California, EKOIN.CO – Masyarakat di California, Amerika Serikat, tengah dihebohkan oleh penemuan daging babi biru neon yang diduga terpapar pestisida berbahaya. Kasus ini mencuat setelah seorang pemburu melaporkan temuannya kepada otoritas satwa liar.
Gabung WA Channel EKOIN di sini
Pemeriksaan laboratorium mengungkapkan bahwa daging babi hutan tersebut mengandung rodentisida antikoagulan diphacinone. Zat ini dikenal beracun dan biasa digunakan sebagai umpan pestisida untuk mengendalikan populasi hewan pengerat.
Daging babi biru neon hasil uji laboratorium
Awal mula penemuan terjadi saat seorang pemburu menemukan daging babi hutan dengan warna mencolok pada otot, lemak, dan organ dalamnya. Warna biru neon atau biru elektrik yang muncul membuat sang pemburu segera berkoordinasi dengan pihak berwenang.
Laboratorium Kesehatan Satwa Liar (WHL) Departemen Perikanan dan Satwa Liar California (CDFW), bersama Laboratorium Kesehatan Hewan dan Keamanan Pangan California, kemudian melakukan pemeriksaan mendalam. Hasilnya menunjukkan bahwa babi tersebut sudah terpapar rodentisida berbahaya.
Menurut laporan National Geographic, fenomena daging babi biru neon ini sebenarnya bukan pertama kali terjadi di California. Beberapa tahun sebelumnya, kasus serupa sudah pernah ditemukan, meskipun jarang terekspos ke publik.
Pada Februari 2025, Dan Burton, pemilik Urban Trapping Wildlife Control, kembali menemukan kasus serupa di Monterey County. Saat membedah bangkai babi hutan, ia mendapati jaringan daging yang menyala dengan warna biru neon.
Peringatan otoritas soal daging babi biru neon
Temuan tersebut langsung mendapat perhatian serius dari CDFW. Lembaga ini kemudian mengeluarkan peringatan resmi bagi pemburu dan masyarakat untuk waspada terhadap risiko kesehatan dari mengonsumsi daging hewan liar yang terkontaminasi.
Pihak CDFW menyatakan, “Rodentisida antikoagulan bisa menyebabkan gangguan pembekuan darah, pendarahan internal, hingga kematian jika masuk ke dalam tubuh manusia maupun hewan lain.”
Otoritas juga meminta para pemburu agar tidak sembarangan mengonsumsi hasil buruan tanpa memastikan kondisi kesehatan hewan tersebut. Daging dengan warna tidak normal, termasuk biru neon, harus segera dilaporkan dan diuji laboratorium.
Selain itu, kasus ini juga menyoroti dampak luas penggunaan pestisida di alam liar. Pestisida yang seharusnya menargetkan hewan pengerat justru bisa masuk ke rantai makanan, memengaruhi satwa liar lain, bahkan manusia.
Dalam beberapa kasus, predator alami seperti burung pemangsa juga dapat terpapar jika memangsa hewan yang sudah terkontaminasi racun. Hal ini menimbulkan kekhawatiran ekologis di wilayah California.
Fenomena ini pun menambah daftar panjang tantangan pengelolaan satwa liar di negara bagian tersebut. Otoritas berkomitmen melakukan penelitian lanjutan untuk memahami dampak jangka panjang daging babi biru neon terhadap kesehatan manusia maupun ekosistem.
Fenomena daging babi biru neon yang ditemukan di California membuktikan adanya masalah serius akibat paparan pestisida di alam liar. Hasil uji laboratorium menunjukkan keterlibatan zat berbahaya yang seharusnya tidak masuk ke rantai makanan.
Masyarakat diminta lebih waspada, terutama para pemburu yang sering berinteraksi langsung dengan satwa liar. Pemeriksaan laboratorium menjadi langkah penting sebelum daging dikonsumsi.
Kasus ini juga mengingatkan bahwa penggunaan pestisida berpotensi menimbulkan dampak tak terduga pada lingkungan dan kesehatan manusia. Edukasi dan pengawasan harus terus ditingkatkan.
Peneliti menegaskan perlunya kebijakan yang lebih ketat dalam mengatur penggunaan rodentisida untuk mencegah peristiwa serupa terulang.
Kehati-hatian, kesadaran, dan kerjasama masyarakat dengan otoritas menjadi kunci untuk mencegah risiko lebih besar dari fenomena daging babi biru neon. (*)
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v





