EKOIN.CO
  • BERANDA
  • EKOBIS
    • EKONOMI
    • KEUANGAN
    • INDUSTRI
    • INFRASTRUKTUR
    • PERTANIAN
    • PROPERTI
    • UMKM
    • PROFIL
    • ENERGI
  • PERISTIWA
    • INTERNASIONAL
    • NASIONAL
    • MEGAPOLITAN
    • KRIMINAL
    • OPINI
    • SOSIAL
    • BREAKING NEWS
    • LINGKUNGAN
  • POLKUM
    • POLITIK
    • HUKUM
    • LIPUTAN KHUSUS
    • CEK FAKTA
    • BERITA FOTO
    • BERITA VIDEO
  • HIBURAN
    • KEGIATAN
    • DESTINASI
    • KESEHATAN
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SELEBRITI
    • MUSIK
  • RAGAM
    • EBOOK
    • EDUKASI
    • HIKMAH
    • SENI & BUDAYA
    • TIPS
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
EKOIN.CO
  • BERANDA
  • EKOBIS
    • EKONOMI
    • KEUANGAN
    • INDUSTRI
    • INFRASTRUKTUR
    • PERTANIAN
    • PROPERTI
    • UMKM
    • PROFIL
    • ENERGI
  • PERISTIWA
    • INTERNASIONAL
    • NASIONAL
    • MEGAPOLITAN
    • KRIMINAL
    • OPINI
    • SOSIAL
    • BREAKING NEWS
    • LINGKUNGAN
  • POLKUM
    • POLITIK
    • HUKUM
    • LIPUTAN KHUSUS
    • CEK FAKTA
    • BERITA FOTO
    • BERITA VIDEO
  • HIBURAN
    • KEGIATAN
    • DESTINASI
    • KESEHATAN
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SELEBRITI
    • MUSIK
  • RAGAM
    • EBOOK
    • EDUKASI
    • HIKMAH
    • SENI & BUDAYA
    • TIPS
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
EKOIN.CO
Beranda EKOBIS EKONOMI
Bos UOB Ungkap Dampak Tarif Trump

Bos UOB Ungkap Dampak Tarif Trump

Kebijakan tarif yang diterapkan oleh Presiden Donald Trump pada 1 Agustus 2025 diperkirakan akan menimbulkan dampak jangka panjang bagi perekonomian global, terutama menekan nilai Dolar AS. Analis dari UOB memprediksi negara-negara akan mengurangi ketergantungan pada pasar AS dan mempercepat proses dedolarisasi. Perang dagang yang berlarut-larut juga berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi di paruh kedua tahun ini, meskipun sejumlah negara di Asia mencatat pertumbuhan positif pada semester pertama.

Ray oleh Ray
14 Agustus 2025
Kategori EKONOMI, INTERNASIONAL, KEUANGAN, PERISTIWA
0
A A
0
Share on FacebookShare on Twitter

Jakarta, EKOIN.CO – Kebijakan tarif timbal balik yang diluncurkan oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada 1 Agustus 2025, yang merupakan kelanjutan dari janji yang diumumkannya sejak April lalu, membawa dampak yang luas bagi perekonomian global, nilai dolar AS, dan arah investasi. Langkah ini mendorong banyak negara untuk mengevaluasi kembali strategi perdagangannya, di mana sebagian besar negara di Asia hanya terkena tarif di bawah 20 persen. Meskipun demikian, ketidakpastian besar masih menyelimuti rincian kesepakatan dan langkah-langkah selanjutnya, yang diperkirakan akan memicu perlambatan ekonomi global dan AS di paruh kedua tahun ini.

Heng Koon How, Head of Markets Strategy UOB, menjelaskan bahwa dampak paling signifikan dari kebijakan tarif ini justru akan terasa dalam jangka panjang. Ia memprediksi nilai Dolar AS akan tertekan karena negara-negara akan mengurangi ketergantungan pada pasar AS. “Dampak yang lebih besar bagi Dolar AS justru akan terasa dalam jangka panjang. Penerapan tarif akan mendorong negara-negara untuk memutar arah perdagangan, mengurangi ketergantungan pada pasar AS, dan menurunkan penggunaan dolar dalam transaksi global, yang jelas akan menjadi tekanan negatif bagi nilainya,” ujar Heng Koon How, seperti yang dikutip dari keterangan tertulis yang diterima CNBC Indonesia, Kamis (14/8/2025).

