EKOIN.CO
  • BERANDA
  • EKOBIS
    • EKONOMI
    • KEUANGAN
    • INDUSTRI
    • INFRASTRUKTUR
    • PERTANIAN
    • PROPERTI
    • UMKM
    • PROFIL
    • ENERGI
  • PERISTIWA
    • INTERNASIONAL
    • NASIONAL
    • MEGAPOLITAN
    • KRIMINAL
    • OPINI
    • SOSIAL
    • BREAKING NEWS
    • LINGKUNGAN
  • POLKUM
    • POLITIK
    • HUKUM
    • LIPUTAN KHUSUS
    • CEK FAKTA
    • BERITA FOTO
    • BERITA VIDEO
  • HIBURAN
    • KEGIATAN
    • DESTINASI
    • KESEHATAN
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SELEBRITI
    • MUSIK
  • RAGAM
    • EBOOK
    • EDUKASI
    • HIKMAH
    • SENI & BUDAYA
    • TIPS
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
EKOIN.CO
  • BERANDA
  • EKOBIS
    • EKONOMI
    • KEUANGAN
    • INDUSTRI
    • INFRASTRUKTUR
    • PERTANIAN
    • PROPERTI
    • UMKM
    • PROFIL
    • ENERGI
  • PERISTIWA
    • INTERNASIONAL
    • NASIONAL
    • MEGAPOLITAN
    • KRIMINAL
    • OPINI
    • SOSIAL
    • BREAKING NEWS
    • LINGKUNGAN
  • POLKUM
    • POLITIK
    • HUKUM
    • LIPUTAN KHUSUS
    • CEK FAKTA
    • BERITA FOTO
    • BERITA VIDEO
  • HIBURAN
    • KEGIATAN
    • DESTINASI
    • KESEHATAN
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SELEBRITI
    • MUSIK
  • RAGAM
    • EBOOK
    • EDUKASI
    • HIKMAH
    • SENI & BUDAYA
    • TIPS
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
EKOIN.CO
Beranda PERISTIWA
Greenpeace Desak Pemerintah Terapkan Pajak Kaya Progresif dan Perusak Lingkungan

Greenpeace Desak Pemerintah Terapkan Pajak Kaya Progresif dan Perusak Lingkungan

Greenpeace desak Indonesia pajaki super kaya dan perusahaan perusak lingkungan. Pajak progresif dinilai penting demi keadilan iklim global.

Akmal Solihannoer oleh Akmal Solihannoer
7 Agustus 2025
Kategori PERISTIWA
0
A A
0
Share on FacebookShare on Twitter

Jakarta, EKOIN.CO – Greenpeace Indonesia secara resmi menyerukan pemerintah untuk menerapkan kebijakan pajak progresif kepada individu super kaya dan perusahaan perusak lingkungan. Seruan ini disampaikan melalui surat resmi kepada Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati pada 31 Juli 2025, menjelang Konvensi Pajak PBB (UN Tax Convention) yang berlangsung dari Agustus hingga November mendatang.

Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v

Organisasi lingkungan ini mendorong Indonesia memimpin dorongan global dalam menerapkan pajak terhadap perusahaan pencemar besar dan kelompok “super polluters”. Mereka yang meraup keuntungan besar di tengah krisis dinilai memberikan dampak signifikan terhadap kerusakan lingkungan akibat emisi yang ditinggalkan.

Kepala Greenpeace Indonesia Leonard Simanjuntak menyatakan, “Ini saatnya memanfaatkan momentum global untuk menuntut kontribusi nyata dan adil dari industri ekstraktif dan kelompok super-kaya, mereka yang terus meraup keuntungan masif di tengah krisis yang justru memperburuk penderitaan masyarakat dan kerusakan lingkungan.”

Pajak Progresif untuk Keadilan Iklim

Berita Menarik Pilihan

Pramono Terbitkan Pergub Efisiensi Energi dan Air Hadapi Perubahan Iklim

Belasan Tahun Mangkrak, Tiang Beton Monorel di Jantung Jakarta Akhirnya Mulai Dibersihkan

Greenpeace menekankan hubungan erat antara ketimpangan ekonomi dan krisis iklim yang semakin parah. Dalam laporannya, Greenpeace merujuk data Oxfam 2023 yang menunjukkan bahwa 1% orang terkaya di dunia menguasai kekayaan senilai USD 33,9 triliun. Jumlah ini disebut 22 kali lipat lebih besar dibanding kebutuhan tahunan untuk menghapus kemiskinan global.

Selain itu, kelompok elite global tersebut turut menyumbang 16% dari total emisi karbon dunia. Jumlah ini setara dengan gabungan emisi dari 5 miliar penduduk termiskin di dunia, menunjukkan adanya ketimpangan kontribusi terhadap krisis iklim.

