MOSKOW, EKOIN.CO – Menjelang pertemuan bersejarah antara Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump di Alaska pada Jumat mendatang, Moskow diduga tengah bersiap melakukan uji coba rudal jelajah bertenaga nuklir 9M730 Burevestnik atau Skyfall.
(Baca Juga : Putin dan Trump Akan Bertemu di Alaska)
Rudal Skyfall dikenal sebagai senjata unik dalam gudang arsenal Rusia dan menjadi pembicaraan hangat di kalangan negara-negara Barat. Misil ini diklaim memiliki jangkauan tak terbatas, memungkinkannya mencapai titik mana pun di dunia dari lokasi peluncuran mana pun.
Jika uji coba itu berhasil dilakukan, Rusia akan mencatat sejarah sebagai negara pertama yang mengoperasikan rudal jelajah dengan sistem propulsi nuklir sekaligus membawa hulu ledak nuklir. Kemampuan ini secara strategis akan mengubah peta kekuatan militer global.
(Baca Juga : Kekuatan Nuklir Rusia yang Ditakuti)
Menurut laporan Defense Romania pada Selasa (12/8/2025), indikasi persiapan uji coba terlihat di lapangan Pankovo, Kepulauan Arktik Novaya Zemlya. Kawasan ini sejak lama dikenal sebagai lokasi uji senjata nuklir dan teknologi strategis Rusia.
Persiapan Intensif di Novaya Zemlya
Meski belum ada pengumuman resmi dari Moskow, sejumlah tanda telah muncul. Salah satunya adalah dikeluarkannya peringatan NOTAM (Notice to Airmen) untuk periode 7–12 Agustus, yang meliputi area seluas 40.000 kilometer persegi di atas Novaya Zemlya.
Selain itu, empat kapal Rusia yang sebelumnya berlabuh dekat lokasi uji Pankovo kini dipindahkan ke posisi observasi di Laut Barents bagian timur. Langkah ini dinilai sebagai prosedur keamanan standar dalam uji coba rudal besar.
(Baca Juga : Kegiatan Militer Rusia di Laut Barents)
Dua pesawat milik Rosatom, badan nuklir Rusia, juga terpantau berada di pangkalan udara Rogachevo. Aktivitas ini menambah kuat dugaan bahwa uji coba Skyfall semakin dekat untuk dilakukan.
Dalam beberapa minggu terakhir, kapal-kapal kargo juga tercatat beberapa kali singgah di Novaya Zemlya. Pergerakan ini mengindikasikan adanya operasi logistik berskala besar di kawasan tersebut.
Skyfall, Senjata Berteknologi Tinggi
“Persiapan telah berlangsung selama berminggu-minggu di lokasi peluncuran Pankovo di Novaya Zemlya, Arktik Rusia,” tulis The Barents Observer, media berbasis di Norwegia. Pernyataan ini mempertegas keseriusan Moskow dalam proyek strategis ini.
(Baca Juga : Riwayat Uji Coba Nuklir Rusia)
Sejak akhir 1950-an, Novaya Zemlya memang menjadi pilihan Rosatom untuk melakukan uji senjata nuklir. Lokasinya yang terpencil di Arktik memberikan keuntungan strategis dalam menjaga kerahasiaan operasi.
Skyfall sendiri masuk kategori rudal jelajah bertenaga nuklir yang revolusioner. Sistem propulsinya berbeda dari rudal konvensional, memungkinkan waktu jelajah berhari-hari dan manuver menghindari sistem pertahanan musuh.
Jika dioperasikan, Skyfall dapat menjadi pengubah permainan dalam doktrin militer Rusia. Senjata ini memberi kemampuan serangan global tanpa peringatan yang cukup bagi lawan.
(Baca Juga : Strategi Pertahanan Global Rusia)
Bagi Barat, keberhasilan uji coba Skyfall akan menjadi ancaman serius. Teknologi ini berpotensi memicu perlombaan senjata baru yang lebih canggih dan sulit diantisipasi.
Rencana uji coba rudal jelajah nuklir Skyfall menjelang pertemuan Putin–Trump menunjukkan langkah strategis Rusia di panggung global. Aktivitas logistik dan pergerakan militer di Novaya Zemlya menjadi indikasi kuat persiapan ini.
Langkah Moskow ini dinilai akan meningkatkan ketegangan geopolitik. Amerika Serikat dan sekutunya tentu memantau perkembangan ini dengan cermat.
Apabila berhasil, uji coba Skyfall akan menandai lompatan teknologi persenjataan nuklir Rusia. Hal ini sekaligus mempertegas ambisi Moskow mempertahankan statusnya sebagai kekuatan militer terdepan.
Bagi komunitas internasional, situasi ini menimbulkan dilema antara perlunya menjaga stabilitas global dan menghadapi realitas inovasi militer yang terus berkembang.
Masyarakat dunia dihadapkan pada pertanyaan besar: apakah inovasi seperti Skyfall akan membawa keamanan atau justru mempercepat risiko konflik besar di masa depan. (*)
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v