Meski Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick menyatakan tarif yang berlaku sudah final, banyak pihak meyakini negosiasi masih akan terus berlanjut. Ini terutama terlihat dalam perundingan dagang antara AS dan Tiongkok, yang belum mencapai titik terang dan akan diperpanjang 90 hari lagi. Isu sensitif seperti akses teknologi dan ekspor sumber daya alam menjadi sorotan. Menurut perhitungan Peterson Institute for International Economics (PIIE), rata-rata tarif AS atas impor dari Tiongkok saat ini mencapai 54,9 persen, sementara Tiongkok mematok tarif 32,6 persen untuk impor dari AS.

Di samping itu, kesepakatan dagang dengan negara-negara besar lainnya seperti India, Kanada, dan Brasil terhambat oleh masalah geopolitik. Beberapa perjanjian yang sudah disepakati juga mengandung komitmen investasi besar-besaran ke AS, misalnya US350miliardariKoreaSelatan,US550 miliar dari Jepang, dan US$600 miliar dari Uni Eropa. Namun, Heng Koon How menambahkan, “masih banyak pertanyaan soal cara penerapan tarif untuk kategori barang tertentu, seperti ‘tarif Sektor 232’ untuk industri otomotif, semikonduktor, dan farmasi, serta ‘tarif transshipment’ untuk barang yang dianggap dialihkan melalui negara ketiga demi menghindari bea masuk.”

Di tengah kerumitan tersebut, ekonomi AS dan global berada di persimpangan. Meskipun paruh pertama tahun ini berjalan cukup baik, dengan PDB Singapura tumbuh 4,2 persen dan Taiwan naik hampir 8 persen, banyak otoritas memperingatkan bahwa efek tarif yang lebih tinggi akan mulai terasa. Indeks PMI manufaktur resmi Tiongkok, misalnya, telah turun menjadi 49,3 pada Juli, menunjukkan perlambatan mulai terjadi.

Berita Menarik Pilihan

Pramono Terbitkan Pergub Efisiensi Energi dan Air Hadapi Perubahan Iklim

Fokus Investor Terhadap Saham Energi dan Telekomunikasi, Dominasi Perdagangan di BEI

Terkait dengan Dolar AS, Heng Koon How memperkirakan The Fed akan kembali memangkas suku bunga pada pertemuan FOMC September. Hal ini didasarkan pada laporan tenaga kerja non-pertanian (NFP) Juli yang mengecewakan, dengan rata-rata pertambahan lapangan kerja yang stagnan. Pemangkasan suku bunga ini, ditambah dengan kekhawatiran utang AS yang membengkak, akan menekan nilai Dolar AS lebih dalam. Secara struktural, kebijakan tarif tinggi AS mendorong negara-negara lain untuk mengurangi risiko dengan memindahkan rantai pasok dan memperkuat perdagangan intra-regional, yang berpotensi mempercepat proses dedolarisasi.

Dengan demikian, Heng Koon How memperkirakan Indeks Dolar AS (DXY) akan turun menuju 97 di akhir tahun dan 95 pada pertengahan tahun depan. Di sisi lain, aset safe haven seperti emas diprediksi akan menguat hingga US$3.700 per ons. Heng Koon How menutup analisisnya dengan sebuah pernyataan yang menarik: “Presiden Trump mungkin akan dikenang karena slogan Make America Great Again. Namun, untuk membuat Dolar AS kembali berjaya, itu sepertinya bukan cerita yang akan terjadi dalam waktu dekat.”

