:JAKARTA, EKOIN.CO – Ekspor batu kerikil Indonesia kembali menunjukkan performa positif di pasar global pada 2024, dengan nilai mencapai US$55,3 juta atau sekitar Rp900 miliar. Komoditas ini, yang kerap dianggap sepele, ternyata menjadi salah satu bahan galian bukan logam andalan Indonesia, terutama untuk memenuhi kebutuhan reklamasi dan pengembangan infrastruktur pesisir di berbagai negara.
(Baca Juga: Ekspor Batu Kerikil Naik)
Berdasarkan data Analisis Komoditas Ekspor 2020–2024 milik Badan Pusat Statistik (BPS), volume ekspor batu kerikil Indonesia stabil di kisaran lebih dari 8 juta ton per tahun. Pasar terbesar berasal dari Singapura, Korea Selatan, Amerika Serikat, Taiwan, dan Jepang.
Singapura Dominasi Pasar Ekspor Batu Kerikil
Singapura menjadi tujuan ekspor terbesar batu kerikil Indonesia, dengan nilai US$52,0 juta pada 2024 atau 94,05% dari total ekspor nasional. Angka ini meningkat 3,47% dibandingkan tahun sebelumnya, mencerminkan tingginya permintaan negara tersebut yang minim sumber daya mineral namun gencar melakukan proyek reklamasi lahan.
(Baca Juga: Pasar Kerikil Singapura)
Provinsi Kepulauan Riau menjadi pemasok utama, menyumbang 93,75% dari total nilai ekspor batu kerikil nasional. Berat ekspor dari provinsi ini mencapai 7,982 juta ton, naik 4,41% dibandingkan tahun 2023, diikuti peningkatan nilai sebesar 3,39% dari US$50,2 juta menjadi US$51,9 juta.
Kontribusi Daerah Lain Menurun
Berbeda dengan Kepulauan Riau, provinsi lain justru mengalami penurunan ekspor batu kerikil. Nusa Tenggara Timur mencatat penurunan berat ekspor 20,46% menjadi 13,1 ribu ton, sementara nilainya turun 26,32% menjadi US$2,0 juta.
(Baca Juga: Penurunan Ekspor Batu Kerikil)
Jawa Timur juga mengalami penurunan tajam, dengan berat ekspor merosot 40,18% dari 16,7 ribu ton menjadi 10 ribu ton. Nilai ekspornya susut 37,58% menjadi US$1,3 juta, menandakan tantangan besar bagi daerah tersebut untuk mempertahankan daya saing.
Secara umum, tren ini memperlihatkan bahwa ketergantungan ekspor batu kerikil Indonesia masih terpusat pada satu wilayah besar, sehingga risiko terganggunya pasokan cukup tinggi bila terjadi hambatan produksi di daerah tersebut.
Pakar perdagangan internasional menilai, keberhasilan mempertahankan pasar batu kerikil bergantung pada diversifikasi sumber pasokan dan penguatan industri pengolahan bahan galian di berbagai provinsi.
(Baca Juga: Strategi Ekspor Batu Kerikil)
Batu kerikil sendiri terbentuk dari proses pelapukan alami batuan besar seperti granit, basalt, atau kapur akibat cuaca, maupun dari hasil tambang dan pemecahan batu untuk keperluan konstruksi. Material ini digunakan untuk fondasi bangunan, estetika taman, hingga sistem drainase.
Pasar global tetap melihat batu kerikil sebagai komoditas penting karena perannya dalam proyek infrastruktur, terutama di negara-negara dengan keterbatasan lahan seperti Singapura dan Jepang.
Kebutuhan pasar Jepang dan Amerika Serikat juga relatif stabil, didorong oleh proyek pemeliharaan infrastruktur dan pengembangan kawasan pesisir. Taiwan pun masih mempertahankan permintaan meski skalanya lebih kecil dibandingkan Singapura.
(Baca Juga: Pasar Global Batu Kerikil)
Data historis lima tahun terakhir menunjukkan pertumbuhan nilai ekspor batu kerikil Indonesia cenderung stabil, meski menghadapi tantangan logistik, regulasi lingkungan, dan persaingan harga dari negara lain.
Dengan nilai ekspor yang besar, kontribusi batu kerikil terhadap perekonomian daerah pemasok cukup signifikan, terutama bagi Kepulauan Riau yang ekonominya banyak ditopang sektor pertambangan dan perdagangan luar negeri.
Pemerintah daerah disebut tengah mengupayakan pengelolaan berkelanjutan untuk menjaga cadangan batu kerikil, sekaligus menghindari dampak lingkungan yang dapat menghambat produksi di masa depan.
Sementara itu, Kementerian Perdagangan mendorong pelaku usaha untuk mencari pasar baru guna mengurangi ketergantungan pada satu negara tujuan, sehingga risiko penurunan permintaan bisa diminimalkan.
(Baca Juga: Diversifikasi Ekspor Batu Kerikil)
Ekspor batu kerikil Indonesia 2024 menegaskan bahwa komoditas ini tetap strategis bagi pasar global, dengan Singapura menjadi pembeli terbesar. Nilai dan volume ekspor menunjukkan tren positif meski beberapa provinsi mengalami penurunan.
Pemerintah dan pelaku usaha perlu memperluas pasar ekspor, memperkuat infrastruktur produksi di daerah, dan mengedepankan praktik penambangan berkelanjutan demi menjaga daya saing jangka panjang.
(*)
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v





