Taheran, Ekoin.co – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat setelah Iran secara resmi mengungkap jaringan terowongan rudal bawah laut berskala besar yang diklaim mampu menampung ratusan rudal jelajah jarak jauh.
Fasilitas rahasia ini disebut siap diaktifkan kapan saja apabila kedaulatan Teheran berada dalam ancaman.
Komandan Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Alireza Tangsiri, memamerkan keberadaan fasilitas tersebut melalui siaran televisi pemerintah Iran pada Kamis (29/1/2026).
Rekaman yang ditayangkan memperlihatkan deretan rudal canggih yang tersimpan rapi di lorong bawah laut, diklaim dirancang untuk menghadapi kekuatan armada Amerika Serikat (AS) di kawasan Teluk Persia dan Laut Oman.
Dalam kesempatan tersebut, Iran juga memperkenalkan rudal jelajah andalan terbarunya, Qader 380 L, yang diproduksi secara mandiri oleh teknisi IRGC.
Rudal ini disebut memiliki jangkauan lebih dari 1.000 kilometer dan dilengkapi sistem pemandu cerdas yang mampu melacak serta mengunci target laut secara presisi.
IRGC mengklaim ratusan unit rudal tersebut kini tersimpan di jaringan terowongan bawah laut yang sulit terdeteksi radar.
“Kemampuan pertahanan kami terus berkembang. Pasukan Iran siap menghadapi ancaman apa pun, pada tingkat apa pun, dan di wilayah geografis mana pun,” tegas Tangsiri dalam pernyataannya.
Pengungkapan ini dibarengi peringatan keras terkait keamanan Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi nadi utama pasokan energi dunia.
Selat sempit tersebut dilalui sekitar 21 juta barel minyak per hari, setara hampir 37 persen dari total lalu lintas minyak mentah global melalui jalur laut.
Wakil Politik Angkatan Laut IRGC, Mohammad Akbarzadeh, menegaskan bahwa Iran kini menguasai Selat Hormuz secara menyeluruh, baik di udara, permukaan laut, maupun bawah laut.
Ia menekankan bahwa negaranya tidak berniat memicu konflik, namun siap menghadapi segala skenario.
“Iran tidak mencari perang, tetapi kami sepenuhnya siap. Kami mampu melacak setiap kapal yang melintas, di bawah bendera apa pun, dengan teknologi modern yang kami miliki,” ujar Akbarzadeh.
Pernyataan tersebut langsung memicu kekhawatiran di pasar energi global.
Para analis memperingatkan, gangguan sekecil apa pun di Selat Hormuz berpotensi memicu lonjakan tajam harga minyak dunia, mengingat sekitar seperlima konsumsi minyak global bergantung pada jalur vital tersebut.





