Menurutnya, metode autentikasi tersebut sudah sepenuhnya dikalahkan oleh teknologi AI, kecuali penggunaan kata sandi.
Peringatan FBI dan Kasus Kloning Suara
Peringatan dari Altman mendapat dukungan dari data FBI, yang sebelumnya telah mengingatkan masyarakat tentang meningkatnya kasus penipuan berbasis AI. Salah satu metode penipuan yang mulai marak adalah penggunaan kloning suara dan video, bahkan untuk menipu orang tua dengan meniru suara anak mereka.
Salah satu kasus terbaru melibatkan suara buatan AI yang meniru suara Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio. Suara palsu tersebut dilaporkan digunakan untuk menghubungi sejumlah pejabat tinggi, memunculkan kekhawatiran akan potensi manipulasi dalam urusan pemerintahan maupun bisnis.
Meski menyuarakan kekhawatiran, Altman menegaskan bahwa perusahaannya, OpenAI, tidak mengembangkan alat untuk meniru suara. Namun, ia mengakui bahwa tantangan keamanan di era AI ini sangat kompleks dan harus diantisipasi segera.
Sebagai solusi, Altman mendukung penggunaan alat verifikasi berbasis biometrik seperti The Orb. Alat ini diklaim mampu membuktikan apakah seseorang benar-benar manusia atau bukan, dalam era digital yang semakin sulit membedakan antara realitas dan rekayasa teknologi.
Kekhawatiran Soal Superintelligence dan Dunia Kerja
Selain isu penipuan, Altman juga menyoroti bahaya lain dari AI, yakni potensi hilangnya kendali manusia atas sistem kecerdasan super atau superintelligence. Menurutnya, jika manusia menyerahkan terlalu banyak kekuasaan kepada sistem AI canggih, maka risiko yang ditimbulkan bisa jauh lebih besar.
Ia menyebut, perusahaan teknologi saat ini tengah berlomba mengembangkan superintelligence. Meski begitu, Altman menilai masih belum ada definisi pasti tentang apa itu superintelligence atau kapan sistem tersebut akan tercapai.
Pada kesempatan yang sama, Altman mengomentari dampak AI terhadap dunia kerja. Ia tidak terlalu khawatir bahwa AI akan menghilangkan banyak pekerjaan, berbeda dengan CEO Anthropic Dario Amodei dan CEO Amazon Andy Jassy yang telah menyuarakan kekhawatiran terkait isu tersebut.
“Banyak prediksi yang terdengar sangat cerdas,” kata Altman. Namun menurutnya, prediksi tersebut tidak bisa diandalkan karena sistem yang dihadapi terlalu kompleks dan teknologi yang digunakan sangat baru sehingga sulit diprediksi.
Altman menegaskan bahwa ketidakpastian adalah ciri utama dalam pengembangan AI saat ini. Ia percaya bahwa prediksi soal masa depan AI dan dampaknya terhadap ekonomi hanyalah spekulasi. Ia menekankan pentingnya pendekatan yang hati-hati namun adaptif dalam menghadapi perkembangan teknologi ini.
Ia juga menambahkan bahwa pada dekade 2030-an, AI bisa saja memiliki kecerdasan yang jauh melebihi manusia. Namun, sampai saat ini belum ada kepastian atau konsensus ilmiah terkait kapan dan bagaimana itu bisa terjadi.
Di akhir pernyataannya, Altman menyerukan kolaborasi antara regulator, perusahaan teknologi, dan masyarakat luas untuk menghadapi risiko yang timbul dari penggunaan AI. Ia menilai hanya dengan kerja sama luas, tantangan besar yang dibawa oleh AI dapat diatasi secara efektif.
Sebagai perkembangan AI menuntut kewaspadaan tinggi terutama di sektor keuangan. Metode autentikasi konvensional seperti rekaman suara sudah tidak relevan dalam menghadapi kecanggihan teknologi yang mampu meniru suara secara presisi. Altman mengingatkan bahwa langkah antisipasi harus segera dilakukan sebelum krisis penipuan berbasis AI menjadi kenyataan.
Sementara itu, pengembangan alat verifikasi berbasis biometrik seperti The Orb dinilai menjadi solusi potensial untuk memastikan identitas manusia secara digital. Teknologi ini dapat memberikan perlindungan tambahan terhadap manipulasi yang dilakukan melalui AI.
Namun demikian, tantangan tidak hanya datang dari sisi keamanan, melainkan juga dari arah pengembangan AI itu sendiri, termasuk ancaman superintelligence. Oleh karena itu, pengawasan dan regulasi menjadi hal yang tak terelakkan.
Masyarakat global perlu menyadari bahwa teknologi ini tidak hanya membawa manfaat, namun juga risiko serius yang bisa berdampak luas. Oleh sebab itu, pendekatan yang bertanggung jawab dan etis dalam pengembangan serta penggunaan AI menjadi sangat penting untuk menjamin keberlanjutan kehidupan digital yang aman.
Upaya membangun kesadaran, meningkatkan literasi teknologi, dan memperkuat sistem keamanan digital akan menjadi kunci dalam menghadapi tantangan era AI yang terus berkembang pesat. (*)





