WASHINGTON EKOIN.CO –
Seorang biarawati asal Amerika Serikat memicu perbincangan internasional setelah menyampaikan kesaksian tentang kehidupan masyarakat di Palestina. Dalam sebuah program televisi di Amerika, Bunda Agapia Stephanopoulos menceritakan pengalamannya selama hampir tiga dekade bermukim di wilayah Tepi Barat. Ia menegaskan bahwa umat Kristiani di Palestina turut merasakan penderitaan yang sama seperti umat Muslim akibat kebijakan pendudukan Israel.
Gabung WA Channel EKOIN sekarang
Bunda Agapia, yang sejak 1996 tinggal di kota Bethany, Tepi Barat, menuturkan bahwa gerakan Hamas tidak semata dipandang sebagai organisasi bersenjata, tetapi sebagai perlawanan yang membela rakyat Palestina dan tanah airnya. Pernyataannya segera menimbulkan reaksi beragam, baik dari kalangan pro maupun kontra terhadap isu Palestina-Israel.
Dalam wawancaranya, biarawati itu menegaskan bahwa penderitaan warga Palestina tidak mengenal batas agama. “Kebijakan Israel telah membuat hidup sangat sulit bagi umat Kristen dan Muslim Palestina, karena pembatasan pergerakan, penyitaan tanah dan pembangunan pemukiman,” katanya dikutip Aljazeera, Ahad (17/8/2025).
Menurutnya, jumlah orang Kristen di Palestina terus menurun secara drastis sejak peristiwa Nakba 1948. Ia menyebut pelecehan, pengusiran, serta tekanan kebijakan Israel menjadi faktor utama yang mendorong banyak keluarga Kristiani meninggalkan tanah kelahirannya.
Hamas dan Realitas Palestina
Pernyataan Bunda Agapia soal Hamas mendapat sorotan besar, terutama di Amerika Serikat, di mana opini publik kerap terbelah mengenai peran organisasi itu. Ia menggambarkan Hamas sebagai simbol perlawanan rakyat, bukan sekadar entitas politik atau militer.
Biarawati tersebut menekankan bahwa situasi yang dialami umat Kristen Palestina tidak berbeda dengan umat Muslim. Diskriminasi, keterbatasan mobilitas, serta penyitaan tanah menurutnya menjadi bukti nyata dari tekanan yang sama terhadap seluruh warga Palestina tanpa memandang agama.
“Masalah ini bukan soal agama, melainkan soal nasionalitas. Orang Kristen Palestina juga diperlakukan dengan diskriminasi hanya karena identitas mereka sebagai warga Palestina,” ujarnya.
Keterangan itu dianggap mengejutkan sebagian pemirsa di Amerika, karena menggambarkan sisi lain yang jarang muncul dalam narasi arus utama media Barat mengenai konflik Israel-Palestina.
Kritik terhadap Zionisme Kristen
Selain membicarakan kehidupan di Palestina, Bunda Agapia juga mengkritik sebagian kelompok Kristen di Amerika Serikat yang ia sebut mendukung Israel secara buta. Menurutnya, kelompok tersebut menutup mata terhadap penderitaan sesama umat Kristen Palestina yang hidup di bawah pendudukan.
Ia menyebut fenomena itu sebagai bentuk ketidakadilan moral, karena dukungan yang diberikan kepada Israel justru berbanding terbalik dengan realitas yang dihadapi umat Kristen di Palestina. Pemukiman, perampasan tanah, serta tekanan administratif disebutnya kerap dibenarkan oleh kalangan Kristen Zionis di Amerika.
Pandangan Bunda Agapia menambah daftar panjang suara-suara alternatif dari kalangan religius internasional yang menyerukan perhatian terhadap kondisi Palestina.
Reaksi publik atas pernyataan itu beragam. Ada yang menilai kesaksian Bunda Agapia memperkuat pemahaman bahwa konflik Palestina-Israel bukanlah sekadar konflik agama, melainkan isu kemanusiaan dan hak asasi.
Sebagian lainnya menolak pendapat tersebut dengan alasan bahwa Hamas tetap terlibat dalam aksi kekerasan yang menargetkan warga sipil Israel. Namun, apa yang disampaikan sang biarawati menambah perspektif baru dalam wacana publik di Amerika Serikat.
Pernyataan itu juga menyoroti fakta bahwa minoritas Kristen Palestina kerap luput dari perhatian dunia internasional. Keberadaan mereka semakin terdesak oleh situasi politik yang berkepanjangan di kawasan tersebut.
Banyak pengamat menilai bahwa kesaksian pribadi seperti yang dibagikan Bunda Agapia penting untuk memperluas pemahaman masyarakat global mengenai dimensi kemanusiaan dalam konflik. Dengan begitu, narasi publik tidak hanya terfokus pada aspek geopolitik semata.
Kesaksian itu juga mengingatkan bahwa dampak konflik di Palestina bersifat lintas agama, dan menimpa semua warga tanpa kecuali.
Pada akhirnya, pernyataan Bunda Agapia menegaskan bahwa suara dari lapangan, terlebih dari mereka yang telah hidup lama di Palestina, patut didengar dalam merumuskan pemahaman dan solusi atas konflik yang berkepanjangan ini.
Kesaksian Bunda Agapia Stephanopoulos memberikan perspektif baru mengenai realitas hidup di Palestina. Ia menegaskan bahwa penderitaan warga di sana bukanlah persoalan agama, melainkan penindasan politik dan identitas nasional.
Pernyataannya memperlihatkan bahwa umat Kristen Palestina menghadapi masalah yang sama beratnya dengan umat Muslim, mulai dari pembatasan pergerakan hingga perampasan tanah.
Kesaksian itu juga menunjukkan bahwa Hamas dipandang sebagian warga Palestina bukan hanya sebagai organisasi politik, tetapi sebagai simbol perlawanan yang membela tanah air.
Bunda Agapia mengkritik keras dukungan buta sebagian Kristen Zionis di Amerika terhadap Israel, yang dianggapnya menutup mata terhadap penderitaan sesama umat Kristen Palestina.
Suara-suara seperti ini penting bagi masyarakat internasional agar tidak hanya melihat konflik Palestina-Israel dari sudut pandang geopolitik, melainkan juga kemanusiaan. (*)
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v





