Jakarta, Ekoin.co – Pemerintah memastikan megaproyek ekosistem baterai nasional tetap melaju meski ditinggal konsorsium LG Energy Solution.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) kini mengunci langkah percepatan dengan menggandeng konsorsium baru yang dipimpin Huayou Cobalt dan EVE Energy.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menargetkan peletakan batu pertama proyek terintegrasi tersebut bisa dilakukan paling lambat pada semester pertama 2026.
Proyek ini menjadi kelanjutan Indonesia Grand Package yang sebelumnya sempat tersendat.
Keseriusan pemerintah ditandai dengan penandatanganan Framework Agreement antara Huayou dan EVE Energy bersama mitra nasional, yakni PT Aneka Tambang Tbk (Antam), Indonesia Battery Corporation (IBC), serta PT Daaz Bara Lestari Tbk (DBL).
Bahlil menyebut konsorsium anyar ini akan melanjutkan pengembangan kapasitas produksi baterai sebesar 20 GWh. Sebelumnya, LG Energy Solution hanya merealisasikan 10 GWh dari total rencana 30 GWh sebelum memutuskan hengkang pada awal 2025.
“Target kami jelas. Sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto, groundbreaking diupayakan bisa dilakukan pada semester pertama tahun ini,” ujar Bahlil saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (30/1/2026).
Dalam desain terbarunya, proyek ekosistem baterai ini akan dibagi ke dalam dua klaster utama untuk mengefisienkan rantai pasok.
Sektor hulu ditempatkan di Halmahera Timur, Maluku Utara, yang mencakup pembangunan smelter, fasilitas HPAL, serta produksi prekursor dan katoda berbasis sumber daya nikel.
Sementara itu, sektor hilir akan berlokasi di Jawa Barat, yang difokuskan pada pembangunan pabrik sel baterai hingga produk siap pakai untuk kebutuhan domestik dan ekspor.
Tak hanya menyasar pasar kendaraan listrik, Bahlil menegaskan output baterai nasional ini juga dirancang untuk mendukung Battery Energy Storage System (BESS).
Produk tersebut akan menjadi tulang punggung program ambisius 100 Gigawatt Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang menjadi prioritas pemerintahan Presiden Prabowo.
“Baterainya dibuat di dalam negeri. Bukan cuma untuk mobil listrik, tapi juga untuk panel surya dan listrik desa. Ini bagian dari respons cepat pemerintah terhadap program 100 GW PLTS,” tegasnya.
Melalui integrasi hulu hingga hilir ini, pemerintah menargetkan Indonesia naik kelas dari sekadar pengekspor bahan mentah menjadi pemain utama manufaktur teknologi energi hijau di kawasan Asia.





