Yalimo, EKOIN.CO – Tiga orang tewas dan belasan lainnya luka-luka dalam kerusuhan Papua yang mengguncang Elelim, ibu kota Kabupaten Yalimo, Papua Pegunungan, pada Selasa, 16 September 2025. Peristiwa itu juga memaksa ratusan warga mengungsi ke Wamena demi menyelamatkan diri.
Menurut data Kepolisian, korban luka mencapai 18 orang, termasuk di antaranya aparat TNI dan Polri yang mencoba melerai bentrokan. Sejumlah fasilitas umum, kendaraan, serta bangunan juga mengalami kerusakan. Bahkan kendaraan bermotor milik Polres Yalimo ikut dibakar massa yang terprovokasi.
Kapolda Papua, Irjen Pol Mathius D. Fakhiri, menegaskan aparat terus berupaya menenangkan situasi di Elelim. “Kami meminta masyarakat Yalimo agar tetap tenang dan tidak terprovokasi isu yang berkembang. Aparat sedang mengamankan lokasi dan memastikan bantuan bagi korban,” ujarnya.
Dampak Kerusuhan Papua Terhadap Warga
Kerusuhan Papua di Yalimo bermula dari percekcokan antar pelajar SMA Negeri 1 Elelim. Perselisihan itu kemudian menyebar ke masyarakat dan berkembang menjadi isu SARA (suku, agama, ras, dan golongan). Konflik yang semula terbatas akhirnya berubah menjadi kerusuhan luas.
Akibat bentrokan, sekitar 600 warga mengungsi dari Elelim menuju Wamena. Mereka memilih meninggalkan rumah karena khawatir akan keselamatan keluarga. Pemerintah daerah dan aparat keamanan kini memfasilitasi tempat penampungan sementara serta menyalurkan bantuan darurat.
Korban tewas langsung dievakuasi ke rumah sakit rujukan. Sementara korban luka parah dilarikan ke Wamena dan Jayapura untuk mendapat perawatan medis lanjutan. Situasi ini membuat layanan kesehatan setempat meningkat tajam, mengingat banyaknya warga yang terluka.
Kerusakan juga terlihat jelas di pusat kota Elelim. Beberapa rumah warga, kendaraan roda dua dan empat, hingga fasilitas pemerintahan menjadi sasaran amukan massa. Sejumlah aparat terlihat berjaga di titik-titik rawan bentrokan untuk mencegah kerusuhan Papua meluas.
Langkah Aparat dan Penanganan Pasca Rusuh
Polda Papua menurunkan tambahan pasukan guna memperkuat pengamanan di Elelim. Polres sekitar Yalimo turut dilibatkan untuk mempercepat pemulihan kondisi. “Prioritas utama adalah menjaga keselamatan warga dan menekan potensi konflik lanjutan,” tegas Irjen Fakhiri.
Selain langkah pengamanan, pemerintah daerah bekerja sama dengan TNI-Polri untuk distribusi logistik. Bahan makanan, air bersih, dan obat-obatan menjadi kebutuhan mendesak di lokasi pengungsian. Warga berharap penanganan cepat agar aktivitas dapat kembali normal.
Tokoh masyarakat Papua mengimbau agar masyarakat tidak lagi memperluas konflik. Ketua Dewan Adat Yalimo menyatakan, “Anak-anak sekolah jangan dijadikan alasan untuk perpecahan. Mari kita pulihkan Yalimo dengan damai.”
Kerusuhan Papua kali ini menyoroti rapuhnya situasi keamanan di wilayah pegunungan. Isu kecil dapat melebar cepat dan memicu kekerasan. Aparat menekankan pentingnya komunikasi antarwarga serta keterlibatan tokoh adat untuk mencegah konflik serupa.
Pemerintah pusat juga memantau langsung perkembangan di Yalimo. Kementerian Dalam Negeri berkoordinasi dengan Pemprov Papua Pegunungan untuk mengupayakan solusi jangka panjang. Salah satunya adalah pendekatan dialog dengan tokoh masyarakat dan gereja setempat.
Kondisi terkini di Elelim berangsur tenang, meski aparat tetap bersiaga. Jalan utama menuju kota dijaga ketat guna mencegah pihak luar masuk tanpa kontrol. Sementara aktivitas sekolah masih diliburkan hingga situasi benar-benar kondusif.
Kerusuhan Papua di Yalimo menelan korban jiwa dan mengungsi massal. Tiga warga meninggal dunia, 18 orang terluka, serta ratusan orang meninggalkan rumah untuk mengamankan diri.
Bentrok yang dipicu pertikaian pelajar menunjukkan rentannya stabilitas sosial di daerah pegunungan Papua. Isu SARA memperparah situasi hingga menimbulkan kerusuhan besar.
Aparat dan pemerintah kini fokus memulihkan keamanan. Langkah darurat meliputi evakuasi korban, penanganan medis, serta distribusi bantuan bagi pengungsi.
Tokoh adat dan masyarakat diimbau berperan aktif mencegah konflik berulang. Komunikasi damai antarwarga menjadi kunci untuk menjaga keharmonisan.
Diharapkan, pengalaman pahit kerusuhan Papua ini menjadi pembelajaran agar langkah antisipasi lebih kuat diterapkan di masa mendatang. (*)
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v





