Dampak Eskalasi Konflik Timur Tengah Memanas, Menkeu Purbaya Beberkan Risiko Utama Terhadap Perekonomian Indonesia
Jakarta, Ekoin.co – Eskalasi konflik Timur Tengah kian memanas. Terbaru, Amerika Serikat berhasil tenggelamkan puluhan kapal ranjau di Selat Hormuz.
Apa dampaknya terhadap perekonomian Indonesia jika konflik Iran vs AS-Israel tak mereda hingga perang jangka panjang?
Dalam konferensi pers APBN KITA Edisi Maret, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa memaparkan sejumlah risiko terhadap perekonomian Indonesia. Salah satu risiko utama berasal dari potensi penutupan Selat Hormuz yang bisa mengganggu suplai energi global dan memicu lonjakan harga komoditas, khususnya minyak.
“Ketidakpastian ini tercermin dari meningkatnya sentimen risk off di pasar keuangan global, ditandai volatilisasi tinggi pada indeks pasar baik VIX maupun MOVE, pergeseran investor ke aset safe haven, penguatan indeks dolar AS, DXY, serta kenaikan yield US Treasury yang 10 Tahun,” kata Menkeu Purbaya di Jakarta, Rabu (11/3).
Dari jalur perdagangan, kenaikan harga minyak berpotensi meningkatkan beban impor migas Indonesia. Kondisi ini bisa menekan surplus neraca perdagangan sekaligus mempengaruhi neraca pembayaran.
Sementara di sektor pasar keuangan, meningkatnya ketidakpastian global berpotensi memicu arus modal keluar (capital outflow). Hal ini berpotensi menekan pasar saham, pasar obligasi, serta nilai tukar rupiah, sekaligus meningkatkan biaya pendanaan (cost of fund).
Di sisi fiskal, Purbaya menegaskan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) akan berperan sebagai shock absorber meski menghadapi potensi kenaikan subsidi energi dan beban bunga utang.
Namun demikian, pemerintah juga dapat memperoleh tambahan penerimaan dari kenaikan harga komoditas seperti batu bara, nikel, dan minyak kelapa sawit (CPO).
Pemerintah bakal terus memantau perkembangan konflik tersebut secara ketat untuk memastikan instrumen APBN dapat bekerja secara responsif.
Diketahui, ketegangan di Selat Hormuz terus meningkat. Perang laut bisa terjadi.
Dan dampak ketegangan di Selat Hormuz langsung akan terasa pada ekonomi global. Harga minyak mentah melonjak 5% pada Selasa malam, sempat menyentuh angka di atas US$ 100 per barel. Gejolak ini menjadi risiko politik besar bagi Trump menjelang pemilihan umum AS.
Selat Hormuz merupakan jalur maritim sangat penting, dengan lebih dari 20 juta barel minyak dan produk minyak bumi yang lewat setiap hari. Jumlah tersebut mencakup sekitar 20 persen dari konsumsi global. (*)























Tinggalkan Balasan