Tags: dedolarisasidolar ASDXYekonomi globalemasHeng Koon Howperang dagangPIIEPMI ManufakturtarifThe FedtrumpUOB
Post Sebelumnya

Dalam Satu Dekade Gaji PNS Hanya Naik Tiga Kali

Post Selanjutnya

Trump Dorong Rusia Kembali di Piala Dunia 2026

Ray

Ray

Berita Terkait

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung bersama Inspektorat DKI Jakarta Dhany Sukma. (Foto: Ridwansyah/ekoin.co)

Pramono Terbitkan Pergub Efisiensi Energi dan Air Hadapi Perubahan Iklim

oleh Noval Verdian
7 Februari 2026
0

Jakarta, Ekoin.co - Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung menerbitkan Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 5 Tahun 2026 tentang Efisiensi Energi dan...

BEI Hentikan Sementara Perdagangan Saham BLUE dan ENZO di Seluruh Pasar

Fokus Investor Terhadap Saham Energi dan Telekomunikasi, Dominasi Perdagangan di BEI

oleh Akmal Solihannoer
7 Februari 2026
0

Jakarta, Ekoin.co - Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) diproyeksikan bergerak positif dengan fokus investor tertuju pada saham sektor...

Proses pembongkaran salah satu struktur beton tiang monorel di Jalan HR Rasuna Said, Jakarta. Gubernur Pramono Anung menargetkan percepatan pengerjaan guna segera memulai penataan pedestrian dan taman di kawasan strategis Kuningan. (Foto: Istimewa)

Belasan Tahun Mangkrak, Tiang Beton Monorel di Jantung Jakarta Akhirnya Mulai Dibersihkan

oleh Hasrul Ekoin
6 Februari 2026
0

“Setelah melihat kondisi lapangan, pengerjaan harus dipercepat. Sekarang bisa empat hingga lima tiang sehari,” kata Pramono di Hotel Aryaduta Menteng,...

DPRD mendorong Pemprov DKI untuk tetap fokus pada pengentasan kemiskinan dan layanan dasar meski tengah menghadapi tantangan stabilitas fiskal daerah. (Foto: Humas DPRD DKI/Ekoin.co)

Jakarta Membaik tapi Masih Timpang, Yuke Yurike Soroti Kesenjangan Antargenerasi yang Lebar

oleh Hasrul Ekoin
6 Februari 2026
0

Ia menilai perencanaan program daerah tidak bisa berjalan parsial, melainkan harus dikunci agar sejalan dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional...

Post Selanjutnya
Trump Dorong Rusia Kembali di Piala Dunia 2026

Trump Dorong Rusia Kembali di Piala Dunia 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

EKOIN.CO

EKOIN.CO - Media Ekonomi Nomor 1 di Indonesia

  • REDAKSI
  • IKLAN
  • MEDIA CYBER
  • PETA SITUS
  • KEBIJAKAN PRIVASI
  • PERSYARATAN LAYANAN
  • KODE ETIK JURNALISTIK

© 2025 EKOIN.CO
Media Ekonomi No. 1 di Indonesia
Developed by logeeka.id.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • BERANDA
  • EKOBIS
    • EKONOMI
    • KEUANGAN
    • INDUSTRI
    • INFRASTRUKTUR
    • PERTANIAN
    • PROPERTI
    • UMKM
    • PROFIL
    • ENERGI
  • PERISTIWA
    • INTERNASIONAL
    • NASIONAL
    • MEGAPOLITAN
    • KRIMINAL
    • OPINI
    • SOSIAL
    • BREAKING NEWS
    • LINGKUNGAN
  • POLKUM
    • POLITIK
    • HUKUM
    • LIPUTAN KHUSUS
    • CEK FAKTA
    • BERITA FOTO
    • BERITA VIDEO
  • HIBURAN
    • KEGIATAN
    • DESTINASI
    • KESEHATAN
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SELEBRITI
    • MUSIK
  • RAGAM
    • EBOOK
    • EDUKASI
    • HIKMAH
    • SENI & BUDAYA
    • TIPS
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI

© 2025 EKOIN.CO
Media Ekonomi No. 1 di Indonesia
Developed by logeeka.id.