Jakarta, Ekoin.co – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih berat bertengger di zona hijau. Penutupan perdagangan sore, IHSG kembali finis di zona merah. Koreksi hari ini cukup dalam, nyaris 5%.
IHSG ditutup di posisi 7.922,73. Terpangkas 4,88% dibandingkan posisi penutupan perdagangan akhir pekan lalu dan menjadi yang terlemah sejak 15 September tahun lalu atau sekira 4,5 bulan terakhir.
IHSG memang sempat menguat pada perdagangan Jumat (30/1/2026), setelah turun tajam dalam dua hari perdagangan sebelumnya.
Pemberat laju IHSG hari ini disebabkan banyak aspek. Faktor global ikut mempengaruhi. Misalnya Indeks saham utama Asia juga terkapar di zona merah. Nikkei 225 (Jepang) jatuh 1,25%, Shanghai Composite (China) minus 2,48%, Nifty 50 (India) terkoreksi 1,02%, Taiwan Stock Index terpangkas 1,37%, SETI (Thailand) terjungkal 0,7%, Hang Seng (Hong Kong) melemah 2,23%, Straits Times (Singapura) turun 0,25%, dan PSEI (Filipina) melorot 0,5%.
Faktor lain IHSG di jalur merah koreksi harga komoditas sehingga menjadi sentimen negatif bagi IHSG. Hari ini, harga sejumlah komoditas utama berjatuhan.
Pada pukul 15:33 WIB, harga minyak jenis brent anjlok 4,2% ke US$ 66,38/barel. Sementara harga emas ambruk 5,19% menjadi US$ 4.633,7/troy ons.
Sentimen negatif dari pasar domestik ikut jadi pemberat laju IHSG menuju zona hijau. Pembekuan indeks MSCI berbuntut panjang, berbagai institusi ikut menurunkan predikat pasar saham Indonesia.
Setelah Goldman Sachs dan UBS, kini giliran Nomura yang menurunkan saham Indonesia dari over weight menjadi netral. Nomura menggarisbawahi risiko investability dan ancaman arus keluar modal dari pemodal pasif. (*)





