Jakarta, EKOIN.CO – Badan Pengelola Tabungan Perumahan Rakyat (BP Tapera) memperkuat mekanisme pengawasan untuk memastikan rumah bersubsidi melalui skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) dihuni oleh masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) yang berhak. Langkah ini dilakukan seiring dengan peningkatan target kuota FLPP pada 2025 menjadi 350.000 unit dari realisasi sebelumnya sebanyak 220.000 unit. Adapun realisasi penyerapan hingga hari ini mencapai 175.456 unit atau setara dengan 50,16% dari target keseluruhan tahun ini.
Selanjutnya, Komisioner BP Tapera, Heru Pudyo Nugroho, menekankan bahwa pihaknya memiliki kepedulian tinggi agar akses skema FLPP tepat sasaran. Hal ini dikarenakan dana yang digunakan merupakan dana bergulir dari Pemerintah melalui APBN. “Kami menjaga agar tepat sasaran dari sebelum akad hingga dihuni. Jadi kalau dihuni bukan oleh masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) akan diberi sanksi yaitu subsidinya dicabut dan mengangsur secara komersial,” ungkap Heru kepada CNBC Indonesia, dalam “Special Dialogue Merdeka Rumah” dengan tema “3 Juta Rumah Bukan Sekedar Impian”, Senin (15/9/2025).
Selain itu, untuk mewujudkan hal tersebut, Heru menjelaskan bahwa ada petugas khusus yang bertugas melakukan pemeriksaan secara acak. Sebelum proses akad kredit, BP Tapera juga memastikan rumah yang dibeli masyarakat telah memenuhi spesifikasi yang diatur pemerintah dan secara fisik telah terbangun. “Ada bukti di lapangan, bank juga sudah melihat bahwa rumah bagus dan layak huni. Masyarakat juga bisa lihat langsung dan membuktikan dan diunggah, dengan cara ini terbukti keterisian rumah MBR juga makin meningkat,” jelas Heru.
Di sisi lain, guna mengakselerasi pencapaian target FLPP menuju akhir tahun, BP Tapera berencana menyelenggarakan akad massal untuk 25.000 unit rumah secara hybrid. Rencananya, kegiatan akad secara onsite akan dilakukan untuk 400 unit di Cileungsi, sementara sisanya akan dilakukan secara online di 100 titik yang tersebar di seluruh Indonesia. “Insya Allah kalau terealisasi ini akan menjadi akad massal terbesar dalam sejarah,” pungkas Heru.





