Jakarta EKOIN.CO – Indonesia resmi menjadi negara pertama di luar Turki yang mengoperasikan kapal fregat MILGEM kelas Istif, menyusul penandatanganan kontrak strategis antara Jakarta dan Ankara pada akhir Juli 2025. Langkah ini tidak hanya memperkuat kemampuan tempur Angkatan Laut Indonesia, tetapi juga mencerminkan pergeseran posisi Indonesia sebagai pionir kekuatan maritim di kawasan Indo-Pasifik.
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v
Kesepakatan yang dilaporkan oleh media Defence Security Asia dalam artikel bertajuk “Indonesia Becomes First Foreign Operator of Turkiye’s MILGEM Istif-Class Warships” tertanggal 27 Juli 2025, menjadi momen bersejarah. Ini menandai ekspor pertama Turki untuk kapal perang kelas MILGEM dan sekaligus menjadi kontrak ekspor alutsista terbesar Turki sejauh ini.
Nilai kontrak pembelian dua unit fregat kelas Istif ini diperkirakan mencapai hampir USD1 miliar. Angka tersebut menjadikannya salah satu akuisisi pertahanan laut terbesar yang pernah dilakukan oleh Indonesia, sekaligus mencerminkan fokus pemerintah dalam mempercepat modernisasi armada TNI AL.
Langkah Strategis Indonesia di Tengah Ketegangan Kawasan
Penandatanganan kesepakatan antara Indonesia dan Turki dilakukan di tengah meningkatnya ketegangan di Laut Cina Selatan dan kekhawatiran terhadap stabilitas kawasan Indo-Pasifik. Pemerintah Indonesia menilai akuisisi ini sebagai bagian dari strategi memperkuat pertahanan nasional, khususnya di sektor maritim.
Kehadiran fregat kelas Istif di armada Indonesia akan menjadi bagian dari rencana jangka panjang TNI AL dalam mengurangi kesenjangan kemampuan laut di kawasan. Kapal ini dirancang untuk berbagai misi, termasuk pengamanan zona ekonomi eksklusif, patroli anti-kapal selam, serta pengawalan konvoi laut.
Media Malaysia Defence Security Asia juga menyoroti bahwa Indonesia tidak hanya memperkuat pertahanan, tetapi juga memimpin di antara negara-negara ASEAN lainnya dalam hal modernisasi militer. Kesepakatan ini disebut berpotensi memicu negara tetangga untuk memperbarui armada mereka di tengah dinamika keamanan yang berubah cepat.
Transformasi Turki dan Efek Geopolitik di ASEAN
Bagi Turki, keberhasilan ekspor fregat kelas Istif ke Indonesia menegaskan transformasi industri pertahanannya yang kini bersaing secara global. Selain itu, ekspor ini mengikuti jejak sukses penjualan drone tempur Baykar, menandai pendekatan strategis Turki dalam memasarkan produk-produk militer modular dan ramah ekspor.
Dikutip dari Naval News, kesepakatan ini tak sekadar jual beli kapal perang. Ia menunjukkan keselarasan strategi pertahanan antara Indonesia dan Turki, di mana kedua negara tengah membangun kemandirian melalui penguatan industri pertahanan domestik. Dalam hal ini, kerja sama alutsista menjadi simbol kedekatan geopolitik kedua negara.
Fregat MILGEM kelas Istif akan dibangun dengan pendekatan modular oleh galangan kapal Turki TAIS Shipyards, dan sebagian proses produksi akan melibatkan industri pertahanan Indonesia, termasuk PT PAL. Kolaborasi ini membuka peluang alih teknologi dan peningkatan kemampuan industri pertahanan dalam negeri.
Pakar pertahanan dari Turki menyebut bahwa fregat kelas Istif yang dipesan Indonesia telah ditingkatkan hingga 50% lebih tangguh dibandingkan generasi sebelumnya. Spesifikasi teknis tersebut meliputi kemampuan tempur jarak jauh, sistem radar canggih, dan daya tahan tinggi untuk operasi di wilayah perairan luas.
Selain itu, akuisisi ini juga mencerminkan komitmen Indonesia dalam memperkuat posisi sebagai kekuatan regional, khususnya dalam menghadapi tantangan militer non-tradisional di kawasan, seperti operasi zona abu-abu yang dilakukan oleh kekuatan besar di Laut Cina Selatan.
Sejumlah analis menilai bahwa kehadiran kapal perang baru ini akan memperkuat pengaruh diplomatik Indonesia di ASEAN, terutama dalam upaya menjaga stabilitas keamanan laut dan mendorong kerja sama pertahanan multilateral di Indo-Pasifik.
Pihak Turki menyatakan bahwa keberhasilan ekspor kapal ini akan memperkuat hubungan bilateral serta membuka peluang kerja sama lanjutan dalam bidang lain seperti pelatihan militer, dukungan logistik, hingga pengembangan sistem pertahanan berbasis teknologi.
Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi dari Kementerian Pertahanan Indonesia mengenai jadwal pengiriman kapal, namun sejumlah sumber menyebut bahwa pengoperasian fregat kelas Istif diharapkan dimulai pada tahun 2027.
Sementara itu, media asing memprediksi bahwa pembelian kapal perang canggih ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang Indonesia menuju armada laut berkemampuan tinggi, yang diharapkan mampu menjaga kedaulatan dan mendukung visi pertahanan maritim global.
Sebagai bagian dari paket kerja sama, Indonesia juga disebut berpeluang menjajaki pembelian produk alutsista Turki lainnya, termasuk kapal selam dan sistem persenjataan laut, yang dinilai sepadan dengan kebutuhan dan spesifikasi TNI AL saat ini.
Kontrak ini menjadi tonggak penting dalam peta kekuatan militer Asia Tenggara, menempatkan Indonesia sebagai aktor penting dalam upaya menjaga stabilitas maritim, sekaligus membuka ruang bagi peningkatan diplomasi pertahanan kawasan.
Dalam jangka panjang, akuisisi kapal perang kelas Istif ini akan memperkuat posisi strategis Indonesia di Indo-Pasifik, baik secara militer maupun politik, khususnya dalam menghadapi dinamika geopolitik dan kompetisi kekuatan besar.
dari kesepakatan ini menunjukkan adanya langkah konkret Indonesia dalam menutup celah kelemahan armada laut, sekaligus membuka jalan bagi modernisasi lebih luas di sektor pertahanan nasional.
Penguatan kerja sama dengan Turki ini diharapkan membawa dampak positif, tak hanya dalam hal kekuatan tempur, tetapi juga pengembangan teknologi serta kemampuan produksi dalam negeri melalui skema alih teknologi.
Langkah ini patut dicermati sebagai strategi jangka panjang pemerintah dalam membangun postur pertahanan yang tangguh dan mandiri, dengan mengedepankan kolaborasi strategis dengan negara sahabat.
Di tengah dinamika kawasan yang penuh tantangan, Indonesia perlu memperkuat posisi dan peran strategisnya melalui akuisisi dan inovasi di bidang pertahanan maritim, yang menjadi garda terdepan dalam menjaga kedaulatan dan stabilitas regional.
Dengan akuisisi ini, Indonesia tidak hanya memperkuat kemampuan TNI AL, tetapi juga berkontribusi dalam menciptakan ekosistem pertahanan yang berkelanjutan dan berbasis teknologi, sejalan dengan arah pembangunan nasional.
(*)





