EKOIN.CO
  • BERANDA
  • EKOBIS
    • EKONOMI
    • KEUANGAN
    • INDUSTRI
    • INFRASTRUKTUR
    • PERTANIAN
    • PROPERTI
    • UMKM
    • PROFIL
    • ENERGI
  • PERISTIWA
    • INTERNASIONAL
    • NASIONAL
    • MEGAPOLITAN
    • KRIMINAL
    • OPINI
    • SOSIAL
    • BREAKING NEWS
    • LINGKUNGAN
  • POLKUM
    • POLITIK
    • HUKUM
    • LIPUTAN KHUSUS
    • CEK FAKTA
    • BERITA FOTO
    • BERITA VIDEO
  • HIBURAN
    • KEGIATAN
    • DESTINASI
    • KESEHATAN
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SELEBRITI
    • MUSIK
  • RAGAM
    • EBOOK
    • EDUKASI
    • HIKMAH
    • SENI & BUDAYA
    • TIPS
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
EKOIN.CO
  • BERANDA
  • EKOBIS
    • EKONOMI
    • KEUANGAN
    • INDUSTRI
    • INFRASTRUKTUR
    • PERTANIAN
    • PROPERTI
    • UMKM
    • PROFIL
    • ENERGI
  • PERISTIWA
    • INTERNASIONAL
    • NASIONAL
    • MEGAPOLITAN
    • KRIMINAL
    • OPINI
    • SOSIAL
    • BREAKING NEWS
    • LINGKUNGAN
  • POLKUM
    • POLITIK
    • HUKUM
    • LIPUTAN KHUSUS
    • CEK FAKTA
    • BERITA FOTO
    • BERITA VIDEO
  • HIBURAN
    • KEGIATAN
    • DESTINASI
    • KESEHATAN
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SELEBRITI
    • MUSIK
  • RAGAM
    • EBOOK
    • EDUKASI
    • HIKMAH
    • SENI & BUDAYA
    • TIPS
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
EKOIN.CO
Beranda EKOBIS
Setelah 9 Hari Disuspensi, Saham DCI Indonesia (DCII) Kembali Diperdagangkan

