Pelestina, Ekoin.co – Ketegangan kembali menyelimuti wilayah Palestina yang diduduki setelah aparat Israel menahan Imam Masjid Al-Aqsa, Sheikh Muhammad Ali Abbasi, di kompleks suci Yerusalem pada Senin malam (16/2).
Penahanan ini terjadi hanya beberapa hari sebelum Ramadan, momentum ibadah yang sangat sensitif bagi warga Palestina.
Otoritas setempat menyebut langkah tersebut berpotensi memperkeruh situasi keamanan dan memicu reaksi luas.
Menurut sumber Palestina, Sheikh Abbasi tidak hanya ditahan, tetapi juga dilarang memasuki kompleks Masjid Al-Aqsa selama sepekan.
Pembatasan ini disebut sebagai bagian dari kebijakan yang lebih luas terhadap imam, penceramah, dan kelompok penjaga aktivitas keagamaan yang rutin hadir di area tersebut.
Pemerintah Palestina menilai kebijakan ini dapat memperbesar potensi friksi menjelang bulan puasa.
Pernyataan resmi yang dikutip media regional, termasuk Arab News, memperingatkan adanya peningkatan tekanan keamanan di sekitar situs suci.
Otoritas Palestina menegaskan bahwa pembatasan terhadap tokoh agama dan fasilitas ibadah berisiko memperdalam ketegangan sosial dan politik.
Laporan terpisah dari The Palestine Chronicle menyebutkan bahwa petugas wakaf Islam menghadapi hambatan dalam menyiapkan kebutuhan Ramadan, seperti pengaturan jamaah dan fasilitas pendukung. Sejumlah pegawai wakaf dilaporkan menerima perintah pembatasan aktivitas sejak awal tahun.
Situasi keamanan memburuk setelah insiden penembakan seorang pemuda Palestina di wilayah barat Qalqilya.
Otoritas kesehatan Palestina menyatakan korban meninggal akibat luka tembak, sementara pejabat setempat mengaitkan kejadian ini dengan meningkatnya operasi militer di Tepi Barat sejak konflik regional memanas pada 2023.
Tepi Barat sendiri merupakan wilayah yang berada di bawah berbagai tingkat kontrol sejak konflik 1967, mencakup kota-kota utama Palestina seperti Ramallah dan Hebron.
Dinamika keamanan di kawasan ini kerap meningkat menjelang periode keagamaan besar.
Sorotan internasional ikut menguat. Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, mengingatkan bahwa langkah-langkah administratif dan keamanan yang menyentuh wilayah sensitif dapat mempersempit ruang diplomasi.
Ia menekankan pentingnya menjaga stabilitas dan penghormatan terhadap situs keagamaan.
Peringatan senada datang dari Raja Yordania, Abdullah II, yang menilai pembatasan akses ibadah menjelang Ramadan berpotensi memicu ketegangan regional.
Yordania memiliki peran historis dalam pengelolaan situs-situs suci di Yerusalem.
Di sisi militer, Kepala Staf Angkatan Darat Israel, Eyal Zamir, menyatakan kesiapan operasional akan ditingkatkan menghadapi berbagai potensi eskalasi.
Pernyataan tersebut menandai perhatian serius otoritas keamanan terhadap periode Ramadan yang kerap menjadi titik sensitif.
Selain aspek keamanan, pembatasan terhadap pekerja Palestina dan kebijakan administrasi tanah turut memperbesar kekhawatiran akan stabilitas sosial.
Pejabat Palestina menilai kombinasi faktor tersebut dapat memperburuk kondisi ekonomi dan meningkatkan ketegangan komunitas.
Dengan Ramadan yang semakin dekat, penahanan tokoh agama, pembatasan aktivitas ibadah, serta operasi keamanan menjadi isu yang diawasi ketat oleh masyarakat internasional.
Para pemimpin Palestina mendesak intervensi diplomatik agar hak beribadah tetap terlindungi dan situasi tidak berkembang menjadi konflik yang lebih luas.




