Jakarta EKOIN.CO – Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,4% year on year (yoy) pada 2026. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan proyeksi 2025 yang berada di kisaran 5,2% yoy. Target ini dituangkan dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2026 yang resmi dipaparkan di Jakarta.
Target pertumbuhan tersebut dipandang ambisius di tengah kondisi global yang penuh ketidakpastian. Asumsi inflasi ditetapkan stabil di level 2,5% yoy, menjaga daya beli masyarakat agar tetap terjaga. Pemerintah juga memasukkan proyeksi kurs Rupiah yang melemah ke level Rp16.500 per dolar Amerika Serikat (USD), dibandingkan target tahun 2025 sebesar Rp16.000.
Baca juga : Inovasi BSI Gallery Permudah Layanan Nasabah Indonesia
Penyesuaian kurs ini mencerminkan tekanan eksternal yang masih tinggi dan berpotensi menahan stabilitas nilai tukar. Selain itu, pemerintah mengantisipasi sektor energi dengan lebih konservatif. Target lifting minyak dan gas pada 2026 diperkirakan turun tipis menjadi 1,59 juta barel setara minyak per hari (boepd), lebih rendah dari target 2025 sebesar 1,61 juta boepd.
Outlook harga minyak juga diturunkan menjadi 70 USD per barel dari sebelumnya 82 USD per barel. Penurunan tersebut menggambarkan permintaan global yang melambat meskipun pasokan relatif stabil. Hal ini penting untuk memastikan perhitungan RAPBN tidak terlalu optimistis dan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian.
Defisit Anggaran dan Penerimaan Negara
Pemerintah menargetkan defisit anggaran pada RAPBN 2026 sebesar 2,48% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini lebih rendah dibandingkan target APBN 2025 sebesar 2,53% dan outlook 2025 yang diperkirakan mencapai 2,78%. Penurunan defisit ini menjadi sinyal upaya menjaga kredibilitas fiskal.
Meski begitu, jika dibandingkan dengan rata-rata realisasi defisit lima tahun terakhir di luar periode Covid-19, target defisit 2026 masih relatif tinggi. Pemerintah tetap menekankan disiplin fiskal agar tidak menimbulkan risiko pelebaran defisit ke depan.
Penerimaan negara pada 2026 dipatok sebesar Rp3.147,7 triliun atau tumbuh 4,7% yoy. Angka ini menandai pertumbuhan penerimaan yang paling rendah dalam empat tahun terakhir. Meski moderat, pemerintah menilai proyeksi tersebut lebih realistis dengan mempertimbangkan kondisi global.
Di sisi lain, potensi penerimaan negara masih mendapat dukungan dari inflasi yang terkendali serta peluang penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate). Kedua faktor ini diharapkan mendorong konsumsi dan investasi sehingga menopang kinerja penerimaan pajak.
Belanja Pemerintah 2026
Anggaran belanja pemerintah pada 2026 ditetapkan sebesar Rp3.786,5 triliun, naik 4,6% yoy dari tahun sebelumnya. Fokus belanja diarahkan untuk mempercepat program strategis nasional yang berdampak langsung pada masyarakat.
Salah satu program prioritas adalah Makan Bergizi Gratis yang mendapatkan alokasi anggaran Rp335 triliun atau meningkat tajam 187% yoy. Selain itu, anggaran ketahanan pangan juga mengalami kenaikan 13,7% yoy menjadi Rp164,4 triliun.
Belanja pemerintah pusat tumbuh hingga 16,1% yoy, menunjukkan prioritas lebih besar pada program nasional. Sebaliknya, transfer ke daerah justru mengalami penurunan tajam 29,3% yoy. Kebijakan ini diambil dengan pertimbangan efisiensi dan fokus pada proyek prioritas.
Selain itu, pemangkasan anggaran dilakukan pada 15 pos belanja, termasuk untuk rapat, kegiatan seremonial, hingga pembangunan infrastruktur. Pemerintah menekankan bahwa efisiensi ini perlu agar belanja lebih tepat sasaran.

Risiko dan Prospek Ekonomi 2026
Tim Riset Bank Mandiri dalam kajiannya menilai prospek fiskal 2026 tetap prudent dengan defisit di bawah 3% dari PDB. Namun, beberapa risiko eksternal masih membayangi, khususnya perlambatan ekonomi Tiongkok dan moderasi harga komoditas.
Kebijakan tarif proteksionis Amerika Serikat juga menjadi perhatian. Walaupun Indonesia berhasil menurunkan tarif impor AS menjadi 19% melalui negosiasi, prospek ekspor Indonesia tetap terbatas. Hal ini berpotensi menahan pertumbuhan sektor perdagangan internasional.
Di sisi domestik, inflasi yang terkendali dan peluang penurunan suku bunga memberikan ruang lebih luas bagi konsumsi rumah tangga. Investasi juga diperkirakan meningkat karena biaya pinjaman lebih murah, sehingga dapat mendorong penerimaan pajak.
Meski demikian, terdapat risiko tekanan pada penerimaan pajak jika harga komoditas global melemah. Pemerintah harus mampu menjaga konsistensi kebijakan fiskal agar tetap mendukung pertumbuhan sekaligus stabilitas.
Dengan proyeksi tersebut, RAPBN 2026 disusun untuk memberikan arah kebijakan fiskal yang terukur. Pemerintah menekankan konsistensi dan kesinambungan dalam menjaga keseimbangan antara pertumbuhan, stabilitas, dan keberlanjutan fiskal.
Sebagai penutup, kebijakan fiskal 2026 dipandang tetap konsisten untuk menopang pertumbuhan ekonomi nasional di tengah tekanan global. Pemerintah menekankan bahwa langkah-langkah yang diambil tidak hanya berfokus pada angka, tetapi juga manfaat nyata bagi masyarakat.
Pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan 5,4% perlu dijaga dengan koordinasi lintas sektor agar dapat tercapai. Konsistensi kebijakan moneter dan fiskal harus terus dijalankan agar stabilitas ekonomi nasional tidak terganggu oleh gejolak eksternal.
Pemerintah diharapkan tetap memperkuat fondasi ekonomi domestik melalui penguatan konsumsi, investasi, dan industrialisasi. Hal ini penting agar pertumbuhan tidak hanya bergantung pada faktor global yang sulit diprediksi.
Efisiensi belanja negara perlu terus ditingkatkan dengan memastikan setiap program membawa manfaat langsung. Fokus pada program prioritas seperti pangan dan pendidikan akan mempercepat peningkatan kualitas hidup masyarakat.
Sektor energi dan kurs perlu tetap diawasi ketat agar tekanan eksternal tidak mengguncang stabilitas. Upaya diversifikasi sumber energi juga dapat memperkuat ketahanan ekonomi.
Dengan langkah-langkah strategis tersebut, RAPBN 2026 diharapkan mampu menjaga arah pertumbuhan ekonomi yang stabil, inklusif, dan berkelanjutan bagi Indonesia. (*)
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v





