Jakarta, Ekoin.co – Pasar aset digital kembali diguncang aksi jual masif yang memaksa Bitcoin (BTC) keluar dari zona nyamannya.
Level psikologis US$ 90.000 yang selama ini menjadi sandaran para pemegang aset, resmi runtuh pada perdagangan Rabu (21/1/2026).
Sentimen negatif yang menyelimuti pasar keuangan global menyeret mata uang kripto terbesar ini ke titik terendah di kisaran US$ 87.000 menurut data CoinMarketCap.
Kejatuhan ini tidak terjadi di ruang hampa, melainkan dipicu oleh eskalasi ketegangan geopolitik yang kian meruncing.
Kekhawatiran pasar memuncak menyusul ancaman perang tarif Amerika Serikat (AS) terhadap blok Eropa, ditambah tekanan diplomatik Washington kepada Denmark perihal wilayah Greenland.
Di saat yang bersamaan, pasar obligasi Jepang yang bergejolak memperburuk keadaan, memicu aksi risk-off besar-besaran di mana investor berbondong-bondong melepas aset berisiko untuk menyelamatkan likuiditas mereka.
Dampak dari ketidakpastian ini merembet jauh hingga ke jantung bursa saham dunia. Indeks utama di Wall Street, yakni S&P 500 dan Nasdaq, harus rela ditutup dengan koreksi tajam lebih dari dua persen.
Kontras dengan aset berisiko, emas justru kembali bersinar sebagai aset lindung nilai utama di tengah badai ekonomi yang melanda pasar obligasi dan instrumen derivatif lainnya.
Merespons kondisi tersebut, Vice President Indodax, Antony Kusuma, menegaskan bahwa fenomena ini menjadi bukti nyata betapa eratnya kaitan ekosistem kripto dengan dinamika makroekonomi saat ini.
Menurutnya, Bitcoin tidak lagi bergerak secara terisolasi. Saat tensi geopolitik meningkat dan kebijakan perdagangan dunia menjadi tidak menentu, instrumen berisiko akan mengalami koreksi kolektif sebagai dampak langsung dari penyesuaian portofolio investor global yang dilanda kepanikan jangka pendek.
Antony mencermati bahwa volatilitas tinggi dan lonjakan volume perdagangan yang terjadi saat ini merupakan respons terhadap variabel eksternal, bukan karena adanya perubahan fundamental dalam teknologi Bitcoin itu sendiri.
Ia menyoroti peran investor institusional yang kini memandang Bitcoin sebagai bagian dari kelas aset global, sehingga menjadikannya jauh lebih sensitif terhadap isu suku bunga dan likuiditas global dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Maturasi pasar kripto memang membawa konsekuensi pada integrasi yang lebih dalam dengan sistem keuangan konvensional.
Meskipun koreksi tajam seringkali datang beriringan dengan guncangan makro, Antony mengingatkan para pelaku pasar untuk tetap memiliki perspektif jangka panjang.
Investor diharapkan tetap disiplin dalam melakukan riset mandiri (DYOR) dan tidak terjebak dalam perilaku impulsif seperti fear of missing out (FOMO) di tengah gejolak harga yang ekstrem. Ketahanan psikologis pemodal kini tengah diuji di tengah arus global yang bergerak sangat dinamis.