Setelah 9 Hari Disuspensi, Saham DCI Indonesia (DCII) Kembali Diperdagangkan

Pilihan Judul: Gembok Perdagangan Saham DCII Dibuka, BEI: Untuk Menjaga Pasar yang Teratur dan Wajar Setelah 9 Hari Disuspensi, Saham DCI Indonesia (DCII) Kembali Diperdagangkan Saham DCII Kembali Dibuka, BEI Tegaskan Pentingnya Keterbukaan Informasi Perusahaan BEI Akhirnya Buka Suspensi Saham DCI Indonesia (DCII) Setelah 9 Hari Jakarta, Indonesia - Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini, Rabu (6/8), secara resmi membuka kembali perdagangan saham PT DCI Indonesia Tbk (DCII). Keputusan ini mengakhiri masa suspensi yang berlangsung selama sembilan hari perdagangan sejak 24 Juli 2025. Mengutip keterbukaan informasi BEI, saham DCII kini dapat diperdagangkan lagi di pasar reguler dan pasar tunai. Manajemen BEI dalam pernyataan tertulisnya menegaskan, "Berdasarkan penilaian Bursa, maka dengan ini diumumkan bahwa suspensi atas perdagangan saham PT DCI Indonesia Tbk (DCII) di Pasar Reguler dan Pasar Tunai dibuka kembali mulai sesi I tanggal 6 Agustus 2025." Pernyataan ini sekaligus menjadi penanda dimulainya kembali transaksi saham emiten pusat data tersebut. Sebelumnya, Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna, menyampaikan bahwa penelaahan lebih lanjut dilakukan oleh pihaknya terkait pemenuhan kewajiban keterbukaan informasi dan perkembangan terkini dari perseroan. Ia menambahkan, suspensi yang diberlakukan dalam jangka waktu cukup panjang bertujuan untuk menjaga pasar agar tetap berjalan secara teratur, wajar, dan efisien. Nyoman juga sempat mengatakan, pencabutan suspensi saham DCII akan dilakukan apabila seluruh kewajiban telah terpenuhi dan tidak ada kondisi material yang berdampak signifikan terhadap keberlangsungan perdagangan saham. Saham DCII, yang dikenal sebagai emiten pusat data milik Toto Sugiri dan grup Salim, mencatat rekor sebagai saham termahal di bursa berkat lonjakan harga luar biasa beberapa waktu terakhir. Sayangnya, kenaikan performa keuangan yang impresif sepanjang paruh pertama tahun ini tidak menghindarkan saham ini dari penghentian sementara. Tercatat, harga saham DCII terakhir berada di posisi Rp346.725 per lembar pada 23 Juli 2025, setelah sebelumnya mengalami Auto Reject Atas (ARA) sebesar 20% dalam sehari. Sehari sebelumnya, pada 22 Juli 2025, saham ini juga sempat disuspensi karena kenaikan harga yang melonjak nyaris 100% dalam sepekan. Lonjakan harga yang dramatis ini membuat DCII menjadi saham termahal di BEI secara month to date (MTD) dengan kenaikan 128%. Dengan harga yang sangat tinggi, dibutuhkan modal minimal Rp34,67 juta untuk membeli satu lot, membuat investor ritel semakin sulit untuk berpartisipasi. Suspensi Bukan Hal Baru Bagi DCII Penghentian sementara perdagangan bukanlah kejadian baru bagi DCII. Pada tahun yang sama, saham ini pernah disuspensi dari 25 Februari hingga 4 Maret 2025 akibat rumor stock split. Pola kenaikan harga yang sama, dengan ARA beruntun selama empat hari dari 19-24 Februari, juga pernah terjadi sebelum suspensi. Saat suspensi dibuka sehari pada 26 Februari, saham DCII kembali melesat ARA hingga akhirnya digembok lagi selama empat hari perdagangan sampai 4 Maret 2025. Aksi suspensi kali ini menjadi yang terlama dialami oleh DCII. Namun, seperti yang terjadi pada Maret lalu, setelah suspensi dibuka saham DCII masih mencatatkan ARA dengan persentase 10% per hari selama delapan hari hingga 13 Maret 2025 sebelum akhirnya mengalami Auto Reject Bawah (ARB). Jika pola ini kembali terulang, ARA kemungkinan akan berlanjut meskipun persentasenya menjadi lebih minim dari 20% menjadi 10%. Reli kencang dari Februari-Maret ini menjadi sejarah, di mana harga saham DCII yang sebelumnya stabil di kisaran Rp40.000-Rp50.000 berhasil melesat lebih dari empat kali lipat hingga tembus Rp200.000 per lembar. Kinerja Keuangan Cemerlang di Balik Volatilitas Harga Di sisi lain, DCII membukukan kinerja keuangan yang mengesankan hingga semester I 2025. Merujuk laporan keuangan terbaru, laba perusahaan tercatat sebesar Rp616,95 miliar, naik 106% secara tahunan (year on year/yoy) dari Rp299,5 miliar. Pendapatan perseroan juga meningkat 80% yoy menjadi Rp1,33 triliun dari Rp737,3 miliar. Evelyn, Direktur Keuangan DCI Indonesia, mengungkapkan bahwa perusahaan menargetkan pertumbuhan pendapatan dua digit pada 2025. Untuk mencapai target tersebut, perseroan telah mengalokasikan belanja modal hingga Rp1 triliun, yang sebagian besar akan difokuskan untuk pengembangan fasilitas pusat data terbaru mereka, JK6, di kompleks DCI Cibitung. "Selain itu, kami juga tengah membangun pusat data baru di Surabaya," ungkapnya. Prospek pertumbuhan dan kinerja laba yang baik ini memunculkan harapan bahwa saham DCII akan terus naik. Meski demikian, valuasi saham ini memang sudah sangat mahal, dengan PBV lebih dari 200 kali dan PER lebih dari 700 kali. Partisipasi investor ritel yang minim, dengan hanya 903 pemegang saham hingga akhir Juni 2025, membuat pergerakan harga saham DCII menjadi sangat volatil. Kalimat Penting Bursa Efek Indonesia (BEI) membuka kembali perdagangan saham PT DCI Indonesia Tbk (DCII) setelah disuspensi selama sembilan hari sejak 24 Juli 2025. Langkah ini diambil untuk menjaga pasar yang teratur, wajar, dan efisien, setelah sebelumnya saham emiten pusat data ini melonjak tajam dan menjadi saham termahal di bursa. Kinerja keuangan DCII yang cemerlang di semester I 2025 dengan laba naik 106% secara tahunan (yoy) tidak menghindarkannya dari penghentian sementara, mengingat harga sahamnya yang sangat volatil.

