Jakarta, Ekoin.co – Jumlah pengangguran di Indonesia masih menjadi pekerjaan rumah besar. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat hingga November 2025 terdapat 7,35 juta orang belum terserap pasar kerja — angka yang menunjukkan tekanan ketenagakerjaan belum benar-benar mereda.
Data terbaru BPS memperlihatkan ketimpangan yang masih nyata. Tingkat pengangguran laki-laki berada di angka 4,75 persen, sedikit lebih tinggi dibanding perempuan yang mencapai 4,71 persen. Namun jurang paling mencolok terlihat antara wilayah kota dan desa.
Kawasan perkotaan mencatat pengangguran 5,65 persen, jauh di atas pedesaan yang berada di level 3,31 persen.
Kelompok usia muda menjadi titik paling rawan. Pengangguran pada rentang usia 15–24 tahun menembus 16,26 persen — sinyal kuat bahwa lulusan baru masih kesulitan menembus dunia kerja.
Situasi ini mempertegas persoalan transisi pendidikan ke industri yang belum berjalan mulus.
Ironisnya, lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) justru mencatat tingkat pengangguran tertinggi, yakni 8,45 persen.
Padahal pendidikan vokasi dirancang untuk langsung menyerap tenaga kerja. Sebaliknya, kelompok berpendidikan SD ke bawah mencatat tingkat pengangguran paling rendah sebesar 2,29 persen, menggambarkan dinamika pasar kerja yang tidak selalu linear dengan jenjang pendidikan.
Secara wilayah, Papua menjadi provinsi dengan tingkat pengangguran tertinggi sebesar 7,08 persen.
Jawa Barat menyusul di posisi kedua dengan 6,66 persen, diikuti Banten, Papua Barat Daya, dan Kepulauan Riau. Sejumlah provinsi lain seperti DKI Jakarta, Maluku, Sulawesi Utara, Aceh, hingga Sumatra Barat juga masuk daftar daerah dengan tekanan ketenagakerjaan tinggi.
Angka-angka ini menegaskan tantangan besar pemerintah dalam memperluas lapangan kerja, memperkuat link and match pendidikan dengan industri, serta memastikan pertumbuhan ekonomi benar-benar mampu menyerap tenaga kerja produktif.





