JAKARTA EKOIN.CO – Sebuah video berisi aktivitas Presiden Prabowo Subianto yang ditayangkan sebelum pemutaran film di bioskop belakangan menjadi viral di media sosial. Tayangan singkat ini menampilkan sejumlah momen pertemuan kenegaraan dan kunjungan kerja Presiden, sekaligus dikemas sebagai pencapaian positif pemerintah. Fenomena tersebut memicu perdebatan, sebagian publik menyebutnya propaganda, sementara yang lain menilainya sebagai cara sosialisasi program pemerintahan.
Ikuti update berita terbaru EKOIN di WA Channel kami.
Rekaman berdurasi pendek itu pertama kali diangkat oleh akun Instagram populer @catatanfilm. Dalam keterangannya, akun tersebut menyebut banyak penonton bioskop terkejut melihat tayangan tersebut sebelum film dimulai.
“Dari netizen yang beberapa hari ini sempat menonton film di bioskop, mereka kaget ada video rangkaian aktivitas dan pencapaian di masa pemerintahan Presiden Prabowo yang ditayangkan sebelum film dimulai,” tulis @catatanfilm.
Beberapa warganet menyatakan penayangan itu janggal, bahkan menyinggung adanya kesan propaganda. Namun, sebagian lainnya menilai hal tersebut sah saja karena pemerintah memang berkewajiban menyampaikan program dan capaian kepada masyarakat.
Video di bioskop jadi sorotan publik
Perdebatan semakin ramai setelah potongan tayangan itu tersebar luas di berbagai platform media sosial. Respons publik pun terbagi dua: sebagian mempertanyakan etis atau tidaknya penayangan video kenegaraan di ruang hiburan, sementara pihak lain melihatnya sebagai inovasi komunikasi publik.
Konten serupa sebelumnya lebih sering ditemukan di televisi atau platform digital resmi pemerintah. Oleh karena itu, penayangan di bioskop dianggap cukup mengejutkan. Banyak penonton mengaku baru pertama kali menyaksikan video sejenis ditampilkan sebelum film layar lebar.
Diskusi publik ini juga menyinggung batasan antara penyampaian informasi publik dengan kegiatan yang dianggap sebagai pencitraan politik. Hal itu memunculkan tanda tanya terkait regulasi penggunaan ruang komersial untuk menyebarkan pesan pemerintahan.
Mensesneg: Penayangan video hal lumrah
Menanggapi kontroversi tersebut, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menegaskan bahwa penayangan video di bioskop tidak menjadi masalah selama sesuai aturan.
“Tentunya sepanjang tidak melanggar aturan, tidak mengganggu kenyamanan, keindahan, maka penggunaan media publik untuk menyampaikan sebuah pesan tentu sebuah hal yang lumrah,” kata Prasetyo, Minggu (14/9/2025).
Ia menekankan, pemerintah memiliki kewajiban menyosialisasikan capaian maupun program strategis kepada masyarakat. Menurutnya, media publik seperti bioskop bisa menjadi salah satu saluran efektif untuk menjangkau audiens luas.
Prasetyo menambahkan bahwa praktik semacam ini lazim di banyak negara lain. Informasi pemerintah dapat hadir dalam berbagai medium, termasuk layar lebar, selama tidak mengganggu dan tetap menjaga aturan berlaku.
Hingga kini, belum ada penjelasan detail dari pihak bioskop terkait mekanisme kerja sama penayangan video tersebut. Namun, perdebatan publik yang muncul menunjukkan tingginya sensitivitas masyarakat terhadap ruang komunikasi pemerintah.
Isu ini juga membuka wacana baru mengenai cara komunikasi publik di era digital. Bioskop yang biasanya menjadi ruang hiburan kini dipakai sebagai kanal informasi resmi, meski menuai pro dan kontra.
Diskursus mengenai penayangan video ini kemungkinan masih akan berlanjut, terutama terkait regulasi yang mengatur ruang komersial untuk kepentingan pemerintah. Publik menunggu transparansi lebih lanjut mengenai siapa penyelenggara dan dasar hukumnya.
Pemerintah menilai langkah tersebut sebagai bagian dari inovasi komunikasi, sedangkan sebagian masyarakat menganggapnya bentuk propaganda. Perbedaan sudut pandang inilah yang membuat isu tersebut ramai diperbincangkan hingga kini.
(*)
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v





