Karawang EKOIN.CO – PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) menegaskan fokus bisnisnya kembali ke sektor konstruksi inti dengan merencanakan divestasi aset lahan di Karawang, Jawa Barat, senilai Rp 500 miliar. Aset tersebut merupakan bagian dari proyek pengembangan Transit Oriented Development (TOD) yang terintegrasi dengan Kereta Cepat Jakarta Bandung (KCJB) Whoosh. Langkah ini bertujuan memperkuat struktur keuangan dan efisiensi bisnis perusahaan pelat merah tersebut.
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v
Corporate Secretary WIKA, Ngatemin, menjelaskan rencana penjualan lahan ini dalam media gathering di Jakarta pada Rabu, 30 Juli 2025. Ia menyatakan bahwa kepemilikan lahan tersebut terkait erat dengan peran WIKA dalam proyek KCJB sebagai bagian dari konsorsium PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC).
Lahan di Karawang semula diperoleh seiring proses pembangunan proyek KCJB. Menurut Ngatemin, tanah tersebut dirancang untuk pengembangan kawasan hunian berbasis TOD yang terintegrasi langsung dengan jalur kereta cepat. Kini, WIKA menilai langkah divestasi sebagai strategi bisnis yang mendesak untuk mendukung kesehatan keuangan perusahaan.
Konsorsium KCJB dan peran WIKA dalam PSBI
WIKA tergabung dalam konsorsium nasional yang terdiri dari sembilan entitas. Dari Indonesia, mitra strategisnya adalah PT Jasa Marga (Persero) Tbk, PT Perkebunan Nusantara VIII, dan PT Kereta Api Indonesia (Persero) sebagai pemimpin konsorsium. Keempat BUMN ini kemudian membentuk badan usaha bersama bernama PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI).
Sementara itu, pihak Tiongkok diwakili oleh China Railway International Company Limited, China Railway Group Limited, Sinohydro Corporation Limited, CRRC Corporation Limited, dan China Railway Signal and Communication Corp. Kelima perusahaan ini membentuk konsorsium China Railway, mitra strategis PSBI dalam proyek KCJB.
PSBI menggenggam 60 persen saham di KCIC, sedangkan 40 persen sisanya dimiliki konsorsium China Railway. Dalam proyek ini, WIKA telah menanamkan modal sebesar Rp 6,1 triliun melalui PSBI, dengan nilai kewajiban yang masih dalam sengketa mencapai Rp 5,5 triliun. Total nilai komitmen investasi WIKA mendekati Rp 12 triliun.
Strategi penjualan aset dan fokus jangka panjang WIKA
Menurut Ngatemin, WIKA kini mengutamakan penjualan aset yang sudah ada, seperti lahan di Karawang, untuk memperkuat posisi keuangan. Pengembangan lahan akan dilakukan kembali hanya jika stok aset properti telah mencapai tingkat ideal dan melalui pertimbangan ketat.
Target jangka pendek mencakup penjualan aset properti berskala kecil yang diharapkan rampung pada tahun 2025 ini. Sedangkan penjualan aset bernilai besar, termasuk lahan Karawang, ditargetkan selesai tahun depan.
Langkah ini, kata Ngatemin, merupakan bagian dari upaya menyeluruh WIKA untuk melakukan efisiensi, memperbaiki arus kas, dan memperkuat daya saing perusahaan di sektor konstruksi. “Kami berharap penjualan lahan di Karawang dapat segera terealisasi dan menjadi salah satu pengungkit utama penyehatan keuangan WIKA,” ujarnya.
Penjualan aset senilai Rp 500 miliar tersebut diharapkan memberikan likuiditas yang cukup besar, yang akan dialokasikan untuk mendukung proyek konstruksi strategis dan memperkuat fundamental bisnis WIKA di masa mendatang.
Dengan arah baru ini, WIKA tidak akan melakukan ekspansi lahan atau properti baru dalam waktu dekat, kecuali dalam kondisi khusus. Divestasi menjadi opsi utama untuk menyesuaikan fokus bisnis dan menekan beban keuangan yang ditimbulkan dari proyek-proyek jangka panjang.
