KOLKATA, EKOIN.CO – Pabrik baja di India timur, khususnya di Kolkata, mulai kewalahan menghadapi tekanan akibat tarif impor baja dan aluminium sebesar 50% yang diberlakukan Amerika Serikat sejak Juni lalu. Kondisi ini membuat aktivitas produksi melambat hingga berhenti, sementara ribuan pekerja kini berada dalam ketidakpastian. Ikuti update berita ekonomi terbaru di WA Channel EKOIN.
Vijay Shankar Beriwal, pemilik Calcutta Iron Udyog, menjadi salah satu pelaku industri yang berani angkat suara terkait krisis ini. Ia menilai tarif yang diputuskan Presiden Donald Trump telah memberi pukulan berat bagi kelangsungan usaha kecil dan menengah di sektor baja.
Menurut Beriwal, pesanan dari pasar AS menurun drastis. Produsen yang sebelumnya memiliki kontrak berupaya menyelesaikan pengiriman dengan cepat, namun permintaan baru hampir tidak ada. Kondisi ini membuat sebagian pabrik terpaksa menghentikan operasi.
Tarif Baja Ganggu Rantai Ekspor India
Data Kementerian Perdagangan India mencatat, ekspor besi, baja, dan aluminium India ke AS pada 2024 mencapai nilai sekitar $4,56 miliar atau Rp74 triliun. Dari jumlah itu, produk baja menjadi komoditas terbesar. Angka tersebut mewakili 5,3% dari total ekspor India ke pasar Amerika.
Namun, dengan adanya tarif impor 50% untuk baja dan aluminium serta tarif tambahan 25% pada barang lain, ekspor India ke AS kini anjlok hingga 85%. Federasi Organisasi Ekspor India (FIEO) melaporkan harga baja di pasar domestik turun 6–8% akibat membanjirnya pasokan, memukul keuntungan pelaku usaha kecil.
Ajay Sahai, Direktur Jenderal FIEO, menyebut kompetisi harga menjadi semakin ketat. “Beberapa negara, seperti Cina, juga berusaha menurunkan harga. UMKM India mungkin tidak memiliki kemampuan untuk bersaing,” ujarnya.
Asosiasi Pengembangan Baja Stainless India (ISSDA) bahkan mencatat India sudah berubah menjadi importir bersih produk baja sejak tahun fiskal 2023–24. Impor baja dari Cina meningkat pesat dalam tiga tahun terakhir.
UMKM Pabrik Baja Terancam Bangkrut
Di India timur, lebih dari 5.000 unit pengecoran baja skala kecil beroperasi dengan tenaga kerja sekitar 200.000 orang. Sebagian besar usaha tersebut khusus melayani pasar ekspor, sehingga sangat rentan terhadap perubahan kebijakan dagang global.
Berbeda dengan wilayah lain seperti Maharashtra atau Tamil Nadu, yang masih melayani kebutuhan domestik untuk otomotif dan konstruksi, pabrik baja di Kolkata nyaris tidak punya pasar alternatif.
Menteri Perdagangan India, Piyush Goyal, sebelumnya menilai dampak tarif relatif kecil. Namun, pernyataannya menuai kritik karena dianggap mengabaikan risiko gulung tikar ribuan UMKM.
“Industri ini sangat membutuhkan dukungan cepat dari pemerintah untuk bertahan,” tegas Beriwal. Ia menambahkan, pihaknya akan mengajukan proposal kepada pemerintah agar ada subsidi bunga, jaminan pinjaman, dan pemangkasan biaya sertifikasi.
Alternatif pasar ekspor pun semakin tertutup. Uni Eropa, misalnya, telah menetapkan bea masuk sejak 2018 dan akan menerapkan pajak karbon (CBAM) pada Januari 2026. Situasi ini membuat banyak pelaku usaha tidak punya pilihan selain berharap pada intervensi pemerintah.
Pemerintah India saat ini tengah mempertimbangkan langkah-langkah protektif, termasuk penerapan bea masuk pengamanan 12% untuk menahan banjir baja murah dari Cina.
Para pakar industri memperingatkan, jika langkah cepat tidak diambil, ribuan UMKM berpotensi bangkrut dan memicu pemutusan hubungan kerja massal pada awal 2026.
Industri baja India menghadapi guncangan serius akibat kebijakan tarif dari Amerika Serikat. Penurunan ekspor, persaingan harga, dan masuknya baja Cina membuat pelaku usaha kecil makin tertekan.
Tanpa intervensi konkret, banyak pabrik baja berpotensi gulung tikar. Pemerintah India diminta segera mengambil langkah perlindungan, baik berupa insentif maupun regulasi perdagangan.
Dukungan cepat akan sangat menentukan keberlangsungan 200.000 pekerja di sektor pengecoran baja.
Kerja sama dagang baru dengan negara lain juga dinilai krusial untuk mengurangi ketergantungan pada pasar AS.
Jika tidak ada langkah segera, krisis ini bisa menjalar menjadi masalah sosial yang lebih besar. (*)
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v





