Jakarta , EKOIN – CO – Masjid tidak hanya sekadar tempat sujud bagi umat Islam. Sejak masa Rasulullah SAW, masjid telah menjadi episentrum peradaban—tempat ibadah, pusat pendidikan, kegiatan sosial, hingga perumusan kebijakan umat. Semangat itu kini dihidupkan kembali oleh Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Alhusna yang dipimpin Dr. H. Sudirman D. Hury, S.H., M.M., M.Sc.

“Masjid Alhusna ini bukan hanya untuk ibadah. Kami ingin menjadikannya pusat kebudayaan sekaligus pusat peradaban,” tegas Sudirman.
Masjid yang beralamat di Admiralti Resindence pondok Labu Jakarta Selatan berdiri megah di atas lahan 2.400 meter persegi ini memiliki empat lantai dengan fungsi berbeda. Lantai satu difungsikan khusus untuk jamaah laki-laki, lantai dua untuk jamaah perempuan, lantai tiga sebagai auditorium serbaguna, dan lantai empat berupa rooftop. Selain dilengkapi tangga, masjid ini juga menyediakan fasilitas lift—sebuah kemewahan yang jarang ditemui di rumah ibadah.
Tak berhenti di situ, di depan masjid berdiri gedung multifungsi yang mengakomodasi kebutuhan jamaah. Di lantai dasar tersedia kafe dan ruang pertemuan, lantai dua dan tiga difungsikan sebagai hunian para ustaz, sementara lantai empat menghadirkan fasilitas kebugaran (fitness center). Klinik kesehatan juga tersedia untuk melayani masyarakat.

Sehari-hari, pengelolaan Masjid Alhusna dikomandoi oleh Abdul Razak Mozin atau akrab disapa Bang Zack, selaku General Manager. Meski terbilang baru, kegiatan yang digelar di masjid ini sudah beragam dan konsisten. Mulai dari pengajian ibu-ibu Majelis Taklim dengan metode Tilawatil Qur’an, kajian keagamaan Generasi Z (GENZI), Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ), hingga kuliah subuh gabungan masjid-masjid se-Jakarta Selatan.
“Semua program Masjid Alhusna berorientasi pada visi besar kami: memberantas kebodohan, kemiskinan, dan kezhaliman,” jelas Bang Zack.
Bagi masyarakat yang ingin memanfaatkan fasilitas Masjid Alhusna untuk kegiatan keagamaan, dapat langsung menghubungi Bang Zack di nomor +62 812-8543-2377.
Masjid Alhusna dengan wajah barunya ini mengingatkan kembali pada esensi masjid di masa Rasulullah: pusat spiritual sekaligus pusat peradaban. Pertanyaannya, siapkah masjid-masjid lain di Indonesia meniru jejak ini?