Ray oleh Ray
6 Agustus 2025
Kategori EKOBIS, EKONOMI, INDUSTRI, KEUANGAN
0
A A
0
Share on FacebookShare on Twitter

Jakarta, EKOIN.CO – Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini, Rabu (6/8), secara resmi membuka kembali perdagangan saham PT DCI Indonesia Tbk (DCII). Keputusan ini mengakhiri masa suspensi yang berlangsung selama sembilan hari perdagangan sejak 24 Juli 2025. Mengutip keterbukaan informasi BEI, saham DCII kini dapat diperdagangkan lagi di pasar reguler dan pasar tunai.

Manajemen BEI dalam pernyataan tertulisnya menegaskan, “Berdasarkan penilaian Bursa, maka dengan ini diumumkan bahwa suspensi atas perdagangan saham PT DCI Indonesia Tbk (DCII) di Pasar Reguler dan Pasar Tunai dibuka kembali mulai sesi I tanggal 6 Agustus 2025.” Pernyataan ini sekaligus menjadi penanda dimulainya kembali transaksi saham emiten pusat data tersebut.

Sebelumnya, Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna, menyampaikan bahwa penelaahan lebih lanjut dilakukan oleh pihaknya terkait pemenuhan kewajiban keterbukaan informasi dan perkembangan terkini dari perseroan. Ia menambahkan, suspensi yang diberlakukan dalam jangka waktu cukup panjang bertujuan untuk menjaga pasar agar tetap berjalan secara teratur, wajar, dan efisien.

Nyoman juga sempat mengatakan, pencabutan suspensi saham DCII akan dilakukan apabila seluruh kewajiban telah terpenuhi dan tidak ada kondisi material yang berdampak signifikan terhadap keberlangsungan perdagangan saham.

Saham DCII, yang dikenal sebagai emiten pusat data milik Toto Sugiri dan grup Salim, mencatat rekor sebagai saham termahal di bursa berkat lonjakan harga luar biasa beberapa waktu terakhir. Sayangnya, kenaikan performa keuangan yang impresif sepanjang paruh pertama tahun ini tidak menghindarkan saham ini dari penghentian sementara. Tercatat, harga saham DCII terakhir berada di posisi Rp346.725 per lembar pada 23 Juli 2025, setelah sebelumnya mengalami Auto Reject Atas (ARA) sebesar 20% dalam sehari. Sehari sebelumnya, pada 22 Juli 2025, saham ini juga sempat disuspensi karena kenaikan harga yang melonjak nyaris 100% dalam sepekan.

Berita Menarik Pilihan

Demi Pertamax Green, Pertamina Lobi Kemenkeu Hapus Cukai Etanol di 120 Terminal BBM

IHSG Kembali Tersungkur di Zona Merah pada Sesi Penutupan Pekan ini, ini Penyebabnya

Lonjakan harga yang dramatis ini membuat DCII menjadi saham termahal di BEI secara month to date (MTD) dengan kenaikan 128%. Dengan harga yang sangat tinggi, dibutuhkan modal minimal Rp34,67 juta untuk membeli satu lot, membuat investor ritel semakin sulit untuk berpartisipasi.

