NEW YORK, EKOIN.CO – Harga emas dunia mengalami penurunan signifikan pada perdagangan Senin (11/8/2025) setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memastikan bahwa tidak akan ada tarif impor yang dikenakan pada logam mulia tersebut. Pernyataan ini sekaligus menghapus kekhawatiran pasar yang sebelumnya sempat menguat akibat spekulasi pemberlakuan tarif baru. (Baca Juga : Harga Emas Melemah saat Pasar Tunggu Data Inflasi AS)
Sentimen negatif yang sempat membebani harga emas kini mereda setelah kepastian dari Gedung Putih tersebut. Investor langsung bereaksi dengan melakukan aksi jual, sehingga harga emas spot anjlok 1,63% ke level US$ 3.342,37 per troy ons. Sementara itu, kontrak emas berjangka untuk pengiriman Desember turun 2,8% ke posisi US$ 3.393,7 per ons.
Sebelumnya, harga emas sempat mencetak rekor tertinggi pada Jumat (8/8/2025) di tengah kabar bahwa Washington berencana mengenakan tarif impor pada emas batangan berdasarkan negara asal. Isu ini membuat pasar menjadi sangat waspada dan memicu lonjakan harga. Namun, kabar tersebut kini dibantah oleh Trump yang menegaskan logam mulia ini tidak akan termasuk dalam daftar barang kena tarif.
Reaksi Pasar Terhadap Kepastian Tarif Emas
Jim Wyckoff, Senior Analyst Kitco Metals, menyatakan bahwa pasar sudah mulai merespons ketidakpastian yang terjawab dengan lebih bearish. Menurutnya, “Pasar kini akan berfokus pada faktor lain yang berpotensi mendongkrak harga emas, khususnya bila The Fed menurunkan suku bunga.” Pernyataan ini memberikan gambaran bahwa pergerakan harga emas masih sangat bergantung pada kebijakan moneter AS yang akan datang.
Penguatan atau pelemahan harga emas sangat dipengaruhi oleh kondisi ekonomi makro, terutama kebijakan suku bunga dan tingkat inflasi. Sebagai aset safe haven, emas biasanya mengalami peningkatan permintaan ketika suku bunga rendah dan inflasi tinggi. Oleh sebab itu, investor menaruh perhatian besar pada data inflasi yang akan dirilis pekan ini.
Pekan ini, pasar menantikan rilis indeks harga konsumen (CPI) AS yang dijadwalkan keluar pada Selasa (12/8/2025). Data ini akan menjadi indikator utama untuk menentukan arah kebijakan Federal Reserve dalam rapat mendatang. Selain itu, indeks harga produsen (PPI) yang dijadwalkan rilis pada Kamis (14/8/2025) juga akan ikut menentukan sentimen pasar.
Data Inflasi Jadi Penentu Kebijakan The Fed
Data inflasi AS menjadi perhatian utama karena selama ini The Fed kerap menggunakan data tersebut sebagai dasar dalam menetapkan suku bunga. Jika inflasi tetap tinggi, kemungkinan besar The Fed akan menaikkan suku bunga untuk menahan laju kenaikan harga. Sebaliknya, inflasi yang melambat dapat membuka peluang penurunan suku bunga.
Penurunan suku bunga oleh The Fed biasanya menjadi angin segar bagi harga emas. Karena ketika suku bunga turun, daya tarik investasi pada aset tanpa bunga seperti emas meningkat. Oleh karena itu, investor sangat berharap data inflasi pekan ini menunjukkan penurunan yang cukup signifikan.
Sementara itu, analis pasar memperkirakan bahwa data CPI kali ini akan memberikan gambaran lebih jelas mengenai tren inflasi yang sedang berlangsung di Amerika Serikat. Indikasi penurunan inflasi dapat memicu koreksi positif bagi harga emas dalam waktu dekat.
Namun, di sisi lain, ketidakpastian global seperti ketegangan geopolitik dan kondisi ekonomi dunia yang belum sepenuhnya stabil juga dapat mendorong investor beralih ke emas sebagai aset pelindung nilai. Faktor-faktor tersebut kerap kali membuat harga emas tetap stabil atau bahkan naik saat pasar keuangan mengalami gejolak.
Para pelaku pasar juga mengamati bahwa permintaan emas dari sektor perhiasan dan industri masih menunjukkan tren yang kuat. Hal ini menjadi faktor tambahan yang mendukung stabilitas harga logam mulia ini di tengah dinamika pasar.
Dari sisi teknikal, harga emas menunjukkan level support yang kuat di kisaran US$ 3.300 per ons. Jika level ini bertahan, ada peluang harga untuk rebound dan menguat kembali dalam beberapa pekan mendatang.
Sebaliknya, jika harga menembus batas support tersebut, tekanan jual dapat berlanjut dan membuat harga emas terkoreksi lebih dalam lagi. Oleh sebab itu, investor disarankan untuk memantau pergerakan harga secara ketat.
Mengingat kondisi pasar saat ini, pengelolaan risiko menjadi kunci bagi para investor dan trader emas agar dapat mengambil posisi yang tepat. Strategi diversifikasi portofolio juga sangat dianjurkan untuk mengantisipasi volatilitas harga yang tinggi.
Ketidakpastian kebijakan The Fed serta data inflasi yang akan datang akan menjadi penentu arah harga emas di masa depan. Oleh karena itu, pasar masih harus bersabar menunggu kepastian data dan keputusan dari otoritas moneter.
Di tengah kondisi tersebut, permintaan terhadap emas fisik juga diperkirakan tetap stabil, terutama dari negara-negara dengan ketidakpastian ekonomi tinggi. Ini menunjukkan bahwa emas tetap menjadi instrumen investasi yang dipercaya sebagai lindung nilai.
Sebagai tambahan, perkembangan teknologi dan inovasi dalam perdagangan emas digital turut memudahkan akses investor untuk membeli dan menjual logam mulia ini, yang turut mempengaruhi likuiditas pasar.
Harga emas yang terkoreksi saat ini juga membuka kesempatan bagi investor jangka panjang untuk menambah posisi pada harga yang relatif lebih murah. Ini bisa menjadi strategi investasi yang menguntungkan ketika harga kembali menguat.
Dengan demikian, pergerakan harga emas ke depan sangat bergantung pada kombinasi faktor fundamental, teknikal, dan geopolitik yang terus berkembang. Investor disarankan untuk selalu mengikuti informasi terkini dan melakukan analisis mendalam sebelum membuat keputusan.
(*)
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v





