Sinyal Positif dari Lapangan Banteng: Ekonomi RI 2026 Tetap Kokoh di Tengah Tensi Geopolitik

Meski indikator internal menunjukkan hasil positif, KSSK tetap memasang mode waspada. Memasuki Januari 2026, gejolak pasar keuangan global mulai terasa akibat dinamika politik internasional.
KSSK terdiri dari Menteri Keuangan, Gubernur Bank Indonesia (BI), Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

Jakarta, Ekoin.co – Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) memasang target optimistis untuk laju perekonomian nasional.

Di tengah bayang-bayang ketegangan geopolitik dunia, pemerintah memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia bakal melesat ke angka 5,4 persen pada tahun 2026.

Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menegaskan bahwa kepercayaan diri ini bukan tanpa alasan. Keberhasilan menjaga momentum di akhir tahun 2025 menjadi fondasi kuat untuk melangkah ke periode berikutnya.

Rapor Hijau di Penghujung 2025

Menutup kuartal IV-2025, Indonesia mencatatkan performa ekonomi yang solid. Berdasarkan data S&P Global, indeks manufaktur (PMI) tetap berada di zona ekspansi. Kondisi ini diperkuat dengan tren positif penjualan ritel dan surplus neraca perdagangan yang masih terjaga.

“Sepanjang tahun 2025, pertumbuhan ekonomi kita diperkirakan stabil di angka 5,2 persen. Untuk 2026, kami melihat peluang peningkatan ke 5,4 persen, didorong oleh konsumsi domestik yang tangguh serta kolaborasi erat antarlembaga dalam KSSK,” ujar Purbaya dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (28/1).

Guyuran Likuiditas dan Efisiensi Perbankan

Salah satu mesin penggerak utama adalah koordinasi kebijakan fiskal dan moneter yang kian sinkron. Pada Desember 2025, uang primer (M0) melonjak hingga 11,4 persen (yoy). Lonjakan ini dipicu oleh stimulus pemerintah dan ekspansi likuiditas dari bank sentral.

Strategi penempatan kas negara di perbankan juga terbukti ampuh. Langkah ini tidak hanya mendorong pertumbuhan uang beredar, tetapi juga berhasil menekan biaya dana (cost of fund) perbankan, sehingga penyaluran kredit ke masyarakat menjadi lebih efisien. Tercatat, uang beredar luas (M2) tumbuh sehat di level 9,6 persen (yoy).

Danantara dan Satgas P2SP: Senjata Baru Investasi

Menatap tahun 2026, pemerintah tidak hanya mengandalkan konsumsi domestik. Kehadiran Danantara diposisikan sebagai katalisator utama untuk menarik modal swasta, khususnya pada proyek hilirisasi Sumber Daya Alam (SDA).

Guna menjamin keamanan dan kenyamanan investor, pemerintah juga telah mengoperasikan Satuan Tugas Percepatan Program Strategis Pemerintah (Satgas P2SP). Satgas ini bertugas memastikan iklim investasi tetap kompetitif meski pasar global sedang mengalami volatilitas akibat perang dagang.

Mitigasi Risiko Geopolitik Global

Meski indikator internal menunjukkan hasil positif, KSSK tetap memasang mode waspada. Memasuki Januari 2026, gejolak pasar keuangan global mulai terasa akibat dinamika politik internasional.

“Kami akan terus melakukan asesmen forward looking. Mitigasi risiko dilakukan secara terintegrasi, baik di internal KSSK maupun lintas kementerian, guna memastikan stabilitas sistem keuangan tetap kokoh menghadapi ketidakpastian global,” pungkas Yudhi. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini