Jakarta, Ekoin.co – Keberadaan para pembersih makam musiman di beberapa Tempat Pemakaman Umum di Jakarta Pusat dinilai sulit ditertibkan.
Pasalnya ada empat pintu akses masuk ke dalam tempat pemakaman umum (TPU) Kawi-Kawi yang langsung tembus ke pemukiman warga sekitar.
“Kami kewalahan dalam mencegah keberadaan para pembersih makam yang merupakan warga sekitar. Pasalnya ada empat pintu akses yang langsung tembus ke pemukiman warga sekitar,” ucap Kepala Seksi (Kasie) Pertamanan dan Hutan Kota Jakarta Pusat, Muhammad Amri Ramadhan saat dihubungi, Selasa (17/2/2026).
Amri mengatakan para pembersih makam musiman tersebut mulai dari anak – anak hingga orang dewasa merupakan warga sekitar. Sulitnya petugas dalam menghalau mereka lantaran jumlah mereka jauh lebih banyak dibanding petugas.
“Bukan hanya pintu akses masuk saja, tapi jumlah mereka lebih banyak dibanding petugas kami,” ungkapnya.
Amri menjelaskan, pihak Sudin Pertamanan dan Hutan Kota Jakarta Pusat pernah melakukan penutupan empat pintu akses yang bersinggungan langsung ke pemukiman warga justru dikomplen warga.
“Kami pernah nutup pintu tersebut tapi dikomplen. Alasan mereka minta dibuka karena kalau lewat jalan lain jadi muter jauh,” ucap Amri.
Sementara itu, Kepala Suku Dinas Sosial (Kasudinsos) Jakarta Pusat, Aprianto mengatakan pihaknya telah menerjunkan 12 petugas pelayanan, pengawasan dan pengendalian (P3S) setiap TPU di TPU Jakarta Pusat.
“Sudah sejak kemarin kami terjunkan petugas di tpu di Jakarta Pusat dimana kami berkolaborasi dengan Sudin Pertamanan dan Hutan Kota Jakarta Pusat. Tugas petugas melakukan penghalauan hingga penjangkauan,” ucap Aprianto saat dihubungi.
Pembersih Makam Musiman Meresahkan
Sebelumnya diberitakan, peziarah di tempat pemakaman umum (TPU) Kawi – Kawi, Kecamatan Johar Baru, Jakarta Pusat mengeluhkan keberadaan pembersih makam yang kerap memaksa dalam meminta uang kepada peziarah.
Rahmat, 28 warga Johar Baru mengatakan keberadaan pembersih makam liar yang umumnya warga sekitar dinilai sangat mengganggu. Mulai dari datang secara bergerombol hingga memaksa peziarah untuk mengeluarkan sejumlah uang untuk jasa bersihkan makam.
“Mereka itu kalau datang selalu bergerombol, lebih dari 5 hingga 10 orang mendatangi kami peziarah. Mereka suka maksa minta duit kepada kami jadi dengan terpaksa kami kasih,” ucap Rahmat saat diwawancarai, Selasa 17 Februari 2026.
Keberadaan pembersih makam tersebut dinilai sangat mengganggu. Dirinya juga heran melihat jumlah pembersih makam dari tahun ke tahun semakin bertambah.
“Saya minta pak Gubernur DKI Jakarta untuk membersihkan pembersih makam liar ini. Kami sangat tidak nyaman dengan keberadaan mereka,” tegasnya.