Sebaliknya, negara berpendapatan rendah diperkirakan mengalami kerugian hingga USD 300 miliar per tahun akibat dampak langsung dari krisis iklim. Greenpeace menyebut bahwa jika tidak ada kebijakan konkret, kerugian ekonomi global akibat perubahan iklim bisa mencapai USD 38 triliun setiap tahun pada 2050.

Melalui suratnya, Greenpeace mendesak pemerintah Indonesia untuk menunjukkan sikap tegas dalam mendukung prinsip “polluter pays” atau pencemar membayar. Prinsip ini dianggap sebagai fondasi penting dalam sistem perpajakan global demi membiayai solusi iklim yang adil dan berkelanjutan.

Dukungan Global dan Survei Publik

Greenpeace juga mendorong dukungan terhadap Pajak Kekayaan Minimum Global yang akan dibahas dalam forum G20 tahun ini, dipimpin oleh Afrika Selatan. Pajak ini ditujukan kepada individu ultra-kaya dan perusahaan multinasional sektor ekstraktif sebagai sumber pendanaan transisi energi dan pembangunan berkelanjutan.

Leonard Simanjuntak menegaskan, “Pajak bukan sekadar instrumen ekonomi, tetapi alat perjuangan untuk masa depan bumi dan generasi mendatang.” Greenpeace menilai pentingnya kebijakan fiskal progresif sebagai langkah nyata menangani darurat iklim.

Survei terbaru yang dilakukan Greenpeace bersama Oxfam di 13 negara menunjukkan dukungan publik yang kuat terhadap kebijakan ini. Sebanyak 86% responden menyatakan setuju jika perusahaan minyak dan gas dikenakan pajak lebih tinggi.

Lebih jauh, 90% responden juga mendukung pajak yang lebih besar untuk individu super kaya. Tujuan dari kebijakan ini adalah membantu masyarakat paling terdampak oleh bencana iklim yang kian sering terjadi.

Selain menyerukan penerapan pajak, Greenpeace juga menyatakan kesiapannya untuk berdiskusi langsung dengan pemerintah Indonesia. Diskusi ini dimaksudkan untuk mengeksplorasi potensi penerapan pajak progresif sebagai solusi konkret atas krisis iklim.

Surat resmi yang dikirimkan kepada Menteri Keuangan Sri Mulyani tersebut juga ditembuskan ke beberapa kementerian terkait. Di antaranya Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Menteri Luar Negeri, serta instansi terkait lainnya.

Greenpeace berharap Indonesia mengambil peran aktif dalam forum internasional, terutama dalam memperjuangkan keadilan iklim melalui kebijakan fiskal. Menurut Greenpeace, keterlibatan Indonesia akan memperkuat posisi negara berkembang dalam mendorong sistem perpajakan global yang adil.

Sebagai salah satu negara dengan potensi besar dalam transisi energi, Indonesia dinilai memiliki kepentingan strategis untuk mendukung pembiayaan iklim yang berkeadilan. Oleh karena itu, kontribusi fiskal dari pihak-pihak yang paling bertanggung jawab terhadap krisis dinilai menjadi hal mendesak.

Greenpeace menutup seruannya dengan mengajak semua pihak untuk mengambil bagian dalam perjuangan kolektif melindungi bumi. Kebijakan pajak progresif menurut Greenpeace adalah langkah awal untuk memastikan masa depan yang layak bagi generasi mendatang.

Greenpeace menggarisbawahi bahwa penerapan pajak terhadap perusak lingkungan dan super kaya bukan hanya keharusan moral, tetapi juga tanggung jawab global bersama. Terlebih di tengah ketimpangan yang kian nyata dan dampak iklim yang semakin luas dirasakan.

Langkah ini, menurut Greenpeace, tidak hanya memberikan solusi fiskal, tetapi juga menciptakan perubahan struktural dalam sistem ekonomi global yang lebih adil dan berkelanjutan.


Kebijakan pajak progresif terhadap individu super kaya dan perusahaan perusak lingkungan menjadi penting demi menciptakan keadilan ekonomi dan iklim global. Greenpeace mengingatkan bahwa mereka yang paling banyak merusak lingkungan harus turut menanggung biaya pemulihannya.

Indonesia diharapkan memanfaatkan forum internasional sebagai momentum memperkuat posisi dalam mendorong prinsip “polluter pays”. Sikap tegas pemerintah akan membawa dampak besar terhadap perbaikan sistem fiskal global.

Dukungan publik yang kuat menjadi bukti bahwa masyarakat menginginkan tindakan nyata dari para pemimpin dunia. Oleh karena itu, langkah pemerintah menjadi sangat krusial dalam merespon aspirasi global ini.

