Bekasi, Ekoin.co – Dua siswa SD Islam Terpadu (SDIT) berinisial KBW dan FAP meninggal dunia akibat tenggelam di kolam renang milik sekolah yang berada di Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Kejadian tragis ini berlangsung pada Senin (11/8/2025) siang dan kini tengah diselidiki pihak kepolisian.
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v
Kasubbid Penmas Bidhumas Polda Metro Jaya AKBP Reonald Simanjuntak membenarkan adanya dua korban jiwa dalam insiden tersebut. “Telah terjadi dua orang meninggal dunia diduga tenggelam. Korban KBW laki-laki dan FAP perempuan,” ujarnya kepada wartawan, Selasa (12/8/2025).
Peristiwa berawal saat kedua korban mengikuti kegiatan ekstrakurikuler renang setelah jam pelajaran selesai. Kegiatan tersebut dilaksanakan di kolam renang yang lokasinya berada tepat di depan sekolah SDIT tersebut.
Kronologi Kejadian Tenggelamnya Dua Siswa SDIT
Berdasarkan keterangan polisi, sekitar pukul 14.00 WIB, kedua korban bersama siswa lainnya memulai latihan renang. Aktivitas ini merupakan bagian dari program sekolah setelah proses belajar mengajar selesai pada hari itu.
Sekitar 30 menit kemudian, tepat pukul 14.30 WIB, pihak sekolah menghubungi orang tua korban. Mereka diminta segera datang ke Rumah Sakit Viola Pondok Ungu Permai. Dalam panggilan tersebut, pihak sekolah menyampaikan bahwa telah terjadi insiden di kolam renang.
BACA JUGA
Hadiah Mewah di Program Rejeki wondr BNI
Setibanya di rumah sakit, orang tua korban menerima kabar bahwa KBW dan FAP telah meninggal dunia. “Diberi tahu bahwa KBW dan FAP telah meninggal dunia diduga tenggelam di kolam renang milik sekolah,” kata Reonald.
Jenazah kedua korban kemudian diserahkan kepada pihak keluarga masing-masing untuk dimakamkan. Proses penyerahan dilakukan setelah pihak kepolisian melakukan pemeriksaan awal di rumah sakit.
Penanganan Kasus oleh Kepolisian
Polsek Babelan kini menangani penyelidikan lebih lanjut. Pemeriksaan saksi-saksi termasuk pihak sekolah dan rekan korban yang ikut dalam kegiatan renang dilakukan untuk mengungkap kronologi secara detail.
Polisi juga memeriksa kelayakan fasilitas kolam renang milik sekolah, termasuk keberadaan petugas pengawas atau instruktur renang saat kegiatan berlangsung. Langkah ini dilakukan untuk memastikan apakah prosedur keamanan sudah dipenuhi.
Hingga saat ini, pihak sekolah belum memberikan keterangan resmi terkait kejadian tersebut. Aparat kepolisian menegaskan penyelidikan akan dilakukan secara transparan demi memastikan penyebab pasti tenggelamnya kedua korban.
Reonald menekankan pentingnya peran pengawasan selama kegiatan ekstrakurikuler yang melibatkan risiko tinggi seperti berenang. “Setiap kegiatan yang berpotensi membahayakan keselamatan siswa harus disertai dengan pengawasan yang ketat,” ujarnya.
Masyarakat sekitar sekolah turut berduka atas musibah ini. Beberapa warga yang mengetahui kejadian menyampaikan keprihatinan dan berharap kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang.
Kolam renang tempat kejadian dilaporkan berada dalam kompleks sekolah, sehingga aksesnya relatif dekat dengan ruang belajar. Namun, informasi terkait jumlah pengawas saat kegiatan berlangsung belum diungkapkan secara resmi.
Pihak kepolisian mengimbau seluruh sekolah yang memiliki fasilitas renang untuk memastikan protokol keselamatan terpenuhi. Imbauan ini termasuk kehadiran instruktur berpengalaman, alat keselamatan memadai, serta prosedur pertolongan darurat yang siap dilakukan kapan saja.
Kasus ini menjadi perhatian publik, terutama bagi para orang tua yang mempercayakan pendidikan anaknya di sekolah dengan fasilitas ekstrakurikuler renang. Beberapa pihak menilai perlunya evaluasi manajemen kegiatan olahraga berisiko di sekolah.
Kegiatan belajar di sekolah tersebut tetap berlangsung meski suasana duka masih menyelimuti lingkungan pendidikan itu. Bendera setengah tiang dikibarkan sebagai tanda belasungkawa atas meninggalnya dua siswa.
Orang tua korban dan pihak keluarga besar berharap proses penyelidikan dapat berjalan cepat dan tuntas. Mereka juga meminta agar sekolah memperketat pengawasan terhadap seluruh kegiatan siswa di masa mendatang.
Tragedi ini menjadi pengingat akan pentingnya keselamatan anak-anak selama berada di lingkungan sekolah, tidak hanya di kelas, tetapi juga saat mengikuti kegiatan di luar ruangan. Pengawasan, persiapan, dan pelatihan darurat menjadi kunci untuk mencegah peristiwa serupa.
Sebagai penutup, peristiwa ini mengajarkan pentingnya koordinasi antara sekolah, orang tua, dan pihak keamanan dalam memastikan setiap kegiatan siswa aman dari risiko yang membahayakan nyawa. (*)





