Jakarta, EKOIN.CO – Badan Gizi Nasional (BGN) menegaskan larangan penggunaan ultra-processed food atau makanan olahan pabrik dalam menu Makan Bergizi Gratis (MBG). Kebijakan ini disampaikan langsung oleh Wakil Kepala BGN, Nanik S Deyang, yang menekankan pentingnya kualitas gizi sekaligus membuka jalan bagi pertumbuhan UMKM lokal.
Gabung WA Channel EKOIN
Menurut Nanik, langkah ini sejalan dengan misi Presiden Prabowo Subianto yang ingin memanfaatkan program MBG tidak hanya untuk pemenuhan gizi anak, tetapi juga penggerak ekonomi rakyat. “Begitu larangan ini dilaksanakan, maka UMKM yang akan masuk ke dalam sistem MBG. Artinya, bukan pabrikan besar yang diuntungkan,” ujarnya.
Dorongan UMKM dalam Program MBG
Program MBG dirancang tidak hanya untuk memberikan makanan sehat dan bergizi bagi anak sekolah, tetapi juga mendorong keterlibatan UMKM lokal di berbagai daerah. Dengan larangan ultra-processed food, peluang UMKM untuk menyuplai bahan pangan segar semakin besar.
Nanik menambahkan, Presiden Prabowo ingin program ini berorientasi pada pemberdayaan ekonomi lokal. “Makanan yang diberikan anak-anak harus fresh dan berbasis bahan pangan lokal, bukan produk ultra-processed food yang rendah gizi,” jelasnya.
Larangan ultra-processed food diharapkan menjadi filter agar kualitas gizi anak-anak tetap terjaga. Sekaligus, kebijakan ini membuka pintu kerja sama antara pemerintah, UMKM, serta masyarakat untuk membangun ekosistem pangan sehat dan berkelanjutan.
Kualitas Gizi Jadi Prioritas Utama
BGN memastikan pengawasan ketat dalam setiap tahap implementasi MBG. Menu makanan yang diberikan akan menitikberatkan pada bahan pangan alami seperti sayur, buah, ikan, daging, telur, serta sumber karbohidrat lokal.
Selain itu, mekanisme distribusi MBG akan melibatkan rantai pasok pangan daerah. Dengan begitu, hasil tani dan produk pangan lokal bisa terserap lebih banyak, sehingga petani, nelayan, hingga produsen kecil mendapat manfaat langsung.
Nanik juga menegaskan bahwa keberhasilan MBG bukan hanya diukur dari jumlah penerima, melainkan dari dampaknya terhadap kualitas gizi dan kesehatan generasi muda. “Jika anak-anak kita terbiasa mengonsumsi makanan sehat, maka kualitas sumber daya manusia akan meningkat. Itu investasi jangka panjang bangsa,” tegasnya.
Kebijakan ini juga dipandang sebagai langkah strategis menghadapi tantangan gizi buruk, stunting, serta penyakit tidak menular yang banyak dipicu pola makan berbasis ultra-processed food.
Dengan larangan ini, BGN berharap MBG menjadi program berkelanjutan yang bukan hanya sekadar bantuan konsumsi, melainkan motor penggerak ekonomi kerakyatan berbasis pangan sehat.
( * )
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v