Pajak progresif bukan sekadar kebijakan fiskal, tetapi wujud keadilan sosial dan perlindungan lingkungan. Implementasi kebijakan ini dapat menjadi solusi nyata atas kerusakan lingkungan dan krisis iklim yang terus memburuk.

Dengan bergabung dalam gerakan global menuntut keadilan iklim, Indonesia akan menunjukkan kepemimpinan moral sekaligus memperkuat komitmen terhadap pembangunan berkelanjutan yang adil dan inklusif. (*)

Tags: emisi karbonGreenpeacekeadilan ekonomikrisis iklimpajak progresifsuper kaya
Post Sebelumnya

Indonesia Dorong Aviasi Hijau Lewat SAF

Post Selanjutnya

Pendaftar Beasiswa Sobat Bumi Tembus 23 Ribu Mahasiswa

Akmal Solihannoer

Akmal Solihannoer

Berita Terkait

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung bersama Inspektorat DKI Jakarta Dhany Sukma. (Foto: Ridwansyah/ekoin.co)

Pramono Terbitkan Pergub Efisiensi Energi dan Air Hadapi Perubahan Iklim

oleh Noval Verdian
7 Februari 2026
0

Jakarta, Ekoin.co - Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung menerbitkan Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 5 Tahun 2026 tentang Efisiensi Energi dan...

Proses pembongkaran salah satu struktur beton tiang monorel di Jalan HR Rasuna Said, Jakarta. Gubernur Pramono Anung menargetkan percepatan pengerjaan guna segera memulai penataan pedestrian dan taman di kawasan strategis Kuningan. (Foto: Istimewa)

Belasan Tahun Mangkrak, Tiang Beton Monorel di Jantung Jakarta Akhirnya Mulai Dibersihkan

oleh Hasrul Ekoin
6 Februari 2026
0

“Setelah melihat kondisi lapangan, pengerjaan harus dipercepat. Sekarang bisa empat hingga lima tiang sehari,” kata Pramono di Hotel Aryaduta Menteng,...

DPRD mendorong Pemprov DKI untuk tetap fokus pada pengentasan kemiskinan dan layanan dasar meski tengah menghadapi tantangan stabilitas fiskal daerah. (Foto: Humas DPRD DKI/Ekoin.co)

Jakarta Membaik tapi Masih Timpang, Yuke Yurike Soroti Kesenjangan Antargenerasi yang Lebar

oleh Hasrul Ekoin
6 Februari 2026
0

Ia menilai perencanaan program daerah tidak bisa berjalan parsial, melainkan harus dikunci agar sejalan dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional...

Ilustrasi pertemuan diplomatik tingkat tinggi antara AS dan Iran di Oman. Perundingan yang dimulai Jumat (6/2/2026)

Diplomasi di Ujung Tanduk: AS-Iran Bertemu di Oman, Trump Tebar Ancaman Jika Negosiasi Nuklir Gagal

oleh Hasrul Ekoin
6 Februari 2026
0

Bagi Iran, perundingan kali ini disebut sebagai upaya mempertahankan hak nasional sekaligus membuka ruang kesepahaman baru.

Post Selanjutnya
Emisi Karbon Turun, Pertamina Dorong Transisi Energi

Pendaftar Beasiswa Sobat Bumi Tembus 23 Ribu Mahasiswa

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

EKOIN.CO

EKOIN.CO - Media Ekonomi Nomor 1 di Indonesia

  • REDAKSI
  • IKLAN
  • MEDIA CYBER
  • PETA SITUS
  • KEBIJAKAN PRIVASI
  • PERSYARATAN LAYANAN
  • KODE ETIK JURNALISTIK

© 2025 EKOIN.CO
Media Ekonomi No. 1 di Indonesia
Developed by logeeka.id.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • BERANDA
  • EKOBIS
    • EKONOMI
    • KEUANGAN
    • INDUSTRI
    • INFRASTRUKTUR
    • PERTANIAN
    • PROPERTI
    • UMKM
    • PROFIL
    • ENERGI
  • PERISTIWA
    • INTERNASIONAL
    • NASIONAL
    • MEGAPOLITAN
    • KRIMINAL
    • OPINI
    • SOSIAL
    • BREAKING NEWS
    • LINGKUNGAN
  • POLKUM
    • POLITIK
    • HUKUM
    • LIPUTAN KHUSUS
    • CEK FAKTA
    • BERITA FOTO
    • BERITA VIDEO
  • HIBURAN
    • KEGIATAN
    • DESTINASI
    • KESEHATAN
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SELEBRITI
    • MUSIK
  • RAGAM
    • EBOOK
    • EDUKASI
    • HIKMAH
    • SENI & BUDAYA
    • TIPS
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI

© 2025 EKOIN.CO
Media Ekonomi No. 1 di Indonesia
Developed by logeeka.id.