Jayapura EKOIN.CO – Gelombang pengungsi di Papua terus bertambah seiring meningkatnya operasi keamanan dan konflik bersenjata di beberapa wilayah pegunungan. Data terakhir mencatat lebih dari 97.700 orang terpaksa meninggalkan kampung halaman mereka, termasuk warga pendatang yang ketakutan dengan kondisi tidak stabil. Berlangganan gratis WA Channel EKOIN di sini.
Human Rights Monitor melaporkan bahwa pengungsian terbesar terjadi di Intan Jaya, Puncak, Yahukimo, dan Pegunungan Bintang. Desa-desa seperti Hitadipa di Intan Jaya serta Sinak di Puncak kini kosong ditinggalkan warganya. “Kami tidak bisa lagi tinggal di sana karena suara tembakan terus terdengar. Anak-anak trauma, kami hanya ingin selamat,” ujar seorang pengungsi yang diwawancarai tim kemanusiaan.
Konflik dan Dampak Pengungsi di Papua
Gelombang pengungsi tidak hanya dipicu bentrokan antara aparat keamanan dan kelompok bersenjata TPNPB, tetapi juga karena operasi militer yang menyasar wilayah sekitar desa. Laporan menyebutkan adanya serangan udara, penggunaan drone, hingga pembakaran rumah warga di beberapa distrik. Kondisi ini membuat warga kehilangan rasa aman.
Jumlah pengungsi terus meningkat sejak awal 2025, ketika operasi keamanan diperluas di wilayah Intan Jaya. Dari Nabire, Timika, hingga Jayapura, ribuan orang berlindung di gereja, sekolah, dan rumah kerabat. Situasi ini menyebabkan beban tambahan pada fasilitas umum dan logistik kota yang menampung mereka.
Kondisi semakin berat bagi warga pendatang yang memiliki usaha kecil, seperti kios atau warung makan. Banyak di antara mereka menutup tempat usaha karena takut menjadi sasaran. Di Oksibil, Pegunungan Bintang, sebagian kios hanya beroperasi setengah hari. “Kami buka sebentar saja untuk melayani warga, setelah itu tutup. Kami takut sewaktu-waktu ada kerusuhan,” ujar seorang pedagang pendatang kepada media lokal.
Di sisi lain, warga asli Papua juga menghadapi trauma berkepanjangan. Anak-anak banyak yang tidak bersekolah karena bangunan pendidikan rusak atau digunakan sebagai pos sementara. Fasilitas kesehatan pun terbatas, sehingga pengungsi kesulitan mendapatkan layanan medis.
Tantangan Kemanusiaan dan Perlindungan Pengungsi
Akses bantuan bagi pengungsi Papua masih terbatas. Organisasi kemanusiaan melaporkan kesulitan menjangkau wilayah pedalaman karena blokade, ancaman keamanan, dan minimnya transportasi. Situasi ini memperburuk kondisi gizi dan kesehatan ribuan orang yang kini bergantung pada bantuan darurat.
“Ribuan warga hidup dalam ketidakpastian. Mereka butuh tempat aman, makanan, dan layanan kesehatan. Pemerintah harus segera membuka akses bantuan,” kata seorang relawan kemanusiaan yang bertugas di Nabire.
Kebutuhan mendesak meliputi tenda, air bersih, pakaian, hingga perlindungan khusus bagi anak-anak dan perempuan. Banyak pengungsi bertahan hanya dengan bekal seadanya setelah melarikan diri dari desa mereka.
Sementara itu, pemerintah daerah Papua berjanji memperkuat koordinasi dengan aparat keamanan dan lembaga kemanusiaan untuk menangani situasi. Namun, akses informasi sering kali tertutup sehingga data jumlah pengungsi tidak selalu akurat.
Gelombang pengungsi di Papua memperlihatkan krisis kemanusiaan yang semakin serius. Konflik berkepanjangan tidak hanya memukul kehidupan warga asli, tetapi juga pendatang yang mencari nafkah di daerah tersebut.
Jumlah pengungsi yang terus bertambah menandakan perlunya perhatian cepat dari pemerintah pusat maupun daerah. Keterlambatan penanganan berpotensi menimbulkan masalah sosial dan ekonomi yang lebih besar.
Kondisi fasilitas umum yang rusak memperburuk penderitaan masyarakat. Pendidikan anak-anak terhenti, pelayanan kesehatan terganggu, dan ekonomi lokal lumpuh.
Solidaritas antarwarga sangat penting untuk meredakan ketegangan. Masyarakat pendatang dan asli Papua harus saling melindungi agar tidak terjebak dalam spiral kekerasan.
Penanganan jangka panjang harus melibatkan dialog damai dan pembangunan berkelanjutan agar pengungsi dapat kembali dengan rasa aman dan bermartabat. (*)
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v





