PRETORIA, EKOIN.CO – Panglima militer Afrika Selatan, Jenderal Rudzani Maphwanya, tengah menjadi sorotan setelah pernyataannya di Teheran memicu perdebatan politik. Dalam kunjungan resmi ke Iran, ia menegaskan solidaritas terhadap Iran dan Palestina, bahkan menyebut kedua negara memiliki tujuan militer yang sama. Isu ini mencuat ketika hubungan antara Afrika Selatan dan Amerika Serikat sedang berada di titik tegang, terutama akibat kebijakan tarif perdagangan baru.
Ikuti berita terbaru di WA Channel EKOIN
Menurut laporan media resmi Iran, Press TV dan Tehran Times, Maphwanya menyampaikan bahwa ikatan Iran dan Afrika Selatan berakar dari sejarah panjang dukungan Iran terhadap perjuangan anti-apartheid. Ia menyebut hubungan itu kini berkembang menjadi aliansi strategis yang lebih mendalam.
Maphwanya menegaskan, “Republik Afrika Selatan dan Republik Islam Iran memiliki tujuan bersama. Kami selalu berdiri berdampingan dengan rakyat dunia yang tertindas dan tak berdaya.” Pernyataan ini menjadi sorotan tajam karena keluar di tengah upaya Pretoria menjalin kembali kerja sama dagang dengan Washington.
Hubungan Afrika Selatan-Iran Menguat di Tengah Tekanan
Kunjungan Maphwanya ke Teheran berlangsung pada Selasa lalu, di mana ia bertemu dengan Panglima Angkatan Bersenjata Iran, Mayor Jenderal Seyyed Abdolrahim Mousavi. Dalam kesempatan itu, ia mengutuk penyerangan terhadap warga sipil Palestina oleh Israel, khususnya yang menimpa warga yang sedang mengantre makanan.
Ia juga menyebut bahwa kedatangannya ke Iran “membawa pesan politik” serta menjadi momentum untuk menegaskan dukungan kepada rakyat Iran. Menurut Tehran Times, Maphwanya menyampaikan bahwa kunjungan tersebut adalah ekspresi tulus rakyat Afrika Selatan kepada bangsa Iran yang “cinta damai.”
Di sisi lain, Mousavi memuji langkah hukum Afrika Selatan yang menggugat Israel di Mahkamah Internasional dengan tuduhan genosida. Baginya, langkah tersebut selaras dengan kebijakan Iran dalam menentang agresi Zionis di Palestina.
Mousavi menegaskan bahwa Iran akan memberikan “respons lebih tegas jika terjadi agresi baru,” sekaligus mengecam langkah militer maupun sanksi ekonomi dari Amerika Serikat dan Israel. Pernyataan itu memperlihatkan betapa eratnya sikap kedua negara dalam menentang kebijakan Barat di Timur Tengah.
Maphwanya Picu Ketegangan di Dalam Negeri
Namun, langkah Maphwanya tidak sepenuhnya mendapat restu politik dari dalam negeri. Kantor Presiden Cyril Ramaphosa menyatakan bahwa kepala negara tidak mengetahui detail kunjungan tersebut. Biasanya, urusan diplomasi militer memang menjadi kewenangan Kementerian Pertahanan, bukan presiden.
Pernyataan ini muncul setelah tekanan meningkat terhadap Ramaphosa, mengingat Washington baru saja memberlakukan tarif 30 persen untuk produk Afrika Selatan. Kebijakan tersebut dikhawatirkan memperburuk perekonomian nasional yang masih berjuang menghadapi tantangan global.
Sejumlah analis menilai pernyataan Maphwanya berpotensi menambah beban diplomatik Pretoria, karena memberi kesan bahwa Afrika Selatan semakin dekat dengan blok Timur, terutama Iran, di saat yang sama sedang mencari titik temu dengan Amerika Serikat.
Bagi sebagian pihak, dukungan terbuka Maphwanya terhadap Palestina dan kritik kerasnya kepada Israel dianggap konsisten dengan sejarah panjang Afrika Selatan yang menolak apartheid. Namun, bagi kalangan bisnis dan diplomasi, hal ini berisiko memperdalam keretakan dengan Washington.
Kunjungan Maphwanya dinilai memiliki dimensi politik lebih luas, tidak hanya menyangkut kerja sama militer, tetapi juga mempertegas posisi Afrika Selatan dalam percaturan geopolitik global. Isu ini dipastikan akan terus bergulir, terutama dengan tekanan internasional yang semakin meningkat terkait konflik di Gaza.
Dalam perkembangan terakhir, pernyataan resmi pemerintah Afrika Selatan belum menyebut adanya konsekuensi langsung terhadap Maphwanya. Namun, media lokal menyoroti kemungkinan adanya evaluasi dari otoritas pertahanan terkait arah kebijakan luar negeri yang lebih jelas.
Ketegangan ini sekaligus memperlihatkan bagaimana politik luar negeri Afrika Selatan berada dalam posisi sulit: menyeimbangkan solidaritas terhadap Palestina dan hubungan erat dengan Iran, sambil tetap menjaga kepentingan ekonomi dengan Amerika Serikat.
Bagi Maphwanya, sikapnya mungkin menjadi cerminan solidaritas moral dan sejarah. Namun bagi Pretoria, pernyataan itu bisa memicu konsekuensi jangka panjang yang sulit dihindari. (*)
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v





