Militer AS Bombardir Kapal Ranjau Iran di Selat Hormuz, Harga Minyak Terbang Tinggi
Jakarta, Ekoin.co – Eskalasi konflik Iran vs AS – Israel makin memanas. Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) merilis telah menghancirkan belasan kapal ranjau Iran di Selat Hormuz.
Klaim penghancuran kapal ranjau Iran juga disampaikan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Trump lewat platform Truth Social miliknya mengatakan bahwa pasukannya telah menghancurkan 10 kapal Iran yang digunakan untuk menebar ranjau di Selat Hormuz.
Tindakan tersebut terjadi hanya beberapa menit setelah Trump memperingatkan bahwa Iran akan menghadapi konsekuensi militer yang belum pernah terjadi sebelumnya, jika tidak menyingkirkan ranjau dari jalur pelayaran tersebut.
“Kami telah menghantam dan sepenuhnya menghancurkan 10 kapal dan/atau perahu penebar ranjau yang tidak aktif, dan masih akan ada lagi,” tulis Trump di platform Truth Social miliknya, Rabu (11/3).
Senada juga disampaikan Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth. Dia mengatakan Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) telah menghancurkan kapal-kapal tersebut “dengan presisi brutal” atas arahan dari Trump.
“Kami tidak akan membiarkan teroris menyandera Selat Hormuz,” tulis Hegseth di platform media sosial X.
Dia pun menambahkan bahwa Iran telah secara resmi diberi peringatan.
Serangan tersebut terjadi usai muncul laporan bahwa Iran mulai memasang ranjau di selat tersebut.
Pejabat AS mengatakan Teheran menggunakan kapal kecil yang masing-masing membawa dua hingga tiga ranjau. Namun, Trump mencatat bahwa AS tidak memiliki laporan bahwa Iran benar-benar telah menempatkan ranjau di jalur pelayaran itu.
Trump mengatakan AS akan menggunakan teknologi rudal serupa, yang pernah dipakai untuk menghancurkan kapal penyelundup narkoba di Karibia untuk menargetkan kapal apa pun yang mencoba memasang ranjau di selat tersebut.
Dampak ketegangan di Selat Hormuz langsung terasa pada ekonomi global. Harga minyak mentah melonjak 5% pada Selasa malam, sempat menyentuh angka di atas US$ 100 per barel. Gejolak ini menjadi risiko politik besar bagi Trump menjelang pemilihan umum AS.
Selat Hormuz merupakan jalur maritim sangat penting, dengan lebih dari 20 juta barel minyak dan produk minyak bumi yang lewat setiap hari. Jumlah tersebut mencakup sekitar 20 persen dari konsumsi global. (*)























Tinggalkan Balasan