Suspensi Bukan Hal Baru Bagi DCII

Penghentian sementara perdagangan bukanlah kejadian baru bagi DCII. Pada tahun yang sama, saham ini pernah disuspensi dari 25 Februari hingga 4 Maret 2025 akibat rumor stock split. Pola kenaikan harga yang sama, dengan ARA beruntun selama empat hari dari 19-24 Februari, juga pernah terjadi sebelum suspensi. Saat suspensi dibuka sehari pada 26 Februari, saham DCII kembali melesat ARA hingga akhirnya digembok lagi selama empat hari perdagangan sampai 4 Maret 2025.

Aksi suspensi kali ini menjadi yang terlama dialami oleh DCII. Namun, seperti yang terjadi pada Maret lalu, setelah suspensi dibuka saham DCII masih mencatatkan ARA dengan persentase 10% per hari selama delapan hari hingga 13 Maret 2025 sebelum akhirnya mengalami Auto Reject Bawah (ARB). Jika pola ini kembali terulang, ARA kemungkinan akan berlanjut meskipun persentasenya menjadi lebih minim dari 20% menjadi 10%. Reli kencang dari Februari-Maret ini menjadi sejarah, di mana harga saham DCII yang sebelumnya stabil di kisaran Rp40.000-Rp50.000 berhasil melesat lebih dari empat kali lipat hingga tembus Rp200.000 per lembar.

Kinerja Keuangan Cemerlang di Balik Volatilitas Harga

Di sisi lain, DCII membukukan kinerja keuangan yang mengesankan hingga semester I 2025. Merujuk laporan keuangan terbaru, laba perusahaan tercatat sebesar Rp616,95 miliar, naik 106% secara tahunan (year on year/yoy) dari Rp299,5 miliar. Pendapatan perseroan juga meningkat 80% yoy menjadi Rp1,33 triliun dari Rp737,3 miliar.

Evelyn, Direktur Keuangan DCI Indonesia, mengungkapkan bahwa perusahaan menargetkan pertumbuhan pendapatan dua digit pada 2025. Untuk mencapai target tersebut, perseroan telah mengalokasikan belanja modal hingga Rp1 triliun, yang sebagian besar akan difokuskan untuk pengembangan fasilitas pusat data terbaru mereka, JK6, di kompleks DCI Cibitung. “Selain itu, kami juga tengah membangun pusat data baru di Surabaya,” ungkapnya.

Prospek pertumbuhan dan kinerja laba yang baik ini memunculkan harapan bahwa saham DCII akan terus naik. Meski demikian, valuasi saham ini memang sudah sangat mahal, dengan PBV lebih dari 200 kali dan PER lebih dari 700 kali. Partisipasi investor ritel yang minim, dengan hanya 903 pemegang saham hingga akhir Juni 2025, membuat pergerakan harga saham DCII menjadi sangat volatil.

Tags: Auto Reject Atas (ARA)belanja modalBursa Efek Indonesia (BEI)Cibitungemiten data centerEvelyngrup Salimharga sahamI Gede Nyoman Yetnainvestor ritelketerbukaan informasikinerja keuanganlaba perusahaanpasar regulerpasar tunaiperdagangan sahamPT DCI Indonesia Tbk (DCII)pusat dataSurabayasuspensi sahamToto Sugirivaluasi sahamvolatilitas
Post Sebelumnya

bank bjb Fokus Keuangan Berkelanjutan dan Inovatif

Post Selanjutnya

Pil Kontrasepsi Pria Nonhormonal YCT-529 Siap Hadir, Tawarkan Alternatif Selain Kondom dan Vasektomi

