Batang, EKOIN.CO – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bersama Sustainable Energy Technical Initiative (SETI) mengumumkan hasil audit energi di kawasan industri yang menunjukkan potensi penghematan signifikan, yakni mencapai 28,7 juta kilowatt hour (kWh) per tahun. Temuan ini dipandang mampu mendukung efisiensi biaya operasional sekaligus memperkuat agenda transisi energi nasional.
Gabung WA Channel EKOIN untuk berita terkini
Audit tersebut dilakukan di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Industropolis Batang, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Proses audit menyasar fasilitas industri yang menggunakan konsumsi energi tinggi. Data menunjukkan bahwa langkah efisiensi bisa menekan biaya produksi dan membantu perusahaan lebih berdaya saing.
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy menegaskan bahwa kebutuhan investasi untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi 6,3 persen pada 2026 diperkirakan mencapai Rp8.297,8 triliun. “Efisiensi energi menjadi bagian penting untuk mengoptimalkan penggunaan investasi, karena setiap rupiah yang dihemat dari konsumsi energi bisa dialihkan untuk mendukung ekspansi industri,” ujarnya.
Audit Energi Tekan Biaya Produksi
Hasil audit memperlihatkan adanya peluang besar dalam menurunkan biaya operasional perusahaan melalui manajemen penggunaan energi yang lebih cermat. Industri yang mengadopsi rekomendasi audit diperkirakan bisa menekan biaya listrik hingga puluhan miliar rupiah per tahun.
Program ini juga sejalan dengan strategi nasional dalam menurunkan emisi karbon. Dengan efisiensi 28,7 juta kWh per tahun, kontribusi penurunan emisi gas rumah kaca di sektor industri bisa semakin nyata. Menurut catatan Kementerian ESDM, sektor industri menyumbang sekitar 25 persen dari total konsumsi energi nasional.
Rachmat menambahkan, keberhasilan audit tidak hanya memberikan manfaat langsung bagi perusahaan, tetapi juga berdampak bagi ekonomi lokal. “Ketika biaya energi ditekan, maka daya saing produk meningkat, yang pada akhirnya bisa mendorong ekspor dan membuka lapangan kerja baru,” tuturnya.
Selain itu, konsorsium SETI menekankan perlunya keberlanjutan program audit, agar manfaatnya tidak berhenti di satu kawasan industri saja. Menurut mereka, program serupa harus diperluas ke berbagai kawasan industri strategis lain di Indonesia.
Dukungan Transisi Energi Nasional
Kementerian ESDM menyatakan audit ini menjadi bagian dari upaya pemerintah dalam mempercepat transisi energi nasional. Target bauran energi baru terbarukan (EBT) sebesar 23 persen pada 2025 masih memerlukan langkah-langkah efisiensi yang signifikan dari sektor pengguna terbesar, yakni industri.
Pemerintah juga mendorong perusahaan untuk memanfaatkan insentif fiskal dan nonfiskal dalam implementasi teknologi hemat energi. Dengan begitu, investasi di sektor ini tidak hanya memberikan keuntungan jangka pendek, tetapi juga keberlanjutan jangka panjang.
Sementara itu, kawasan Industropolis Batang diproyeksikan menjadi contoh model kawasan industri hijau di Indonesia. Dengan dukungan infrastruktur ramah lingkungan dan penerapan efisiensi energi, kawasan ini diharapkan menarik lebih banyak investasi asing.
Kementerian ESDM menegaskan akan terus melakukan pengawasan dan evaluasi terhadap implementasi hasil audit. Perusahaan yang berhasil menurunkan konsumsi energi akan didorong untuk menjadi role model bagi industri lain.
Rachmat Pambudy kembali menekankan bahwa penghematan energi tidak hanya persoalan teknis, melainkan juga strategi nasional. “Kita harus memastikan bahwa industri kita bukan hanya tumbuh, tetapi juga tumbuh secara berkelanjutan,” ujarnya.
Program audit energi ini juga mendapat apresiasi dari kalangan pelaku industri. Beberapa perusahaan menyatakan siap mengikuti rekomendasi teknis, seperti modernisasi mesin, optimalisasi penggunaan listrik, hingga pemanfaatan sumber energi terbarukan.
Sejumlah ahli menilai penghematan 28,7 juta kWh per tahun setara dengan kebutuhan listrik lebih dari 10 ribu rumah tangga. Angka ini dinilai signifikan dan menunjukkan bahwa potensi efisiensi di sektor industri masih sangat besar.
Selain itu, langkah efisiensi di kawasan Industropolis Batang juga dipandang sebagai strategi tepat dalam mendukung pencapaian target pembangunan rendah karbon. Dengan integrasi antara kebijakan pemerintah, investasi, dan inovasi teknologi, Indonesia berpotensi menjadi pusat industri berkelanjutan di Asia Tenggara.
Hingga saat ini, Kementerian ESDM bersama SETI masih menyusun peta jalan untuk replikasi audit di kawasan industri lain. Peta jalan tersebut mencakup panduan teknis, skema pembiayaan, dan target penghematan energi tahunan.
Program audit di Batang menjadi tonggak penting, karena memberikan bukti nyata bahwa efisiensi energi bisa dicapai tanpa mengorbankan produktivitas. Malah sebaliknya, efisiensi mendorong produktivitas dan daya saing industri.
Audit energi di sektor industri membuktikan bahwa penghematan besar bisa dicapai jika ada sinergi antara pemerintah, lembaga teknis, dan pelaku usaha. Potensi penghematan 28,7 juta kWh per tahun menunjukkan efisiensi bukan sekadar jargon, melainkan solusi nyata.
Dengan menekan biaya operasional, perusahaan bisa lebih leluasa mengalokasikan sumber daya untuk pengembangan usaha. Hal ini juga berdampak langsung pada perekonomian nasional.
Dukungan regulasi dan insentif pemerintah memperkuat optimisme bahwa efisiensi energi akan semakin menjadi budaya di sektor industri.
Peta jalan replikasi audit di kawasan industri lain menjadi langkah strategis, karena manfaat efisiensi energi tidak boleh berhenti hanya di Batang.
Pada akhirnya, efisiensi energi adalah kunci bagi Indonesia untuk tumbuh sebagai negara industri yang berdaya saing, berkelanjutan, dan ramah lingkungan. (*)
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v





