Jakarta, EKOIN.CO – Perum Bulog mengubah skema pemesanan beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). Pedagang beras kini tak lagi diwajibkan menggunakan aplikasi Klik SPHP. Sebagai gantinya, mereka cukup memesan langsung melalui petugas Bulog yang ditugaskan di pasar tradisional.
Direktur Utama Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, menjelaskan bahwa langkah ini diambil untuk mengatasi kesulitan yang dialami oleh banyak pedagang kecil dalam menggunakan teknologi. Ia mengakui, sebagian besar pedagang di pasar tradisional, khususnya di daerah-daerah, adalah orang lanjut usia yang kurang terbiasa dengan teknologi.
“Ya ini kan kita sempurnakan, memang banyak masyarakat sebagian yang pengecer-pengecer itu, kalau di kampung-kampung kan yang jualan udah sepuh-sepuh, mbah-mbah kita. Nah kemarin waktu kita cek di Semarang sama Pak Mentan (Menteri Pertanian) kan sudah (umur) 75 tahun, 72 tahun, rata-rata kepala 7. Mbah-mbah itu kan main handphone kan nggak ini. Akhirnya kita siasati sekarang, rencananya satu pasar itu nanti kita tunjuk anggota ataupun pegawai dari Bulog yang mengawasi satu pasar itu,” papar Rizal saat ditemui di Jakarta pada Senin malam.
Dengan skema baru ini, pedagang tidak perlu lagi direpotkan dengan penggunaan aplikasi. Mereka cukup menghubungi petugas Bulog melalui WhatsApp atau bahkan memesan secara langsung di pasar. “Nanti dia yang koordinir satu pasar itu, yang memasukkan data aplikasi itu. Jadi pengecernya nggak usah pakai aplikasi tapi cukup WA (WhatsApp) saja dia. WA ‘Mas saya hari ini pesan sekian’, nanti yang pesanin itu pegawai Bulog yang kita tunjuk itu,” jelasnya lebih lanjut.
Namun demikian, untuk menjaga ketertiban administrasi, setiap pemesanan tetap harus dilandasi surat kuasa dari masing-masing pedagang. “Tapi yang kita tunjuk itu nanti harus dapat surat kuasa dari masing-masing pengecer. Kalau nggak ada kuasanya kan nggak berani dia mesen nanti,” imbuhnya.
Meskipun sistem pemesanan menjadi lebih sederhana, Bulog tetap menekankan bahwa prosesnya akan tetap teratur. “Nah nanti dia (pegawai Bulog yang ditugasi di pasar) yang pesan ke Klik SPHP-nya. Kan nggak ngeribetin pengecer. Nanti sudah di-approve, oke, tinggal masuk ke masing-masing pengecer, diantar,” tutur Rizal. Ia juga mengakui bahwa karena keterbatasan jumlah petugas, satu orang mungkin akan ditugaskan untuk mengawasi beberapa pasar.
Mekanisme baru ini, menurut Rizal, masih dalam tahap penyusunan konsep dan telah diajukan kepada Badan Pangan Nasional (Bapanas) untuk direvisi. “Ini sedang proses. Ini lagi dikonsep. Ini lagi kita ajukan ke Bapanas supaya ada revisi,” ucapnya.
Di samping itu, Rizal juga meluruskan isu yang sempat beredar bahwa setiap pembelian beras SPHP harus difoto. Menurutnya, hal itu tidak benar. “Nggak ada. Sekarang sudah nggak ada, itu isu-isu aja tuh,” tegasnya. Ia menambahkan, mekanisme pengambilan foto hanya berlaku untuk program bantuan pangan, bukan penjualan beras SPHP. Sementara itu, aplikasi Klik SPHP tetap berfungsi sebagai alat pencatatan pesanan, bukan sebagai sarana untuk mengunggah foto atau bukti serah terima barang.