Ray

Ray

Berita Terkait

Pertamina mendesak percepatan izin pembebasan cukai di 120 terminal BBM guna mendukung ekspansi produk Pertamax Green yang lebih kompetitif. (Foto: Istimewa/Ekoin.co)

Demi Pertamax Green, Pertamina Lobi Kemenkeu Hapus Cukai Etanol di 120 Terminal BBM

oleh Hasrul Ekoin
6 Februari 2026
0

Pertamina saat ini memiliki ratusan titik distribusi yang berpotensi mengadopsi skema serupa apabila regulasi cukai disederhanakan.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini, Jumat, 6 Februari 2026, ditutup anjlok signifikan di zona merah.

IHSG Kembali Tersungkur di Zona Merah pada Sesi Penutupan Pekan ini, ini Penyebabnya

oleh Ainurrahman
6 Februari 2026
0

Namun tenaga itu tak bertahan lama. Tekanan jual kembali datang hingga indeks terperosok ke level terendah 7.888,17. Memasuki sesi berjalan,...

Pertumbuhan Ekonomi Jakarta Capai 5,21 Persen, Lebih Tinggi dari Pemerintah Pusat

Pertumbuhan Ekonomi Jakarta Capai 5,21 Persen, Lebih Tinggi dari Pemerintah Pusat

oleh Ridwansyah
6 Februari 2026
0

Jakarta, Ekoin.co - Pertumbuhan ekonomi di Jakarta dipastikan melebih pemerintah pusat. Pasalnya berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik perekonomian Jakarta pada...

Akibat Gejolak Rupiah, Cadangan Devisa Indonesia Januari 2026 Tekor Jadi Rp2.596,66 Triliun

Akibat Gejolak Rupiah, Cadangan Devisa Indonesia Januari 2026 Tekor Jadi Rp2.596,66 Triliun

oleh Ainurrahman
6 Februari 2026
0

Jakarta, Ekoin.co - Bank Indonesia (BI) mencatat posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Januari 2026 tetap tinggi sebesar 154,6 miliar...

Post Selanjutnya
Pil Kontrasepsi Pria Nonhormonal YCT-529 Siap Hadir, Tawarkan Alternatif Selain Kondom dan Vasektomi

Pil Kontrasepsi Pria Nonhormonal YCT-529 Siap Hadir, Tawarkan Alternatif Selain Kondom dan Vasektomi

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

EKOIN.CO

EKOIN.CO - Media Ekonomi Nomor 1 di Indonesia

  • REDAKSI
  • IKLAN
  • MEDIA CYBER
  • PETA SITUS
  • KEBIJAKAN PRIVASI
  • PERSYARATAN LAYANAN
  • KODE ETIK JURNALISTIK

© 2025 EKOIN.CO
Media Ekonomi No. 1 di Indonesia
Developed by logeeka.id.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • BERANDA
  • EKOBIS
    • EKONOMI
    • KEUANGAN
    • INDUSTRI
    • INFRASTRUKTUR
    • PERTANIAN
    • PROPERTI
    • UMKM
    • PROFIL
    • ENERGI
  • PERISTIWA
    • INTERNASIONAL
    • NASIONAL
    • MEGAPOLITAN
    • KRIMINAL
    • OPINI
    • SOSIAL
    • BREAKING NEWS
    • LINGKUNGAN
  • POLKUM
    • POLITIK
    • HUKUM
    • LIPUTAN KHUSUS
    • CEK FAKTA
    • BERITA FOTO
    • BERITA VIDEO
  • HIBURAN
    • KEGIATAN
    • DESTINASI
    • KESEHATAN
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SELEBRITI
    • MUSIK
  • RAGAM
    • EBOOK
    • EDUKASI
    • HIKMAH
    • SENI & BUDAYA
    • TIPS
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI

© 2025 EKOIN.CO
Media Ekonomi No. 1 di Indonesia
Developed by logeeka.id.