Jakarta, EKOIN.CO – Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 6 persen pada tahun 2026. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut target ini realistis dengan dukungan kebijakan fiskal dan program pemulihan yang tengah digulirkan. Paket Ekonomi 2025 disebut akan menjadi pijakan penting dalam mempercepat akselerasi, termasuk pemanfaatan sektor hulu migas sebagai penopang utama.
[Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v]
Menurut Purbaya, stabilitas fiskal, keberlanjutan investasi, serta dorongan konsumsi domestik menjadi faktor kunci dalam menjaga arah pertumbuhan. “Pemerintah ingin memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak hanya tinggi, tetapi juga inklusif,” ujarnya.
Migas Jadi Penopang Ekonomi
Sektor hulu migas diprediksi menjadi salah satu motor pertumbuhan ekonomi nasional. ReforMiner Institute menilai kontribusi energi fosil masih signifikan terhadap PDB, khususnya melalui ekspor, penerimaan negara, dan investasi. Dengan pengelolaan yang tepat, sektor ini dapat memperkuat fondasi fiskal.
Direktur Eksekutif ReforMiner, Komaidi Notonegoro, menuturkan bahwa pemerintah perlu menciptakan iklim investasi migas yang lebih kompetitif agar target pertumbuhan dapat tercapai. “Sektor hulu migas masih memegang peran penting, karena kontribusinya terhadap penerimaan negara tidak kecil,” jelasnya.
Pemerintah juga tengah mendorong eksplorasi blok-blok baru untuk menjaga kesinambungan produksi. Langkah ini diharapkan mampu menyeimbangkan kebutuhan energi domestik sekaligus meningkatkan ekspor.
Strategi Pemerintah Capai Pertumbuhan
Selain sektor migas, pemerintah menyiapkan strategi lain untuk menopang target pertumbuhan ekonomi. Purbaya menegaskan, Paket Ekonomi 2025 akan fokus pada peningkatan produktivitas industri, dukungan digitalisasi, serta program ketahanan pangan dan energi.
Pemerintah berkomitmen memperluas insentif investasi dan mempercepat pembangunan infrastruktur. Langkah ini diharapkan menarik minat investor asing, sekaligus memperkuat daya saing Indonesia di kancah global.
Dalam kerangka makroekonomi, konsumsi rumah tangga masih menjadi tulang punggung, disusul peningkatan belanja pemerintah yang diarahkan pada sektor prioritas. Purbaya menambahkan, sektor manufaktur dan jasa digital juga memiliki potensi besar dalam mendorong pertumbuhan.
Sementara itu, penguatan UMKM dan stabilitas moneter tetap menjadi perhatian. Bank Indonesia bersama Kementerian Keuangan menjaga inflasi agar terkendali, sehingga daya beli masyarakat tidak melemah.
ReforMiner menilai, kombinasi antara pengelolaan migas, kebijakan fiskal yang solid, dan pertumbuhan sektor non-migas akan memperkuat prospek Indonesia mencapai target ambisius tersebut.
Target pertumbuhan ekonomi 6 persen pada 2026 mencerminkan optimisme pemerintah terhadap keberlanjutan pembangunan nasional.
Kontribusi sektor migas diyakini tetap vital, meski transisi energi sedang berlangsung secara bertahap.
Kebijakan fiskal, insentif investasi, dan penguatan konsumsi domestik menjadi strategi kunci dalam menjaga momentum.
ReforMiner menekankan pentingnya iklim investasi migas yang lebih menarik demi menjaga penerimaan negara.
Dengan koordinasi lintas sektor dan penguatan kebijakan, pemerintah optimistis Indonesia mampu mencapai pertumbuhan berkelanjutan. (*)
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v





