Jakarta, EKOIN.CO – Indonesia saat ini belum sepenuhnya memiliki rudal balistik buatan dalam negeri secara operasional dan mandiri, meski beberapa proyek sedang dikembangkan sebagai pondasi untuk masa depan. Menurut laporan resmi, kerja sama dengan Turki melalui pembelian rudal KHAN (versi ekspor dari Bora) menjadikan Indonesia pengguna pertama di luar Turki
Sejak penandatanganan kontrak pada November 2022, Indonesia telah memesan sistem rudal balistik KHAN dengan jangkauan tembak antara 80 hingga 280 km Sistem ini terlihat di pameran Indo Defence 2025 di Istanbul, Turki, sebagai bagian dari modernisasi alutsista nasional
Menurut data teknis, KHAN memiliki panjang delapan meter, diameter 61 cm, berat sekitar 2.500 kg serta hulu ledak fragmen 570 kg. Jarak tembak minimal 80 km dan maksimal mencapai 280 km, dengan akurasi CEP sekitar 10 meter, berpemandu GPS/GNSS dan sistem inersial (INS) Peluncuran dapat dilakukan dari kendaraan berat Volat 8×8 dengan dua rak rudal
Indonesia juga tengah mengembangkan roket domestik seperti R‑Han 122 dan RN01‑SS serta RHAN 450 dan RX‑750 sebagai basis potensi rudal balistik. R‑Han 122 buatan dalam negeri mencapai jangkauan hingga 32 km, sedangkan RHAN 450 mencapai hingga 100 km untuk versi roket balistik potensial RX‑750 bahkan dirancang untuk keperluan peluncuran satelit, tapi bisa dimodifikasi jadi rudal balistik dengan jangkauan hingga 1.000 km dalam jangka panjang
Pengembangan RX‑250 sebelumnya juga disebut dapat menjadi dasar program rudal balistik domestik, namun analis intelijen Australia menyatakan diperlukan waktu 8–10 tahun untuk pengembangan rudal operasional penuh Indonesia juga mengkaji transfer teknologi dari Turki terkait program ini.
Pembelian KHAN juga mempertimbangkan rezim MTCR (Missile Technology Control Regime) yang membatasi jangkauan rudal di atas 300 km. Indonesia secara sengaja memilih varian dengan batas maksimum 280 km agar mematuhi aturan internasional tersebut
Pengembangan Dalam Negeri vs Kerja Sama Internasional
Meski sudah memesan KHAN, Indonesia belum memproduksi rudal balistik secara mandiri. KHAN sepenuhnya dikembangkan oleh Roketsan Turki, namun direncanakan ada transfer teknologi agar Indonesia bisa meniru dan memodifikasi sistem tersebut di masa depan
Sementara itu, pengembangan roket lokal seperti R‑Han 122, RHAN 450 dan RX‑750 masih berada pada tahap prototipe atau roket taktis, belum dilengkapi sistem pemandu presisi seperti GPS/INS yang dibutuhkan oleh rudal balistik. Meski demikian, roket‑roket tersebut diketahui sebagai batu loncatan menuju mandiri dalam teknologi rudal
Menurut laporan, pengguna Rudal ITBM‑600 (versi Indonesia dari KHAN) adalah Angkatan Darat Indonesia. Unit ini tidak hanya meliputi rudal, tapi juga kendaraan peluncur, kendaraan kendali, amunisi, bahan bakar, dan dukungan teknis lainnya
Belum ada keputusan final apakah Indonesia akan membeli sistem lain seperti BrahMos dari India. Kementerian Pertahanan menyebut BrahMos merupakan salah satu opsi dan belum ada kontrak resmi yang ditandatangani
Kendala dan Peluang Kemandirian Teknologi
Salah satu tantangan besar Indonesia adalah keterbatasan jangkauan dan ketersertifikasian sistem roket dalam negeri. Pengembangan yang memakan waktu hingga satu dekade untuk mencapai standar rudal operasional menjadi hambatan signifikan
Selain itu, kepatuhan terhadap rezim MTCR membatasi ambisi memperluas jangkauan rudal di atas 300 km, yang jika dilanggar bisa memicu sanksi internasional
Namun kolaborasi dengan Turki memberi peluang transfer teknologi yang memungkinkan Indonesia membangun sendiri sistem serupa di masa depan. Jika proses itu berhasil, Indonesia berpotensi menjadi satu-satunya negara Asia Tenggara dengan kemampuan rudal balistik mandiri
Indonesia juga memperkuat pertahanan udara dan angkatan laut dengan sistem lain seperti HISAR dan sistem radar canggih hasil kerja sama internasional, meskipun belum sekelas S‑400 atau Iron Dome
Kalau berhasil menguasai teknologi KHAN, Indonesia dapat memodifikasi roket domestic seperti RX‑750 menjadi rudal balistik dengan jangkauan lebih jauh, membawa manfaat industri pertahanan dalam negeri
Indonesia bisa membuat rudal balistik secara mandiri dalam waktu menengah, asalkan terus mengembangkan teknologi dan mentransfer hasil dari proyek KHAN. Saat ini, proyek domestik belum memenuhi standar rudal tinggi, meskipun menjadi pondasi potensial.
Indonesia belum sepenuhnya memiliki rudal balistik buatan dalam negeri yang operasional, namun sejumlah proyek lokal dan kerja sama internasional sedang dijalankan untuk menuju kemandirian.
Upaya mengembangkan teknologi secara internal terus dipacu melalui roket nasional yang dapat ditingkatkan menjadi sistem rudal.
Pembelian dan potensi transfer teknologi KHAN menjadi langkah strategis agar mampu memproduksi sistem mirip secara lokal di masa depan.
Pembatasan dari rezim MTCR menjadi pertimbangan dalam jangkauan rudal yang dibeli dan dikembangkan.
Dengan dukungan penuh pemerintah dan penguatan industri pertahanan, Indonesia memiliki peluang besar menjadi mandiri dalam teknologi rudal balistik. (*)
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v





