Aceh Utara, Ekoin.co – Pemerintah Kabupaten Aceh Utara memperkirakan kebutuhan anggaran rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana banjir bandang dan longsor mencapai Rp27,5 triliun.
Perkiraan tersebut bersumber dari dokumen awal kajian kerusakan dan dampak bencana yang menunjukkan kerusakan meluas di berbagai sektor strategis.
Estimasi kebutuhan anggaran itu mengemuka dalam rapat finalisasi dokumen Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (R3P) yang dipimpin langsung Bupati Aceh Utara Ismail A. Jalil, yang akrab disapa Ayahwa, bersama unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) di Pendopo Bupati Aceh Utara, Rabu (21/1/2026).
Rapat tersebut dihadiri unsur kepolisian, TNI, DPRK Aceh Utara, perwakilan BNPB, kejaksaan, jajaran pemerintah daerah, camat, serta perangkat daerah terkait.
Berdasarkan paparan dalam rapat, bencana banjir berdampak signifikan terhadap infrastruktur, perumahan dan permukiman warga, sektor ekonomi, sosial, serta layanan publik lintas sektor.
Skala kerusakan dinilai membutuhkan dukungan pembiayaan besar untuk pemulihan jangka menengah hingga panjang.
Meski demikian, kondisi lapangan mulai menunjukkan perbaikan. Masa tanggap darurat bencana dijadwalkan berakhir pada 24 Januari 2026 dan akan dievaluasi lebih lanjut sesuai perkembangan situasi serta hasil verifikasi data di lapangan.
Dokumen R3P direncanakan segera disepakati dan ditandatangani bersama Forkopimda sebagai dasar perencanaan awal rehabilitasi dan rekonstruksi, dengan catatan akan terus diperbarui seiring proses validasi lanjutan.
Bupati Aceh Utara menginstruksikan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bersama tim lintas unsur untuk mempercepat verifikasi dan pemutakhiran data rumah warga terdampak banjir agar bantuan tepat sasaran.
Seluruh organisasi perangkat daerah juga diminta mengoptimalkan kembali pelayanan publik pada masa transisi pascabencana, terutama di sektor kesehatan, pendidikan, dan fasilitas ibadah, serta mengaktifkan kembali gotong royong aparatur sipil negara.
Pemkab Aceh Utara telah menyerahkan data tahap kedua sebanyak 98.995 rumah rusak kepada BNPB, menyusul penyerahan tahap pertama sebanyak 2.865 rumah pada akhir Desember 2025.
Data tersebut kini diverifikasi secara faktual oleh tim BNPB dengan pendekatan by name by address. Hasil verifikasi akan menentukan kategori tingkat kerusakan rumah dan skema bantuan yang akan diberikan.
Bencana banjir bandang yang terjadi pada 26 November 2025 menelan korban jiwa sebanyak 345 orang di Aceh Utara, dengan enam orang hingga kini masih dilaporkan hilang, menjadikannya salah satu bencana dengan korban terbesar di wilayah Sumatera.