WIKA juga telah menyiapkan skema khusus dalam proses divestasi lahan agar tidak mengganggu pengembangan kawasan TOD di sekitar KCJB. Proses divestasi akan memperhatikan kesinambungan pembangunan dan kepentingan seluruh pihak dalam proyek tersebut.
Dalam proses pelepasan aset, WIKA akan tetap berkoordinasi dengan konsorsium KCIC dan pihak terkait untuk memastikan pemanfaatan lahan tetap mendukung proyek transportasi massal tersebut.
Rencana ini mendapat sorotan pasar karena menjadi sinyal kuat perubahan strategi korporasi WIKA. Fokus kepada bisnis inti dinilai akan membuat perusahaan lebih kompetitif dalam tender konstruksi di masa mendatang.
Dengan adanya rencana penjualan lahan di Karawang, WIKA berharap dapat memperkuat neraca keuangan sekaligus menyeimbangkan komposisi aset tetap dan modal kerja.
Dalam skala nasional, langkah ini turut mencerminkan tren baru BUMN konstruksi dalam memprioritaskan efisiensi, alih-alih ekspansi agresif. Hal ini mengacu pada besarnya nilai investasi yang harus ditanggung dalam proyek infrastruktur besar seperti KCJB.
Keseimbangan antara peran WIKA sebagai kontraktor dan pengembang properti kini mulai diatur ulang. Fokus kini diberikan penuh pada kontrak proyek-proyek pemerintah dan swasta yang dinilai lebih cepat menghasilkan arus kas.
Sebagai bagian dari konsolidasi BUMN, WIKA diharapkan dapat menjadi salah satu pilar utama dalam pembangunan infrastruktur nasional tanpa terbebani beban investasi jangka panjang non-produktif.
Konsistensi dalam menerapkan strategi penjualan aset dan fokus bisnis menjadi faktor penting untuk mendukung stabilitas perusahaan di tengah persaingan konstruksi yang semakin ketat.
Langkah penjualan lahan di Karawang juga berpotensi membuka peluang kolaborasi baru dengan investor properti untuk pengembangan kawasan TOD terintegrasi yang tetap mendukung KCJB.
Langkah divestasi aset oleh WIKA menjadi refleksi dari kebutuhan mendesak untuk menyelaraskan visi bisnis dengan realitas keuangan. Perubahan strategi ini juga membuka jalan bagi efisiensi lebih lanjut dalam manajemen proyek dan alokasi sumber daya.
Penjualan lahan senilai Rp 500 miliar di Karawang diharapkan memberikan efek jangka panjang terhadap peningkatan likuiditas dan menurunkan rasio utang. Dengan demikian, perusahaan akan lebih leluasa dalam mengambil proyek-proyek baru dengan risiko terukur.
Dalam jangka panjang, konsistensi fokus pada sektor konstruksi inti akan menjadi kunci pertumbuhan WIKA di masa depan. Perusahaan dapat lebih optimal dalam mengikuti proyek strategis nasional dan berperan dalam pembangunan berkelanjutan.
WIKA juga memiliki potensi untuk memperkuat posisinya sebagai kontraktor terkemuka di Asia Tenggara jika strategi divestasi aset dan efisiensi biaya dijalankan secara konsisten.
utama bagi WIKA adalah menjaga kesinambungan komunikasi dengan publik dan pemangku kepentingan dalam proses divestasi, untuk menjaga transparansi dan kepercayaan investor.
Penting bagi perusahaan untuk mengelola proses pelepasan aset secara bertahap dan memperhatikan nilai pasar agar tidak merugikan nilai properti yang dijual.
Selain itu, alokasi hasil divestasi harus diarahkan pada proyek-proyek konstruksi bernilai tambah yang mendukung pertumbuhan jangka panjang.
Pengawasan internal yang ketat terhadap pemanfaatan dana hasil divestasi juga perlu diperkuat agar benar-benar digunakan sesuai dengan prioritas bisnis utama.
Akhirnya, kolaborasi lintas BUMN dan pihak swasta harus terus diperkuat untuk menjaga integrasi proyek infrastruktur strategis seperti KCJB agar memberikan manfaat optimal bagi masyarakat. (*)





