Budapest, EKOIN.CO-Hungaria mengkritik keras Ukraina setelah serangan drone menghantam jalur pipa minyak Druzhba, salah satu rute energi utama bagi Eropa. Menteri Luar Negeri Hungaria, Peter Szijjarto, memperingatkan bahwa insiden tersebut mengancam keamanan energi negaranya.
Ikuti update berita lainnya di WA Channel EKOIN
Serangan itu dilaporkan menargetkan stasiun distribusi kunci pipa minyak Druzhba di Wilayah Bryansk, Rusia. Beberapa titik kebakaran dilaporkan terjadi setelah serangan drone yang diduga dilancarkan militer Ukraina.
Pipa Druzhba, yang berarti “persahabatan” dalam bahasa Rusia, merupakan salah satu jalur pipa terpanjang di dunia dengan panjang 4.000 kilometer. Infrastruktur energi ini menyalurkan minyak mentah dari Rusia dan Kazakhstan menuju Jerman, Republik Ceko, Slovakia, Polandia, serta Hungaria.
Druzhba dan Ancaman Keamanan Energi
Menurut laporan media, salah satu lokasi utama yang diserang adalah stasiun Unecha, pusat vital dalam sistem Druzhba. Stasiun ini menjadi simpul penghubung antara pasokan Rusia dan konsumen energi di Eropa.
Staf Jenderal Ukraina mengonfirmasi melalui unggahan di Facebook bahwa serangan drone tersebut memang menyasar fasilitas pompa minyak. Namun, otoritas Rusia hingga kini belum memberikan tanggapan resmi terkait kerusakan yang ditimbulkan.
Szijjarto menyebut serangan itu mengejutkan dan tidak dapat diterima, mengingat jalur tersebut menjadi urat nadi energi Hungaria. “Semalaman, Ukraina meluncurkan serangan drone terhadap stasiun distribusi kunci dari pipa minyak Druzhba di Wilayah Bryansk Rusia,” tulisnya di platform X.
Ia menegaskan bahwa negaranya sangat bergantung pada pipa itu untuk menjamin keberlangsungan pasokan minyak. Serangan yang merusak jalur distribusi dinilai bisa memicu gangguan besar pada rantai energi nasional.
Hungaria Tekan Ukraina Hentikan Serangan
Dalam pernyataan lebih lanjut, Szijjarto mengingatkan bahwa Hungaria justru membantu Ukraina dalam sektor energi. Ia menyebut Budapest adalah pemasok listrik nomor satu bagi Kiev. Tanpa dukungan itu, katanya, sistem energi Ukraina akan jauh lebih rapuh.
“Kami mendesak Kiev untuk berhenti membahayakan pasokan energi Hungaria dan menghentikan serangan di rute energi yang tidak ada hubungannya dengan kami orang Hungaria,” tegasnya.
Pernyataan itu menambah ketegangan diplomatik antara kedua negara, terutama karena Hungaria selama ini kerap menempuh jalur berbeda dibanding negara-negara Uni Eropa lain dalam menyikapi perang Rusia-Ukraina.
Serangan terhadap Druzhba bukan hanya soal infrastruktur, tetapi juga menyangkut kepercayaan politik dalam aliansi energi regional. Jika jalur pasokan utama terganggu, risiko defisit energi di musim dingin semakin tinggi bagi banyak negara anggota UE.
Hungaria selama ini menolak pemutusan pasokan minyak Rusia secara total, berbeda dengan sikap beberapa anggota Uni Eropa lainnya yang mendukung sanksi lebih keras terhadap Moskow. Posisi ini membuat Budapest kerap dikritik, namun pemerintahnya beralasan bahwa keputusan tersebut murni soal kepentingan nasional.
Dalam konteks geopolitik, serangan ini menyoroti kerentanan jalur energi lintas batas yang menjadi taruhan di tengah perang yang belum menunjukkan tanda akan mereda. Infrastruktur vital seperti Druzhba tidak hanya menjadi urat nadi perekonomian, tetapi juga alat tawar menawar politik antarnegara.
Sementara itu, belum ada laporan resmi mengenai seberapa besar kerusakan yang terjadi akibat serangan drone tersebut, maupun dampaknya terhadap kapasitas distribusi minyak dalam beberapa hari ke depan.
Serangan terhadap pipa minyak Druzhba menambah risiko serius pada stabilitas energi Eropa. Hungaria, sebagai salah satu pengguna utama jalur itu, merasa langsung terancam pasokannya.
Peringatan keras dari Budapest mencerminkan kekhawatiran nyata bahwa konflik Rusia-Ukraina semakin menjalar ke ranah energi, bukan hanya militer.
Jika insiden semacam ini berulang, jalur energi Eropa bisa menjadi sasaran strategis dalam perang yang berkepanjangan.
Ketergantungan negara-negara Uni Eropa pada pipa minyak lintas wilayah seperti Druzhba menunjukkan lemahnya diversifikasi energi kawasan.
Saran yang muncul adalah agar Eropa mempercepat diversifikasi sumber energi, mengurangi ketergantungan pada jalur yang rentan, dan memperkuat koordinasi regional agar tidak mudah diguncang konflik eksternal. (*)
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v





