Bantul, EKOIN.CO – Program pengelolaan sampah organik mandiri mulai dijalankan di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, sejak awal September 2025. Program ini diinisiasi pemerintah daerah bersama komunitas lingkungan dengan tujuan menekan volume sampah rumah tangga yang selama ini menumpuk di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Ikuti berita penting lainnya di WA Channel EKOIN
Langkah ini dianggap penting mengingat TPA Piyungan, yang selama bertahun-tahun menjadi lokasi penampungan sampah dari Bantul, Sleman, dan Kota Yogyakarta, telah mengalami kelebihan kapasitas. Dengan program mandiri, warga didorong mengelola sampah organik langsung di rumah menggunakan metode sederhana seperti komposter, biopori, hingga bank sampah berbasis organik.
Program tersebut diperkenalkan melalui serangkaian sosialisasi di tingkat dusun, sekolah, dan komunitas masyarakat. Pemerintah daerah menyebut partisipasi warga menjadi kunci keberhasilan. “Kalau warga konsisten, minimal 50 persen volume sampah bisa dikurangi,” kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup Bantul, Sutrisno, saat ditemui Selasa (23/9/2025).
Sampah Organik Jadi Fokus Utama
Jenis sampah organik dipilih karena porsinya paling besar dalam timbunan harian, mencapai lebih dari 60 persen. Umumnya berupa sisa makanan, dedaunan, serta limbah dapur lainnya. Selama ini sampah tersebut berakhir di TPA tanpa pemanfaatan berarti, bahkan menimbulkan bau dan gas metana yang berbahaya.
Melalui program ini, sampah organik diubah menjadi produk bermanfaat. Warga bisa menghasilkan kompos, pupuk cair, bahkan energi biogas untuk kebutuhan rumah tangga. Inovasi ini diharapkan tidak hanya mengurangi beban TPA, tetapi juga menambah nilai ekonomi bagi masyarakat.
Sejumlah kelompok tani di Bantul menyambut positif langkah tersebut. Mereka menilai ketersediaan pupuk organik mandiri dapat mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia. “Selama ini pupuk mahal dan sering langka. Kalau kami bisa produksi sendiri, jelas membantu,” ujar Sugeng, ketua kelompok tani di Kecamatan Pleret.
Peran Komunitas dalam Edukasi Sampah
Selain pemerintah, peran komunitas lingkungan juga sangat dominan. Kelompok relawan menginisiasi pelatihan membuat kompos sederhana dan menyediakan fasilitas komposter murah. Edukasi dilakukan dari pintu ke pintu agar warga tidak merasa sulit memulai kebiasaan baru.
Anak-anak sekolah dilibatkan melalui kurikulum muatan lokal yang menekankan pentingnya memilah dan mengolah sampah sejak dini. Dengan cara ini, generasi muda diharapkan tumbuh dengan kesadaran lingkungan yang kuat.
Sementara itu, dukungan sektor swasta juga mulai terlihat. Beberapa pengusaha lokal memberikan bantuan alat pengolah sampah serta membentuk kerja sama dengan bank sampah untuk membeli kompos hasil produksi warga. “Kami tidak hanya ingin berbisnis, tetapi juga mendukung lingkungan Bantul tetap bersih,” ujar Arif, pengusaha retail yang menjadi mitra program.
Data Dinas Lingkungan Hidup mencatat, sejak uji coba awal, lebih dari 1.200 rumah tangga di Bantul telah aktif mempraktikkan pengelolaan sampah mandiri. Angka tersebut diproyeksikan terus naik seiring meluasnya program ke seluruh kecamatan.
Pemerintah daerah menargetkan dalam tiga tahun ke depan, setidaknya 70 persen warga Bantul sudah mengolah sampah organik secara mandiri. Bila target ini tercapai, TPA Piyungan bisa beroperasi lebih lama dan dampak lingkungan dapat ditekan secara signifikan.
program pengelolaan sampah organik mandiri di Bantul bukan hanya solusi teknis mengurangi timbunan sampah, tetapi juga langkah membangun budaya baru dalam masyarakat. Dengan partisipasi aktif warga, manfaat yang dihasilkan tidak terbatas pada lingkungan, melainkan juga pada bidang sosial dan ekonomi.
Saran ke depan, perlu konsistensi dalam pendampingan warga agar tidak berhenti di tengah jalan. Pemerintah bisa memberikan insentif berupa potongan retribusi sampah bagi rumah tangga yang aktif. Selain itu, integrasi dengan program ketahanan pangan berbasis pupuk organik akan menambah daya tarik.
Dengan edukasi berkelanjutan, dukungan komunitas, serta keterlibatan generasi muda, program ini berpotensi menjadi model nasional. Jika berhasil, Bantul dapat menjadi contoh kabupaten lain dalam mengelola sampah organik secara mandiri dan berkelanjutan.
( * )
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v





