ISLAMABAD, EKOIN.CO – Mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump memicu kontroversi usai mengumumkan rencana besar mengeksplorasi cadangan minyak di Pakistan. Melalui unggahan di platform Truth Social, Trump menyebut kemitraan energi ini akan menjadi langkah besar, bahkan menyiratkan kemungkinan Pakistan menjual minyak ke India di masa depan.
Gabung WA Channel EKOIN
Kontroversi Eksplorasi Minyak Pakistan
Rencana ini membuat banyak warga Pakistan terkejut sekaligus skeptis. Selama beberapa dekade, negeri itu telah berupaya menjadi produsen minyak besar, namun selalu menemui kegagalan. Pakistan masih bergantung pada impor hingga 80% kebutuhan minyaknya. Ketika pasokan menipis, pemadaman listrik sering kali terjadi.
Badan Informasi Energi AS (EIA) memperkirakan Pakistan memiliki cadangan minyak yang dapat dipulihkan mencapai 9,1 miliar barel. Namun, peneliti energi Pakistan, Afia Malik, menilai angka tersebut belum terbukti secara teknis. Cadangan terbukti Pakistan bahkan berada di peringkat ke-50 dunia, jauh di bawah negara seperti Rumania dan Vietnam.
Produksi minyak Pakistan pada 2023 tercatat kurang dari 100.000 barel per hari, kontras dengan produksi AS yang mencapai 13 juta barel per hari. Kondisi ini membuat publik meragukan realisasi janji besar Trump. Hambatan birokrasi, intervensi politik, dan ketidakpastian hukum selama ini menjadi faktor penghalang investor.
Trump menyatakan investasi akan datang dari perusahaan-perusahaan swasta AS, dengan proses seleksi perusahaan minyak pemimpin proyek yang masih berlangsung. Namun pengalaman pahit sebelumnya, seperti eksplorasi ExxonMobil di dekat Karachi pada 2019 yang gagal total, menjadi pelajaran mahal.
Motif Geopolitik di Balik Rencana
Beberapa analis menduga langkah Trump tak lepas dari dinamika geopolitik. Hubungan AS–Pakistan yang menghangat berbarengan dengan renggangnya hubungan Trump dengan India, terutama akibat kebijakan perdagangan dan pembelian minyak India dari Rusia.
Pemerintah Pakistan sendiri menyambut positif rencana ini. Menteri Energi Awais Leghari menegaskan keterbukaan terhadap investasi dari negara mana pun, baik AS maupun Cina. Gedung Putih melalui juru bicara Anna Kelly menyebut kerja sama ini dapat memperkuat keamanan ekonomi kedua negara.
Trump bahkan baru-baru ini menjamu Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan, Jenderal Asim Munir, di Gedung Putih. Laporan media menyebut Pakistan mempertimbangkan mengajukan Trump sebagai kandidat Nobel Perdamaian, usai keberhasilannya menengahi gencatan senjata India–Pakistan pada Mei lalu.
Namun, sejumlah pengamat menilai fokus AS tidak hanya pada minyak, tetapi juga potensi cadangan tanah jarang (rare earth) Pakistan. Sumber daya ini krusial untuk industri teknologi dan pertahanan, terutama dalam persaingan global melawan Cina, pemasok utama tanah jarang dunia.
AS telah menunjukkan minat lewat kehadiran delegasinya di Forum Investasi Mineral Pakistan pada April. Meski begitu, pengelolaan sumber daya ini masih terhambat keamanan dan infrastruktur yang belum memadai.
Proyek besar China–Pakistan Economic Corridor (CPEC) yang dirancang menghubungkan wilayah kaya sumber daya di Pakistan pun kerap terganggu. Ancaman datang dari kelompok separatis Baluch di Baluchistan dan militan Taliban Pakistan di Khyber Pakhtunkhwa yang terus melakukan serangan terhadap fasilitas dan kendaraan tambang.
Minggu lalu, kelompok separatis mengklaim bertanggung jawab atas serangan terhadap dua truk tambang. Mereka memperingatkan bahwa pihak mana pun yang terlibat dalam eksploitasi sumber daya alam akan menjadi target.
Kritik juga datang dari tokoh dalam negeri yang menilai masyarakat lokal tidak dilibatkan secara berarti. G.A. Sabri, mantan pejabat tinggi Kementerian Perminyakan, mengatakan penduduk sekitar merasa tersisih dari keuntungan eksplorasi.
Afia Malik menegaskan pentingnya melibatkan masyarakat lokal sebagai mitra sejati. “Ketika mereka melihat manfaat nyata dari eksplorasi, mereka akan lebih merasa memiliki dan termotivasi untuk menjaga keberlangsungan proyek,” ujarnya.
Di tengah janji Trump, realitas ekonomi Pakistan, dan kompleksitas politik kawasan, masa depan eksplorasi minyak Pakistan masih belum pasti. Harapan tetap ada, namun jalan menuju kemandirian energi dipenuhi tantangan besar.
Rencana Trump untuk mengeksplorasi cadangan minyak di Pakistan menjadi sorotan tajam, memadukan isu energi, politik, dan geopolitik. Dengan potensi besar namun hambatan yang tak kalah besar, langkah ini belum tentu berakhir sukses.
Keterlibatan masyarakat lokal, transparansi proyek, serta mitigasi risiko keamanan menjadi kunci jika Pakistan ingin keluar dari ketergantungan energi. Kerja sama internasional harus diiringi dengan manajemen yang bersih dan inklusif. ( * )
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v





